Yusriandi Pagarah
Rembulan masih tegak tali di petala langit. Semilir angin dinihari mengalirkan dingin ke tulang sungsum. Kumpulan burung malam berarak bersigegas pulang ke sarang. Tak lama antaranya, kokok ayam jantan terdengar bersahut-sahutan. Iramanya merdu bak teatrikal ritual balas pantun menyambut datang pagi.
Lamat-lamat dari ufuk timur terpampang pemandangan dinihari yang aduhai. Fajar pagi mempertontonkan keindahan alam yang tak pernah lusuh dikudap waktu. Pusung di tangan kanan penduduk yang akan melakukan perjalanan ke kampung yang jauh tampak berkelip-kelipan diusik nakal angin pagi. Azan Subuh pemuda tanggung dari Masjid Al-Ikhlas mendakik parau menambah riuhnya suasana pagi.
Samar-samar puncak gunung Mintorogo di selatan dusun mulai kelihatan aib tubuhnya. Selimut tebal kabut pagi pelan-pelan lenyap entah menepi ke mana. Hanya menitipkan ruyak tukak pada perut dan tengkuk gunung melepuh. Perlahan seanteran kaki gunung memamerkan wajah aslinya yang tak asri. Sekujur badannya terlihat penuh tempelan tak rapi.
Saban pagi sepanjang kaki bukit Prambanan ini memamerkan panorama rerantingan meranggas dan keramas pagi dedaunan dari sisa tetes embun semalam. Karena mengharap hujan tidak lagi mungkin di siklus musim yang telah beralih haluan. Lengkap dengan tebaran debunya yang mengganjal pernapasan.
Sungai Kalinongko yang membelah dua dusun tidak sanggup lagi menghanyutkan diri. Dendang gemericik air sungai bak gelak berderai gadis kasmaran telah lama hilang dari gendang telinga seisi dusun. Sungai di utara dusun yang melewati desa Kerten kabupaten Klaten juga kepayahan menghilirkan badan. Hanya membujur kaku di hadapan deraan musim kerontang yang belum tertebak tapal perhentiannya.
Penduduk Kalinongko Lor telah sedari sore merancang langkah esok hari. Bangun di saat tidur belum pulas. Saat mimpi semalam masih saja terbengkalai. Matahari belum berhasil menembus pagar betis deretan kayu jati dan mahoni, pengawal dusun yang baru beberapa tahun ini mulai tumbuh cabang-cabang kurusnya. Tapi penduduk dusun telah berangkat menjalankan guratan tangan masing-masing. Saban pagi jalan aspal yang tidak terlalu mulus dan tidak terlalu lebar itu sangat ramai. Rerumputan liar di kiri dan kanan jalan keperakan disepuh matahari pagi.
Iring-iringan penduduk turun dari kaki bebukitan tumpah-blek di satu tempat. Arak-arakan mereka seperti kumpulan orang yang terbuang dari kampung halaman sendiri. Jelas terbias di wajah mereka aura harap cemas meraraukan sesuatu. Rerombongan anak berseragam sekolah bersepeda ontel berbaur dengan barisan panjang ibu-ibu yang membawa bakul ke pasar tradisional Menggah yang ramai hingga matahari sepenggalah.
Ke pasar ini sebagian besar hasil bumi yang cocok dengan kondisi alam yang tandus dibawa penduduk. Kemudian diganti dengan kebutuhan penduduk sehari-hari. Di pasar ini setiap hari tersedia colt penumpang dengan trayek dari dan ke kota kecamatan yang beroperasi jelang Ashar. Juga terdapat pangkalan ojek yang melayani segala penjuru sampai ke kampung-kampung tersuruk di kaki bebukitan.
Siang hari suasana dusun ditikam sepi. Suasana pagi yang pikuk amat kontras dengan suasana siang yang lengang tak berpenghuni. Sayup-sayup dari jejauhan terdengar gelak riang murid sekolah dasar yang sedang jeda istirahat. Atau deru mesin gilingan padi yang amat hampir jaraknya dengan bantaran sungai. Sejauh pandangan ditukikkan ke hamparan petak sawah tampak petani sedang bercengkrama dengan tanaman yang nanar disengat matahari. Bila mata diarahkan ke bebukitan menjulang akan silau berhadapan dengan pantulan matahari siang yang tumpah di bukit tandus. Hembusan pelan angin bebukitan menggugurkan dedaunan kering. Juga sejukkan kulit yang dibalut debu dibakar terik matahari.
Suasana berangsur pulih seiring laku matahari yang condong ke barat. Jalanan mulai ramai dengan hilir-mudiknya penduduk sepulang kerja atau sehabis berpergian. Petani pulang membawa hasil ladang atau sawah untuk dijual esok pagi. Tidak lupa membawa rumput untuk pakan ternak yang sepanjang waktu dikebat di kandang. Lapangan tak seberapa depa kurang terurus di samping makam, satu-satunya tempat yang dimiliki dusun untuk melakukan semua kegiatan. Tempat main voli pemuda setiap sore, acara tujuh belasan dan pertunjukan layar tancap. Bahkan puncak acara nyadran atau bersih dusun sekali setahun juga dipusatkan di lapangan itu.
Azan Magrib sebagai tanda bagi penduduk dusun untuk menghentikan semua pekerjaan. Sunyi kembali menyelimuti dusun yang tiap tahun mendapat giliran musim kering ini.
****
Suasana seperti itulah yang kurasakan selama dua bulan menghabiskan waktu liburan semester di dusun Kalinongko Lor. Aku ditawari teman berlibur di kampungnya. Riyadi Basuki namanya, dipanggil Peyek di kampungnya. Anak seorang carik desa yang cukup disegani. Aku sendiri telah sedari lama sejatinya memimpikan berdiam diri sejenak di pedalaman desa Jawa. Ingin merasakan hidup berbaur dengan masyarakat yang latar kehidupannya berbeda sama sekali denganku. Rindu bercengkrama dengan penduduk dusun yang hidup bersahaja. Yang memasrahkan hidupnya pada kemauan alam.
Awalnya aku canggung sekali berada di tengah keluarga baruku ini. Maklum aku orangnya pemalu dan kurang pandai bergaul. Bertampang serius dan kikir senyuman. Ditambah pelit bicara. Sulit sekali bagiku berbicara dengan penduduk dusun. Apalagi dengan yang tua-tua. Aku mengambil jalan aman dengan banyak mengangguk dan menebar senyuman ketika bergaul dengan penduduk Kalinongko Lor.
Banyak kenangan indah yang akan kusimpan dalam lekuk ingatan. Salah satunya tentang pertemuanku dengan gadis kembar tiga di dusun tersebut. Tri Sumarni, Tri Sulastri dan Tri Suratmi, namanya. Anak pertama dari pasangan suami-istri Pak Wugimin dengan Bu Sutinem. Hampir setiap pagi dan sore hari aku bersirobok dengan gadis kembar tiga ini di sumur Pak Lamto Suwito, salah seorang tetua kampung.
Terkadang aku bertemu dengan salah seorang di antara mereka. Di lain waktu bertemu dengan dua orang di antara mereka. Kalau beruntung aku bertemu dengan ketiga kembar itu. Uniknya kami sering bertemu di waktu yang sama dan juga di tempat yang sama. Kalau bukan jelang mentari datang, ya jelang mentari mau pergi lagi. Jarang sekali kami bertemu di suasana lain. Paling bertemu sekali waktu pada pengajian rutin lapanan di masjid setiap malam Ahad Pon. Atau pada acara arisan pemuda kampung sekali sebulan di rumah Mas Sugiono.
Sumur Pak Lamto satu-satunya sumber air bersih bagi penduduk dusun Kalinongko Lor. Tidak jarang tetangga sekitar dusun juga memanfaatkan air dari sumur ini untuk kebutuhan mereka. Menimba dan mengangkut air ke rumah masing-masing sudah menjadi pekerjaan rutin penduduk disamping bercocok tanam dan memelihara sapi. Tidak laki-laki-laki dan tidak perempuan. Tua dan muda.
Rasa simpatiku pada gadis kembar tiga ini berawal dari pekerjaan mengangkut air yang terbilang jauh dari sumber air. Beban yang dipikul terlalu berat untuk ukuran gadis seusianya. Aku sendiri iman tidak akan sanggup melakukan hal serupa. Panorama seperti ini tidak pernah kujumpai di kampungku yang terbilang swasembada air. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan ini menimpa gadis-gadis di kampungku yang seusia dengan gadis kembar tiga itu. Aku juga tidak tahu bagaimana komentar adik perempuan semata wayangku, andai tinggal di dusun tandus ini.
Dua orang di antara gadis kembar tiga itu berbagi tugas mengisi dua bak mandi dua kali sehari secara bergiliran. Setiap pagi dan sore hari. Satu orang mengisi bak mandi di rumah mereka. Dan satu lagi mengisi bak mandi Mbah Suminten yang ditinggal anaknya yang ikut program transmigrasi ke Kalimantan. Kembar yang satunya lagi bertugas memasak, mencuci piring dan membersihkan rumah. Bapak Wugimin terlalu letih mengurus tanaman dan sapi. Sedangkan Bu Sutinem sibuk mengurus ketiga anaknya yang masih kecil-kecil.
Agaknya pertemuan demi pertemuan di sumur Pak Lamto semakin mengakrabkan kami. Aku dengan gadis kembar tiga itu. Aku mulai memberanikan diri bertanya banyak hal pada mereka. Bercerita panjang lebar tentang apa saja sambil sesekali menggoda mereka. Lama antaranya baru aku sadari salah seorang di antara gadis kembar tiga itu ada yang kurang bersahabat denganku. Tatapannya sinis mengakari jantung. Sering bersungut-sungut yang tak menenteramkan perasaan.
Persisnya yang mana, aku juga tidak yakin dengan ketepatan tebakkanku sendiri. Terlalu payah bagiku untuk mampu membedakannya disebabkan miripnya gadis kembar tiga itu. Karena tak ingin terlalu bersusah payah, aku namai saja ia pendekar bermata jahat.
Aku sendiri amat mafhum alam yang gersang mendidik mereka keras. Tapi aku juga percaya alam yang gersang akan melatih mereka memiliki kesabaran yang menghujam kedalaman zaman.
****
Keberadaanku di Kalinongko Lor sudah di ujung sumbu waktu. Tinggal menggantang menit. Sebelum meninggalkan dusun aku berpamitan pada para tetangga. Ada perasaan lain yang kurasakan waktu berjabat salam dengan penduduk dan entah kapan lagi akan kurasakan hal serupa. Wajah sedih jelas mengelantungiku sore itu. Aku titip salam untuk gadis kembar tiga pada Bu Sutinem.
Jelang Magrib entah mengapa kusempatkan juga menengok sumur Pak Lamto untuk yang terakhir kalinya. Pikirku, karena waktu masih saja milikku seutuhnya. Siapa tahu sejumput wajah yang tak kunjung sempurna kutata di palung hati kujumpai di sana. Siapa tahu ia berbaik hati memberikan seulas senyuman yang tak pernah ia berikan padaku sebelumnya. Setidaknya menikmati tatapan mata tajamnya. Sebagai kenang-kenangan perjalanan.
Namun aku hanya mendapati gelantungan sepi di sumur Pak Lamto. Trang-trang. Ah, lembab juga mata yang tak lagi tertarik dengan ragam kesedihan itu.
Keesokan paginya keluarga Riyadi mengantarku sampai pertigaan sendang Sriningsih, pintu masuk ke dusun yang waktu kutinggalkan baru dapat suplai air dari pemerintah kabupaten Sleman. Aku baru tahu dapat titipan surat dari gadis kembar tiga, ketika bersalaman dengan keluarga tempat tinggalku selama liburan. Adik Riyadi, Narti Ika Pertiwi, yang memberikannya padaku. Surat dari gadis kembar tiga itu kubaca di atas bis Prambanan-Yogyakarta. Hati-hati sekali kubuka amplopnya. Ringkas sekali surat itu ditulis.
“Maafkan kami musafir. Kemaren sore kami mencari air ke kampung yang jauh. Sebab sumur Pak Lamto sudah mengering. Salam yang kamu titipkan pada Ibu telah kami pancangkan di tandus tanah dusun. Selamat jalan musafir. Sampai jumpa lagi di musim langit tiris.”
Aku hanya mampu mendekap surat itu dengan mata terpejam. Kupeluk sepuas batin sambil menggigit bibir sekuat nyali. Untuk terakhir kalinya kuhadapkan muka ke celah-celah dedahanan pohon jati meradang. Samar-samar tampak Gunung Mintorogo melambaikan tangan letihnya padaku. Lalu detak jantungku mengeja salam perpisahan. Pelan sekali.
“Selamat menunggu kuyup hujan gadis tangguh
Tegarmu membuat seisi langit lelehkan asamu
Bila kelak tak diizinkan berenang di bening lubukmu
Aku sudah puas memujamu dari kedalaman waktu.”
Kalinongko Lor-Kalijaga Wetan, Maret 2005
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Rabu, 07 Januari 2009
Selasa, 06 Januari 2009
Siti Pane
Yusriandi Pagarah
“Sorry, tadi pangggil Mbak”, ujar perempuan itu, memasang mimik serius. “Saya kira perempuan, abis rambutnya panjang sih”, tambahnya. “Tak apa, Bu. Bukan Ibu saja yang mengira saya perempuan. Banyak juga orang lain mengira saya perempuan”. Saya balas senyumnya dengan senyum simpatik yang tak kalah manisnya. Dalam hati saya hanya tertawa geli mengingat kejadian tersebut. Karena berulang kali saya alami.
Sewaktu membantu kakak di warung makan di Ngampilan, utara Kraton Yogyakarta, sering sekali pembeli memanggil saya Mbak. Apalagi melihat saya dari belakang. Bagi yang sadar kalau saya laki-laki, ada yang minta maaf serius. Ada juga yang menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Lantas berlalu dengan tawa tertahan. Namun lebih banyak lagi yang tidak tahu kalau saya laki-laki. Pernah kejadian tersebut saya ceritakan pada kakak dan teman. Mereka hanya terbahak mendengarnya.
“Mau ke mana, Bu?”, tanya saya, memberanikan diri pada Ibu di samping saya. Yang mengira saya perempuan itu. Saya terkesan dengan bahasanya yang gaul. Ia bilang sorry, bukan maaf, ketika tahu kalau saya laki-laki. “Ke Kartasura”, jawabnya singkat. Saya mengangguk sekadarnya. Masih jauh, batin saya. Ini masih di Ngawi.
Suara fals pengamen menyanyikan lagu Sri membuyarkan hasrat ingin tahu saya tentangnya. Selesai menyanyikan satu atau dua lagu, pengamen tersebut menggilir kantong receh ke seantero penumpang. Waktu disodorkan pada saya, saya mengangkat tangan pertanda minta maaf. Tapi pengamen berotot mirip atlet kelas berat itu menimpali, rokok juga tak apa. Saya balas, saya tidak merokok. Permen juga boleh, jawabnya. Maaf, sudah habis, balas saya. Ia pun berlalu sambil menggerutu yang tidak begitu jelas saya dengar, menyodorkan kantong recehnya pada penumpang lain di belakang saya. Tapi Ibu itu malahan memanggil kembali pengamen tersebut dan memberi receh lagi.
“Mau ke mana?”, tanya Ibu di samping saya, sejurus kemudian. “Jogja”, tandas saya singkat. Ia juga mengangguk sekadarnya. Waktu bersitatap mata dengannya, saya yakinkan diri saya bahwa perempuan ini bukan perempuan biasa. Apalagi kemudian ia begitu sibuknya mencari-cari kondektur yang tak kunjung meminta ongkos padanya. Sepertinya ada perasaan bersalah yang hebat bila luput membayar ongkos. Saya jadi malu pada diri saya yang diam saja bila sang kondektur alpa menagih ongkos. Terkadang bangga dan diceritakan pada teman dengan begitu heroiknya.
“Orang Jogja, pa?”. Ia lirikkan mata binarnya pada saya. Saya hanya senyum. Tipis sekali. “Bukan. Saya orang seberang, orang Sumatera.” Saya coba berpaling darinya. Sembari memindahkan ingatan pada nenek saya yang tengah terkulai sakit nun jauh di sana, di negeri beribu nagari. Saya memanggilnya Andeh. Andeh bertambah kalut oleh tingkah anak bungsunya di Batam yang tidak mau pulang menjenguknya. Kadang saya berpikir, apa memang takdir orang tua hanya membesarkan anak-anaknya, lalu mengikhlaskannya pergi bagai anak peluru. Atau lebih tragis lagi seperti membesarkan anak ular. Ahh!
“Saya pernah tinggal lama di Medan. Di Berastagih”, sambungnya. “Saya ikut suami dan tinggal bersama mertua berapa hari saja sedari pengantin baru. Saya menikah muda, bahkan teramat muda. Usia enam belas tahun. Masih imut-imut lah”. Lantas ia dendangkan lagu Betharia Sonata dan Koes Plus dengan sepenuh hati. Diselinginya lagu-lagu Batak dan loghat Medan yang kental yang tidak begitu saya kenal. Saya kembali memamerkan senyum tipis melihat tingkahnya.
Konsentrasi saya buyar karena ada panggilan masuk ke ponsel saya. Ada telpon masuk yang tidak saya ketahui pemiliknya. Yang pasti dari Sumatera. Hati saya berdebar, jangan-jangan kabar terbaru tentang Andeh. Saya angkat, tapi suaranya tenggelam oleh deru mesin bus ekonomi dan jreng gitar pengamen . Ponsel saya berdering lagi. Dalam kebisingan yang amat itu saya katakan pada penelpon untuk menghubungi saya nanti saja.
Tak lama antaranya ponsel saya bergetar. Ada pesan baru masuk. Saya berharap ini bukan kabar buruk tentang Andeh. “Selamat jalan Bang. Kalo sampe perbatasan Ngawi-Sragen jangan lupa melambaikan tangan. Aku berada sekitar situ. Meski jalannya bergelombang, tapi asyik tho? He he he”. Benar, bukan dari negeri seberang. Dari Ana, teman satu lokasi sewaktu mengadakan bhakti sosial di kecamatan Prambanan yang tak berair itu tiga tahun silam. Walau beda kampus, antara kami terjalin pertemanan yang begitu karib.
“Dari istrinya, ya?”. Perempuan itu bertanya dengan gaya akting anak muda sekarang menggoda temannya. “Bukan. Dari teman lama yang baru menikah. Orang Ngawi sini. Kalo saya masih bujangan, Bu”. Hati saya sudah bulat untuk menggali informasi lebih banyak lagi tentangnya. Saya benar-benar yakin, ia perempuan istimewa.
“Usianya berapa, Bu?”, saya hadapkan muka padanya. “Minimal enam puluh delapan tahun lah.” Saya tidak begitu kaget karena umurnya sudah masuk dalam perkiraan saya sebelumnya. “Oh ya lupa, namanya siapa Bu?”, sambung saya. “Siti. Lengkapnya Siti Pane. Ikut marga suami yang sudah lama almarhum”,. Ia tuliskan namanya di sandaran tempat duduk di depannya dengan telunjuknya. Sambil diejanya pelan. Lantas ia bersenandung lagi. Mendendangkan tembang lawas Batak. Meski tidak paham, saya yakin perempuan itu kangen pada mendiang suaminya. Saya biarkan ia larut dalam lamunannya.
Karena rasa ingin tahu yang mendera tentangnya, saya bertanya lagi. “Barusan dari mana, Bu?”. “Dari Ngawi”, jawabnya singkat. “Orang Ngawi, pa?”, kejar saya. “Bukan,. Saya orang Solo asli. Habis mengantar dagangan. Ya, sekadar untuk menyambung hidup”. Tak sedikit pun membias wajah mengeluh, apalagi wajah putus asah padanya. “Dagang apa, Bu?”, tanya saya lagi. “Dagang kecil-kecilan saja. Jualan sapu ijuk, sapu lidi, serbet dan semacamnya lah. Yang penting bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.” Jawabannya kembali memantik ingatan saya pada Andeh. Pasalnya Andeh juga tetap energik, meski usianya sudah tua. Sudah punya cicit lagi. Selesai wisuda kemaren Andeh menyuruh saya pulang. Katanya, ingin melihat saya menikah dan punya anak. Selagi Andeh masih hidup, kilahnya.
“Maaf, di Solo tinggal bersama siapa?”, saya bertanya lagi karena kebersamaan kami akan segera berakhir. Sekarang sudah di Sragen dan tak lama lagi akan memasuki kota Solo. Sedangkan saya belum begitu berhasil mengungkit lebih dalam siapa dirinya. “Sendirian”, jawabnya dingin. saya kian penasaran. “Memang nggak ada anak atau keluarga di Solo”, lanjut saya. “Ada. Anak saya yang sulung tinggal di Solo. Suaminya orang Jombang. Anak saya yang lain ada di Tangerang, Kalimantan dan Riau”. Saya jadi miris dan sedih sendiri karenanya. Hampir saya mengeluarkan uang dua puluh ribuan untuknya. Tapi urung saya berikan. Saya takut ia tersinggung.
“Mungkin anak kita nggak masalah tinggal bersamanya. Tapi bagaimana dengan suaminya. Hati orang mana kita tahu”. Dikemasinya barang-barangnya. Melihat gelagat tersebut, saya jadi bingung dengan perasaan saya sendiri. Seraya mengutuk waktu yang berlalu begitu cepatnya. “Eee, boleh tahu alamatnya?”, kejar saya sewaktu ia ancang-ancang menuju pintu depan bis. “RT 1 RW 10 Krapyak. Dalam Kraton”. Ia melangkah menghampiri pintu. “Tanya Siti Pane. Semua orang tahu saya. Kapan-kapan mampir ya”. Itu suara terakhirnya yang sempat saya dengar. Langsung saya simpan dalam ponsel saya. Ketika saya hadapkan wajah ke depan, tak saya lihat lagi sosoknya. Saya sedih. Saya marah. Saya malu.
Langit mulai gelap. Lampu-lampu mulai menyala. Jreng-jreng pengamen sambung-menyambung sampai jembatan layang Janti. Tapi hati saya tak lagi hirau dengan dendang dan kidung para pengamen. Juga tidak akan memberi apa pun pada mereka.
Tenggara Rel Timoho, Maret 2008
“Sorry, tadi pangggil Mbak”, ujar perempuan itu, memasang mimik serius. “Saya kira perempuan, abis rambutnya panjang sih”, tambahnya. “Tak apa, Bu. Bukan Ibu saja yang mengira saya perempuan. Banyak juga orang lain mengira saya perempuan”. Saya balas senyumnya dengan senyum simpatik yang tak kalah manisnya. Dalam hati saya hanya tertawa geli mengingat kejadian tersebut. Karena berulang kali saya alami.
Sewaktu membantu kakak di warung makan di Ngampilan, utara Kraton Yogyakarta, sering sekali pembeli memanggil saya Mbak. Apalagi melihat saya dari belakang. Bagi yang sadar kalau saya laki-laki, ada yang minta maaf serius. Ada juga yang menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Lantas berlalu dengan tawa tertahan. Namun lebih banyak lagi yang tidak tahu kalau saya laki-laki. Pernah kejadian tersebut saya ceritakan pada kakak dan teman. Mereka hanya terbahak mendengarnya.
“Mau ke mana, Bu?”, tanya saya, memberanikan diri pada Ibu di samping saya. Yang mengira saya perempuan itu. Saya terkesan dengan bahasanya yang gaul. Ia bilang sorry, bukan maaf, ketika tahu kalau saya laki-laki. “Ke Kartasura”, jawabnya singkat. Saya mengangguk sekadarnya. Masih jauh, batin saya. Ini masih di Ngawi.
Suara fals pengamen menyanyikan lagu Sri membuyarkan hasrat ingin tahu saya tentangnya. Selesai menyanyikan satu atau dua lagu, pengamen tersebut menggilir kantong receh ke seantero penumpang. Waktu disodorkan pada saya, saya mengangkat tangan pertanda minta maaf. Tapi pengamen berotot mirip atlet kelas berat itu menimpali, rokok juga tak apa. Saya balas, saya tidak merokok. Permen juga boleh, jawabnya. Maaf, sudah habis, balas saya. Ia pun berlalu sambil menggerutu yang tidak begitu jelas saya dengar, menyodorkan kantong recehnya pada penumpang lain di belakang saya. Tapi Ibu itu malahan memanggil kembali pengamen tersebut dan memberi receh lagi.
“Mau ke mana?”, tanya Ibu di samping saya, sejurus kemudian. “Jogja”, tandas saya singkat. Ia juga mengangguk sekadarnya. Waktu bersitatap mata dengannya, saya yakinkan diri saya bahwa perempuan ini bukan perempuan biasa. Apalagi kemudian ia begitu sibuknya mencari-cari kondektur yang tak kunjung meminta ongkos padanya. Sepertinya ada perasaan bersalah yang hebat bila luput membayar ongkos. Saya jadi malu pada diri saya yang diam saja bila sang kondektur alpa menagih ongkos. Terkadang bangga dan diceritakan pada teman dengan begitu heroiknya.
“Orang Jogja, pa?”. Ia lirikkan mata binarnya pada saya. Saya hanya senyum. Tipis sekali. “Bukan. Saya orang seberang, orang Sumatera.” Saya coba berpaling darinya. Sembari memindahkan ingatan pada nenek saya yang tengah terkulai sakit nun jauh di sana, di negeri beribu nagari. Saya memanggilnya Andeh. Andeh bertambah kalut oleh tingkah anak bungsunya di Batam yang tidak mau pulang menjenguknya. Kadang saya berpikir, apa memang takdir orang tua hanya membesarkan anak-anaknya, lalu mengikhlaskannya pergi bagai anak peluru. Atau lebih tragis lagi seperti membesarkan anak ular. Ahh!
“Saya pernah tinggal lama di Medan. Di Berastagih”, sambungnya. “Saya ikut suami dan tinggal bersama mertua berapa hari saja sedari pengantin baru. Saya menikah muda, bahkan teramat muda. Usia enam belas tahun. Masih imut-imut lah”. Lantas ia dendangkan lagu Betharia Sonata dan Koes Plus dengan sepenuh hati. Diselinginya lagu-lagu Batak dan loghat Medan yang kental yang tidak begitu saya kenal. Saya kembali memamerkan senyum tipis melihat tingkahnya.
Konsentrasi saya buyar karena ada panggilan masuk ke ponsel saya. Ada telpon masuk yang tidak saya ketahui pemiliknya. Yang pasti dari Sumatera. Hati saya berdebar, jangan-jangan kabar terbaru tentang Andeh. Saya angkat, tapi suaranya tenggelam oleh deru mesin bus ekonomi dan jreng gitar pengamen . Ponsel saya berdering lagi. Dalam kebisingan yang amat itu saya katakan pada penelpon untuk menghubungi saya nanti saja.
Tak lama antaranya ponsel saya bergetar. Ada pesan baru masuk. Saya berharap ini bukan kabar buruk tentang Andeh. “Selamat jalan Bang. Kalo sampe perbatasan Ngawi-Sragen jangan lupa melambaikan tangan. Aku berada sekitar situ. Meski jalannya bergelombang, tapi asyik tho? He he he”. Benar, bukan dari negeri seberang. Dari Ana, teman satu lokasi sewaktu mengadakan bhakti sosial di kecamatan Prambanan yang tak berair itu tiga tahun silam. Walau beda kampus, antara kami terjalin pertemanan yang begitu karib.
“Dari istrinya, ya?”. Perempuan itu bertanya dengan gaya akting anak muda sekarang menggoda temannya. “Bukan. Dari teman lama yang baru menikah. Orang Ngawi sini. Kalo saya masih bujangan, Bu”. Hati saya sudah bulat untuk menggali informasi lebih banyak lagi tentangnya. Saya benar-benar yakin, ia perempuan istimewa.
“Usianya berapa, Bu?”, saya hadapkan muka padanya. “Minimal enam puluh delapan tahun lah.” Saya tidak begitu kaget karena umurnya sudah masuk dalam perkiraan saya sebelumnya. “Oh ya lupa, namanya siapa Bu?”, sambung saya. “Siti. Lengkapnya Siti Pane. Ikut marga suami yang sudah lama almarhum”,. Ia tuliskan namanya di sandaran tempat duduk di depannya dengan telunjuknya. Sambil diejanya pelan. Lantas ia bersenandung lagi. Mendendangkan tembang lawas Batak. Meski tidak paham, saya yakin perempuan itu kangen pada mendiang suaminya. Saya biarkan ia larut dalam lamunannya.
Karena rasa ingin tahu yang mendera tentangnya, saya bertanya lagi. “Barusan dari mana, Bu?”. “Dari Ngawi”, jawabnya singkat. “Orang Ngawi, pa?”, kejar saya. “Bukan,. Saya orang Solo asli. Habis mengantar dagangan. Ya, sekadar untuk menyambung hidup”. Tak sedikit pun membias wajah mengeluh, apalagi wajah putus asah padanya. “Dagang apa, Bu?”, tanya saya lagi. “Dagang kecil-kecilan saja. Jualan sapu ijuk, sapu lidi, serbet dan semacamnya lah. Yang penting bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.” Jawabannya kembali memantik ingatan saya pada Andeh. Pasalnya Andeh juga tetap energik, meski usianya sudah tua. Sudah punya cicit lagi. Selesai wisuda kemaren Andeh menyuruh saya pulang. Katanya, ingin melihat saya menikah dan punya anak. Selagi Andeh masih hidup, kilahnya.
“Maaf, di Solo tinggal bersama siapa?”, saya bertanya lagi karena kebersamaan kami akan segera berakhir. Sekarang sudah di Sragen dan tak lama lagi akan memasuki kota Solo. Sedangkan saya belum begitu berhasil mengungkit lebih dalam siapa dirinya. “Sendirian”, jawabnya dingin. saya kian penasaran. “Memang nggak ada anak atau keluarga di Solo”, lanjut saya. “Ada. Anak saya yang sulung tinggal di Solo. Suaminya orang Jombang. Anak saya yang lain ada di Tangerang, Kalimantan dan Riau”. Saya jadi miris dan sedih sendiri karenanya. Hampir saya mengeluarkan uang dua puluh ribuan untuknya. Tapi urung saya berikan. Saya takut ia tersinggung.
“Mungkin anak kita nggak masalah tinggal bersamanya. Tapi bagaimana dengan suaminya. Hati orang mana kita tahu”. Dikemasinya barang-barangnya. Melihat gelagat tersebut, saya jadi bingung dengan perasaan saya sendiri. Seraya mengutuk waktu yang berlalu begitu cepatnya. “Eee, boleh tahu alamatnya?”, kejar saya sewaktu ia ancang-ancang menuju pintu depan bis. “RT 1 RW 10 Krapyak. Dalam Kraton”. Ia melangkah menghampiri pintu. “Tanya Siti Pane. Semua orang tahu saya. Kapan-kapan mampir ya”. Itu suara terakhirnya yang sempat saya dengar. Langsung saya simpan dalam ponsel saya. Ketika saya hadapkan wajah ke depan, tak saya lihat lagi sosoknya. Saya sedih. Saya marah. Saya malu.
Langit mulai gelap. Lampu-lampu mulai menyala. Jreng-jreng pengamen sambung-menyambung sampai jembatan layang Janti. Tapi hati saya tak lagi hirau dengan dendang dan kidung para pengamen. Juga tidak akan memberi apa pun pada mereka.
Tenggara Rel Timoho, Maret 2008
Senin, 05 Januari 2009
Terbunuhnya Buya Katidiang
Yusriandi Pagarah
Datangnya bulan suci Ramadhan di kampungku selalu digadang semarak. Ibarat menyambut kedatangan orang rantau yang sudah lama tidak pulang. Seperti kerinduan orang tua yang menunggu kepulangan si anak hilang yang kini tersiar kabarnya. Tapi tetap saja nuansa bulan Ramadhan kali ini terasa sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Apalagi waktunya bersamaan dengan tekad daerahku mencanangkan sistem pemerintahan nagari, setelah beberapa lama menerapkan sistem pemerintahan desa, yang katanya kurang berkenan dengan suasana masyarakatku.
Spanduk berbagai ukuran bertuliskan baliak ka nagari dipajang pada beberapa tempat strategis di kampungku. Bahkan yang dipancang di pandam meliuk-liuk dikisai semilir dari pepokok karet berdaun rimbun. Kebahagian ini semakin sempurna dengan diresmikan oleh bupati dua lembaga pendidikan jelang tahun ajaran baru lalu, masing-masing terletak di samping masjid Tahmid Simpanglimo dan lapangan sepakbola Tanahdabuih.
Ditemani sisa histeria baliak ka nagari yang bergelantungan di tanduk-tanduk rumah gadang yang kini banyak dibangun lagi, penduduk kampungku menanti bulan Ramadhan dengan penuh harap. Surau-surau suku yang dulu mati suri dihidupkan kembali. Mushala-mushala terpencil yang terletak di bantaran sungai yang biasa dihuni jamaah suluk yang melaksanakan shalatlima waktu secara berjamaah selama empat puluh hari, juga mendapat perhatian khusus dari wali nagari yang baru dilantik. Masjid yang terdapat di setiap jorong telah sedari sebulan sebelumnya dirias rapi. Lengkap dengan aneka ancangan kegiatan selama bulan Ramadhan kali ini.
Sehari sebelum puasa kaum muda kampungku pergi balimau ke sejumlah tempat pemandian. Danau Maninjau di Bukittinggi, danau Singkarak di Batusangkar, Batang Tabik di Payakumbuh dan danau kembar Diateh-Dibawah di Solok ramai dikunjungi. Lembah Anai di Padang Panjang dengan panorama air terjunnya nan rancak sorga bagi mereka yang ingin menghirup udara sejuk-segar dengan latar hijau hutan yang lebat. Mereka yang berhasrat bergelut dengan gulungan ombak tinggal memilih mana yang sesuai dengan selera. Apakah ke pantai Karolin di Pariaman, pantai Airmanis dekat MuaroPadang atau ke mencerap indahnya pantai Nirwana yang terletak di pinggir jalan menuju Kerinci dan Bengkulu. Sementara para orang tua sibuk membersihkan dan menziarahi pandam leluhur.
Tradisi mambantai digelar lagi di selatan pandam Palokoto. Waktunya pada hari Kamis menjelang datangnya bulan Ramadhan. Karena itu dinamakan juga Pakan Kami. Dikelola oleh kelompok julo-julo yang sepersukuan atau dari kelompok tani yang sama. Pasar daging segar ini sangat berguna untuk memenuhi kebutuhan daging bagi anggotanya. Sisanya dijual dan dimasukkan dalam kas kelompok. Daging Pakan Kami digunakan kaum ibu kampungku sebagai juadah untuk manjalang mertua dan mamak terdekat sebelum puasa.
æææ
Masa peralihan ini memantik kekacauan hebat di kampungku. Tragisnya lagi, meminta korban, seseorang yang sangat dihormati di kampungku. Namanya Syahril Umam Datuk Palimo Kayo, dan biasa dipanggil Buya Palimo Kayo. Beliau imam tetap masjid Nurul Falah jorong Koto Tinggi, mantan ketua kerapatan adat nagari dan sering diundang ke berbagai tempat untuk memberi pengajian. Kematian Buya Plaimo Kayo terbilang nekad dan sadis. Pelakunya berani membunuh orang yang bukan orang sembarangan. Karena Buya Palimo Kayo dimuliakan secara adat dan agama. Didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Terdapat banyak luka tusuk di perut, dada dan leher korban nyaris putus. Hinanya lagi, celana dalam korban diletakan di kepalanya dan peci hajinya digantung di telinganya. Tubuh korban diikat ditunggul pepokok asam di samping kandang sapi yang berada di ujung nagari.
Seminggu kemudian, di saat kenangan manis bersama Buya Palimo Kayo bagi penduduk kampungku tinggal di merahnya tanah kuburan, sang pelaku baru dapat diringkus pihak berwajib. Siapa yang menyangka pelakunya keluarga terdekat beliau. Siapa pula yang menyangka bila otak di balik pembunuhan tersebut orang-orang terpandang di kampungku. Terencana dan berantai.
Pelaku pembunuhan tersebut tak lain adalah kemenakan Buya Plimo Kayo sendiri. Rizal Efendi namanya. Sang kemenakan sampai hati melakukan perbuatan terkutuk itu karena permintaannya untuk menggadaikan sawah sebagai modal membuka usaha photo copy di Pekalongan Jawa Tengah tak kunjung direstui sang mamak. Kemenakan termakan hasutan pihak luar yang sengaja menangguk ikan di air keruh. Apalagi ia amat lihai mengaduk-aduk perasaan sang kemenakan hingga gelap mata. Bagai bara api disiram minyak tanah. Bergelora. Seperti luka yang ditetesi air asam. Perih.
Siapa yang tidak kenal dengan Datuk Tanameh yang mahir sekali berpetatah-petitih adat dan sering disewa untuk keperluan baralek. Datuk Tanameh menaruh kesumat karena Buya Palimo Kayo terang-terangan memihak Edi Tampalo dalam pemilihan wali nagari empat bulan lalu. Karena bagaimana pun, dimana-mana pilihan seorang ulama akan diikuti banyak orang. Akibatnya Datuk Tanameh kalah telak. Padahal ia telah mengeluarkan banyak pitih dalam kampanye tersebut.
Pihak kedua yang punya andil terbunuhnya Buya Palimo Kayo adalah seorang ninik mamak terkemuka di kampungku. Ismail Tayeb Datuk Rajo Sangano namanya. Petinggi suku Chaniago ini pernah dikalahkan Buya Palimo Kayo dalam pemilihan ketua kerapatan adat nagari beberapa tahun silam. Kebencian Datuk Rajo Sangano semakin tak terbendung akibat kekalahannya dalam sengketa batas tanah ulayat. Pengadilan memenangkan pihak Buya Palimo Kayo.
Sahabat akrab beliau sesama penyiar agama, Buya Malin Dubalang, berperan juga dalam pembunuhan tersebut. Di usia muda, keduanya pernah sama-sama belajar di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Gurun dibawah asuhan almarhum Buya Ramli Bakar. Sepeninggal Buya Ramli, keduanya melanjutkan pendidikan ke Malalo di bawah asuhan Buya Bustami Rauf. Keduanya juga sama-sama menunaikan ibadah hajilima tahun lalu. Kabarnya, Nurhayati Dahlia, putri bungsu Buya Palimo Kayo yang belajar di Diniyah Puteri Padang Panjang, akan dijodohkan dengan putra tunggal Buya Malin Dubalang, Ahmad Hafiz Syahril, yang kuliah tingkat akhir di Kairo.
Sejatinya perseteruan dua buya ini dipicu oleh sengketa paham. Ceritanya, beberapa waktu setelah resmi baliak ka nagari, Buya Malin Dubalang berniat menggunakan bahasa Arab dalam khutbah Jumat dan khutbah hari raya kelak. Buya Malin Dubalang juga meminta salah satu masjid untuk melaksanakan niatnya itu. Namun niat tersebut kandas dalam rapat nagari. Karena dikuatirkan akan memecah belah nagari. Buya Palimo Kayo termasuk orang yang getol menolak keinginan Buya Malin Dubalang. Menurutnya, khutbah berbahasaIndonesia saja masih banyak jamaah yang mengantuk. Apalagi berbahasa Arab. Jangan-jangan khatib sendiri tidak paham apa yang dibacanya, sergahnya.
Perlawanan kelompok Buya Malin Dubalang semakin kentara dalam menetapkan awal puasa lalu. Kelompok Buya Malin Dubalang terlambat dua hari, baru berpuasa setelah ada kabar terlihat hilal dari Ulakan di pantai utara Pariaman. Suasana yang sudah memanas ini diperkeruh oleh pernyataan Buya Palimo Kayo bahwa bulan Ramadhan bulan panennya buya-buya. Mestinya bulan Ramadhan tempat untuk memberi dan bukannya tempat untuk mengeruk keuntungan pribadi semata. Apalagi dengan jalan menjual ayat-ayat Tuhan dan memecah belah umat.
Masyarakat langsung mengaitkan ke mana arah ceramah Buya Palimo Kayo. Siapa lagi yang disindir kalau bukan Buya Malin Dubalang. Merasa dijatuhkan, kontan saja Buya Malin Dubalang dan kelompoknya naik pitam. Gemetaran menahan dongkol. Dalam suatu pengajian Buya Malin Dubalang menyatakan bulan Ramadhan bulan panennya buya-buya katidiang.Para jamaah pun sudah dapat menebak ke mana arah ceramah Buya Malin Dubalang. Siapa lagi kalau bukan badan diri Buya Palimo Kayo.
æææ
Itu pertama kalinya kampungku masuk mediamassa . Diulas panjang lebar dalam sebuah koran kriminal ibukota. Dikupas tuntas di salah satu televisi swasta terkemuka. Bulan penuh berkah yang tengah menanti lailatul qadar ini justeru tertusuk oleh tangan yang mengaku membaktikan hidupnya di jalan yang suci. Berdarah-darah di tangan mereka yang giat mengkampanyekan mambangkik batang tarandam.
Tampak langit murung saja di atas tanduk rumah gadang dan menitipkan ruyak tukak di kubah masjidlima jorong itu.
Sungguh-sungguh kusaksikan langit tiris mengguyur salingka nagari.
//Purworejo, Kota Berirama, Akhir Agustus 2006
Cerpen, Harian Surya, Minggu, 26 November 2006
Datangnya bulan suci Ramadhan di kampungku selalu digadang semarak. Ibarat menyambut kedatangan orang rantau yang sudah lama tidak pulang. Seperti kerinduan orang tua yang menunggu kepulangan si anak hilang yang kini tersiar kabarnya. Tapi tetap saja nuansa bulan Ramadhan kali ini terasa sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Apalagi waktunya bersamaan dengan tekad daerahku mencanangkan sistem pemerintahan nagari, setelah beberapa lama menerapkan sistem pemerintahan desa, yang katanya kurang berkenan dengan suasana masyarakatku.
Spanduk berbagai ukuran bertuliskan baliak ka nagari dipajang pada beberapa tempat strategis di kampungku. Bahkan yang dipancang di pandam meliuk-liuk dikisai semilir dari pepokok karet berdaun rimbun. Kebahagian ini semakin sempurna dengan diresmikan oleh bupati dua lembaga pendidikan jelang tahun ajaran baru lalu, masing-masing terletak di samping masjid Tahmid Simpanglimo dan lapangan sepakbola Tanahdabuih.
Ditemani sisa histeria baliak ka nagari yang bergelantungan di tanduk-tanduk rumah gadang yang kini banyak dibangun lagi, penduduk kampungku menanti bulan Ramadhan dengan penuh harap. Surau-surau suku yang dulu mati suri dihidupkan kembali. Mushala-mushala terpencil yang terletak di bantaran sungai yang biasa dihuni jamaah suluk yang melaksanakan shalat
Sehari sebelum puasa kaum muda kampungku pergi balimau ke sejumlah tempat pemandian. Danau Maninjau di Bukittinggi, danau Singkarak di Batusangkar, Batang Tabik di Payakumbuh dan danau kembar Diateh-Dibawah di Solok ramai dikunjungi. Lembah Anai di Padang Panjang dengan panorama air terjunnya nan rancak sorga bagi mereka yang ingin menghirup udara sejuk-segar dengan latar hijau hutan yang lebat. Mereka yang berhasrat bergelut dengan gulungan ombak tinggal memilih mana yang sesuai dengan selera. Apakah ke pantai Karolin di Pariaman, pantai Airmanis dekat Muaro
Tradisi mambantai digelar lagi di selatan pandam Palokoto. Waktunya pada hari Kamis menjelang datangnya bulan Ramadhan. Karena itu dinamakan juga Pakan Kami. Dikelola oleh kelompok julo-julo yang sepersukuan atau dari kelompok tani yang sama. Pasar daging segar ini sangat berguna untuk memenuhi kebutuhan daging bagi anggotanya. Sisanya dijual dan dimasukkan dalam kas kelompok. Daging Pakan Kami digunakan kaum ibu kampungku sebagai juadah untuk manjalang mertua dan mamak terdekat sebelum puasa.
æææ
Masa peralihan ini memantik kekacauan hebat di kampungku. Tragisnya lagi, meminta korban, seseorang yang sangat dihormati di kampungku. Namanya Syahril Umam Datuk Palimo Kayo, dan biasa dipanggil Buya Palimo Kayo. Beliau imam tetap masjid Nurul Falah jorong Koto Tinggi, mantan ketua kerapatan adat nagari dan sering diundang ke berbagai tempat untuk memberi pengajian. Kematian Buya Plaimo Kayo terbilang nekad dan sadis. Pelakunya berani membunuh orang yang bukan orang sembarangan. Karena Buya Palimo Kayo dimuliakan secara adat dan agama. Didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Terdapat banyak luka tusuk di perut, dada dan leher korban nyaris putus. Hinanya lagi, celana dalam korban diletakan di kepalanya dan peci hajinya digantung di telinganya. Tubuh korban diikat ditunggul pepokok asam di samping kandang sapi yang berada di ujung nagari.
Seminggu kemudian, di saat kenangan manis bersama Buya Palimo Kayo bagi penduduk kampungku tinggal di merahnya tanah kuburan, sang pelaku baru dapat diringkus pihak berwajib. Siapa yang menyangka pelakunya keluarga terdekat beliau. Siapa pula yang menyangka bila otak di balik pembunuhan tersebut orang-orang terpandang di kampungku. Terencana dan berantai.
Pelaku pembunuhan tersebut tak lain adalah kemenakan Buya Plimo Kayo sendiri. Rizal Efendi namanya. Sang kemenakan sampai hati melakukan perbuatan terkutuk itu karena permintaannya untuk menggadaikan sawah sebagai modal membuka usaha photo copy di Pekalongan Jawa Tengah tak kunjung direstui sang mamak. Kemenakan termakan hasutan pihak luar yang sengaja menangguk ikan di air keruh. Apalagi ia amat lihai mengaduk-aduk perasaan sang kemenakan hingga gelap mata. Bagai bara api disiram minyak tanah. Bergelora. Seperti luka yang ditetesi air asam. Perih.
Siapa yang tidak kenal dengan Datuk Tanameh yang mahir sekali berpetatah-petitih adat dan sering disewa untuk keperluan baralek. Datuk Tanameh menaruh kesumat karena Buya Palimo Kayo terang-terangan memihak Edi Tampalo dalam pemilihan wali nagari empat bulan lalu. Karena bagaimana pun, dimana-mana pilihan seorang ulama akan diikuti banyak orang. Akibatnya Datuk Tanameh kalah telak. Padahal ia telah mengeluarkan banyak pitih dalam kampanye tersebut.
Pihak kedua yang punya andil terbunuhnya Buya Palimo Kayo adalah seorang ninik mamak terkemuka di kampungku. Ismail Tayeb Datuk Rajo Sangano namanya. Petinggi suku Chaniago ini pernah dikalahkan Buya Palimo Kayo dalam pemilihan ketua kerapatan adat nagari beberapa tahun silam. Kebencian Datuk Rajo Sangano semakin tak terbendung akibat kekalahannya dalam sengketa batas tanah ulayat. Pengadilan memenangkan pihak Buya Palimo Kayo.
Sahabat akrab beliau sesama penyiar agama, Buya Malin Dubalang, berperan juga dalam pembunuhan tersebut. Di usia muda, keduanya pernah sama-sama belajar di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Gurun dibawah asuhan almarhum Buya Ramli Bakar. Sepeninggal Buya Ramli, keduanya melanjutkan pendidikan ke Malalo di bawah asuhan Buya Bustami Rauf. Keduanya juga sama-sama menunaikan ibadah haji
Sejatinya perseteruan dua buya ini dipicu oleh sengketa paham. Ceritanya, beberapa waktu setelah resmi baliak ka nagari, Buya Malin Dubalang berniat menggunakan bahasa Arab dalam khutbah Jumat dan khutbah hari raya kelak. Buya Malin Dubalang juga meminta salah satu masjid untuk melaksanakan niatnya itu. Namun niat tersebut kandas dalam rapat nagari. Karena dikuatirkan akan memecah belah nagari. Buya Palimo Kayo termasuk orang yang getol menolak keinginan Buya Malin Dubalang. Menurutnya, khutbah berbahasa
Perlawanan kelompok Buya Malin Dubalang semakin kentara dalam menetapkan awal puasa lalu. Kelompok Buya Malin Dubalang terlambat dua hari, baru berpuasa setelah ada kabar terlihat hilal dari Ulakan di pantai utara Pariaman. Suasana yang sudah memanas ini diperkeruh oleh pernyataan Buya Palimo Kayo bahwa bulan Ramadhan bulan panennya buya-buya. Mestinya bulan Ramadhan tempat untuk memberi dan bukannya tempat untuk mengeruk keuntungan pribadi semata. Apalagi dengan jalan menjual ayat-ayat Tuhan dan memecah belah umat.
Masyarakat langsung mengaitkan ke mana arah ceramah Buya Palimo Kayo. Siapa lagi yang disindir kalau bukan Buya Malin Dubalang. Merasa dijatuhkan, kontan saja Buya Malin Dubalang dan kelompoknya naik pitam. Gemetaran menahan dongkol. Dalam suatu pengajian Buya Malin Dubalang menyatakan bulan Ramadhan bulan panennya buya-buya katidiang.
æææ
Itu pertama kalinya kampungku masuk media
Tampak langit murung saja di atas tanduk rumah gadang dan menitipkan ruyak tukak di kubah masjid
Sungguh-sungguh kusaksikan langit tiris mengguyur salingka nagari.
//Purworejo, Kota Berirama, Akhir Agustus 2006
Cerpen, Harian Surya, Minggu, 26 November 2006
Langganan:
Postingan (Atom)
