Kata orang bijak, kebenaran pengalaman posisinya di atas kebenaran rasionalitas. Lahir dan populernya ungkapan “pengalaman adalah guru yang terbaik” menjadi bukti bahwa pengalaman itu sangat penting dan strategis posisinya dalam menjalani kehidupan. Sebab, apa yang dikonstruks oleh pikiran belum tentu sesuai dengan realitas yang sesungguhnya. Pengalaman yang dimaksudkan di sini, di samping ekuivalen dengan profesionalisme, juga berbanding lurus dengan adanya hasrat, niat, keinginan, dan tekad untuk senantiasa belajar dan memperbaiki diri.
Oleh sebab itu, kategori-kategori yang telah dipancangkan dan klasifikasi-klasifikasi yang disematkan pada person, golongan, kelompok, budaya, dan lain sebagainya, senantiasa mengalami perubahan dan pasang surut mengikuti perkembangan zaman. Dengan sendirinya, cara pandang, cara berpikir, asumsi yang dibangun, dan bahkan hasil dari apa yang telah dikerjakan selama ini, semestinya juga dibaca dalam proses ini.
Pangeran Diponegoro, misalnya, di mata orang Indonesia digadang-gadang sebagai pahlawan, sedangkan dalam pandangan penjajah Belanda ia dicap sebagai pemberontak. Itu baru dari dua perspektif. Belum lagi Pangeran Diponegoro kita baca dari perspektif dan kaca mata yang lain.
Orang bijak lain juga mengingatkan kita, “Bacalah pemikiran filosofmu secara terbalik, niscaya akan kamu temukan ihwal yang ganjil darinya”. Petuah ini mengajak dan sekaligus mengingatkan kita untuk selalu awas, kritis, dan hati-hati ketika menilai seseorang, kelompok, lembaga, dan yang lainnya. Bahkan pada seseorang yang telah kenal sekalipun. Sebab, kegetiran seringkali bersembunyi di balik topeng fairplay, kepiluan acapkali membonceng pada “ideologi” demi kebaikan bersama, dan manusia seringkali dikorbankan demi menjaga kesucian agama atau adat tertentu.
Apa yang telah dilakukan oleh Melayu Online selama ini merupakan kerja-kerja kultural dan sumbangsih intelektual yang tak terhingga nilainya. Meski baru menginjak tahun kedua, Melayu Online telah menyumbangkan sesuatu yang berharga bagi peradaban. Dibaca dan diaksesnya Melayu Online oleh berbagai kalangan dan dari berbagai belahan dunia, bahkan oleh masyarakat yang asal negaranya sangat asing dan tidak begitu terlihat dalam peta, membuktikan bahwa Melayu Online telah mendunia dan milik siapa saja. Dengan sendirinya, pribadi-pribadi yang terlibat dan intens di dalamnya merupakan pribadi-pribadi yang telah mendedikasikan dirinya untuk tamadun dunia Melayu dan ilmu pengetahun pada umumnya.
Semoga ke depannya, Melayu Online tetap konsisten dengan visi dan misi awalnya sebagai pangkalan data terbesar tentang dunia Melayu di jagat dunia maya. Tentu saja diiringi dengan kerja-kerja yang berpegang pada “kebenaran pengalaman” dan bisa membaca “ihwal yang ganjil” dari sebuah pemikiran dan gerak zaman yang susah ditebak tapal perhentiannya.
Selamat Ulang Tahun Ke-2 Melayu Online.
Semoga tetap jaya di dunia tak berbatas...
Yusriandi Pagarah
Redaktur Sastra
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Jumat, 20 Februari 2009
Sabtu, 10 Januari 2009
Islamnya Napoleon Bonaparte
Siapa yang tidak mengenal Napoleon Bonaparte, seorang Jendral dan Kaisar Prancis yang tenar kelahiran Ajaccio, Corsica 1769. Namanya terdapat dalam urutan ke-34 dari Seratus Tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah yang ditulis oleh Michael H. Hart.
Sebagai seorang yang berkuasa dan berdaulat penuh terhadap negara Prancis sejak Agustus 1793, seharusnya ia merasa puas dengan segala apa yang telah diperolehnya itu.
Tapi rupanya kemegahan dunia belum bisa memuaskan batinnya, agama yang dianutnya waktu itu ternyata tidak bisa membuat Napoleon Bonaparte merasa tenang dan damai.
Akhirnya pada tanggal 02 Juli 1798, 23 tahun sebelum kematiannya ditahun 1821, Napoleon Bonaparte menyatakan ke-Islamannya dihadapan dunia Internasional.
Apa yang membuat Napoleon ini lebih memilih Islam daripada agama lamanya, Kristen?
Berikut penuturannya sendiri yang pernah dimuat dimajalah Genuine Islam, edisi Oktober 1936 terbitan Singapura.
“I read the Bible; Moses was an able man, the Jews are villains, cowardly and cruel. Is there anything more horrible than the story of Lot and his daughters ?”
“The science which proves to us that the earth is not the centre of the celestial movements has struck a great blow at religion. Joshua stops the sun ! One shall see the stars falling into the sea… I say that of all the suns and planets,…”
“Saya membaca Bible; Musa adalah orang yang cakap, sedang orang Yahudi adalah bangsat, pengecut dan jahat. Adakah sesuatu yang lebih dahsyat daripada kisah Lut beserta kedua puterinya ?” (Lihat Kejadian 19:30-38)
“Sains telah menunjukkan bukti kepada kita, bahwa bumi bukanlah pusat tata surya, dan ini merupakan pukulan hebat terhadap agama Kristen. Yosua menghentikan matahari (Yosua 10: 12-13). Orang akan melihat bintang-bintang berjatuhan kedalam laut…. saya katakan, semua matahari dan planet-planet ….”
Selanjutnya Napoleon Bonaparte berkata:
“Religions are always based on miracles, on such things than nobody listens to like Trinity. Yesus called himself the son of God and he was a descendant of David. I prefer the religion of Muhammad. It has less ridiculous things than ours; the turks also call us idolaters.”
“Agama-agama itu selalu didasarkan pada hal-hal yang ajaib, seperti halnya Trinitas yang sulit dipahami. Yesus memanggil dirinya sebagai anak Tuhan, padahal ia keturunan Daud. Saya lebih meyakini agama yang dibawa oleh Muhammad. Islam terhindar jauh dari kelucuan-kelucuan ritual seperti yang terdapat didalam agama kita (Kristen); Bangsa Turki juga menyebut kita sebagai orang-orang penyembah berhala dan dewa.”
Selanjutnya:
“Surely, I have told you on different occations and I have intimated to you by various discourses that I am a Unitarian Musselman and I glorify the prophet Muhammad and that I love the Musselmans.”
“Dengan penuh kepastian saya telah mengatakan kepada anda semua pada kesempatan yang berbeda, dan saya harus memperjelas lagi kepada anda disetiap ceramah, bahwa saya adalah seorang Muslim, dan saya memuliakan nabi Muhammad serta mencintai orang-orang Islam.”
Akhirnya ia berkata:
“In the name of God the Merciful, the Compassionate. There is no god but God, He has no son and He reigns without a partner.”
“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tiada Tuhan selain Allah. Ia tidak beranak dan Ia mengatur segala makhlukNya tanpa pendamping.”
Napoleon Bonaparte mengagumi AlQuran setelah membandingkan dengan kitab sucinya, Alkitab (Injil). Akhirnya ia menemukan keunggulan-keunggulan Al-Quran daripada Alkitab (Injil), juga semua cerita yang melatar belakanginya.
Referensi:
1. Memoirs of Napoleon Bonaparte by Louis Antoine Fauvelet de Bourrienne edited by R.W. Phipps. Vol. 1 (New York: Charles Scribner’s Sons, 1889) p. 168-169.
http://chnm.gmu.edu/revolution/d/612/
2. ‘Napoleon And Islam’ by C. Cherfils. ISBN: 967-61-0898-7
http://www.shef.ac.uk/~ics/whatis/articles/napoleon.htm
3. Satanic Voices - Ancient and Modern by David M. Pidcock, (1992 ISBN: 1-81012-03-1), it states on page 61, that the then official French Newspaper, Le Moniteur, carried the accounts of his conversion to Islam, in 1798 C.E
source : http://www.kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=56
Sebagai seorang yang berkuasa dan berdaulat penuh terhadap negara Prancis sejak Agustus 1793, seharusnya ia merasa puas dengan segala apa yang telah diperolehnya itu.
Tapi rupanya kemegahan dunia belum bisa memuaskan batinnya, agama yang dianutnya waktu itu ternyata tidak bisa membuat Napoleon Bonaparte merasa tenang dan damai.
Akhirnya pada tanggal 02 Juli 1798, 23 tahun sebelum kematiannya ditahun 1821, Napoleon Bonaparte menyatakan ke-Islamannya dihadapan dunia Internasional.
Apa yang membuat Napoleon ini lebih memilih Islam daripada agama lamanya, Kristen?
Berikut penuturannya sendiri yang pernah dimuat dimajalah Genuine Islam, edisi Oktober 1936 terbitan Singapura.
“I read the Bible; Moses was an able man, the Jews are villains, cowardly and cruel. Is there anything more horrible than the story of Lot and his daughters ?”
“The science which proves to us that the earth is not the centre of the celestial movements has struck a great blow at religion. Joshua stops the sun ! One shall see the stars falling into the sea… I say that of all the suns and planets,…”
“Saya membaca Bible; Musa adalah orang yang cakap, sedang orang Yahudi adalah bangsat, pengecut dan jahat. Adakah sesuatu yang lebih dahsyat daripada kisah Lut beserta kedua puterinya ?” (Lihat Kejadian 19:30-38)
“Sains telah menunjukkan bukti kepada kita, bahwa bumi bukanlah pusat tata surya, dan ini merupakan pukulan hebat terhadap agama Kristen. Yosua menghentikan matahari (Yosua 10: 12-13). Orang akan melihat bintang-bintang berjatuhan kedalam laut…. saya katakan, semua matahari dan planet-planet ….”
Selanjutnya Napoleon Bonaparte berkata:
“Religions are always based on miracles, on such things than nobody listens to like Trinity. Yesus called himself the son of God and he was a descendant of David. I prefer the religion of Muhammad. It has less ridiculous things than ours; the turks also call us idolaters.”
“Agama-agama itu selalu didasarkan pada hal-hal yang ajaib, seperti halnya Trinitas yang sulit dipahami. Yesus memanggil dirinya sebagai anak Tuhan, padahal ia keturunan Daud. Saya lebih meyakini agama yang dibawa oleh Muhammad. Islam terhindar jauh dari kelucuan-kelucuan ritual seperti yang terdapat didalam agama kita (Kristen); Bangsa Turki juga menyebut kita sebagai orang-orang penyembah berhala dan dewa.”
Selanjutnya:
“Surely, I have told you on different occations and I have intimated to you by various discourses that I am a Unitarian Musselman and I glorify the prophet Muhammad and that I love the Musselmans.”
“Dengan penuh kepastian saya telah mengatakan kepada anda semua pada kesempatan yang berbeda, dan saya harus memperjelas lagi kepada anda disetiap ceramah, bahwa saya adalah seorang Muslim, dan saya memuliakan nabi Muhammad serta mencintai orang-orang Islam.”
Akhirnya ia berkata:
“In the name of God the Merciful, the Compassionate. There is no god but God, He has no son and He reigns without a partner.”
“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tiada Tuhan selain Allah. Ia tidak beranak dan Ia mengatur segala makhlukNya tanpa pendamping.”
Napoleon Bonaparte mengagumi AlQuran setelah membandingkan dengan kitab sucinya, Alkitab (Injil). Akhirnya ia menemukan keunggulan-keunggulan Al-Quran daripada Alkitab (Injil), juga semua cerita yang melatar belakanginya.
Referensi:
1. Memoirs of Napoleon Bonaparte by Louis Antoine Fauvelet de Bourrienne edited by R.W. Phipps. Vol. 1 (New York: Charles Scribner’s Sons, 1889) p. 168-169.
http://chnm.gmu.edu/revolution/d/612/
2. ‘Napoleon And Islam’ by C. Cherfils. ISBN: 967-61-0898-7
http://www.shef.ac.uk/~ics/whatis/articles/napoleon.htm
3. Satanic Voices - Ancient and Modern by David M. Pidcock, (1992 ISBN: 1-81012-03-1), it states on page 61, that the then official French Newspaper, Le Moniteur, carried the accounts of his conversion to Islam, in 1798 C.E
source : http://www.kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=56
Jumat, 09 Januari 2009
Gagasan Masyarakat Kitab
Yusriandi Pagarah*
Belakangan ini kita “dimanjakan” oleh berbagai tindak kekerasan dan praktik anarkisme di berbagai lini dengan beraneka motif dan modus operandi. Seakan-akan berbagai laku kriminalitas di negeri ini ada berkarung-karung dan berlapis-lapis.
Pengamalan agama atau tafsiran kitab suci yang bias diklaim sebagai pemicu beragam komplik itu. Agama dijadikan “tersangka”, dan dalam hitungan menit sebagai “terdakwa” akibat ulah pembelanya yang berwawasan sempit dan ingin benar sendiri.
Pluralisme sebagai Keniscayaan
Adalah suatu kenyataan historis yang tidak dapat disangkal bahwa bumi manusia hanya satu, sementara penghuninya terkotakan dalam berbagai suku, agama, ras, bangsa, profesi, golongan dan budaya. Membayangkan agar dalam kehidupan ini hanya terdapat satu agama, tampaknya hanya ilusi semata. Yang dibutuhkan manusia bukanlah menjadi satu dan sama dalam hal agama, tapi bagaimana menyikapi pluralitas agama dan keyakinan secara dewasa dan cerdas. Mengakui pluralisme berbanding lurus dengan sikap inklusivisme. Memandang penganut agama lain sebagai teman atau tetangga, bahkan sebagai saudara. Dari sini akan tampil interaksi sosial antaragama, keyakinan dan ideologi yang harmonis. (Ruslani, 2000: 20-21)
Dialog sangat dibutuhkan di tengah pluralisme. Dalam konteks pluralisme agama, pluralisme berkait-kelindan dengan keragaman kebertuhanan dan keyakinan, dengan menampilkan pluralisme budaya sebagai latar belakang yang menjadi basis pemahaman. (M.W. Nafis, 1998: 92). Dialog yang dialogis akan meumbuhlkan sikap terbuka dalam beragama, ramah dalam perbedaan. Juga akan mengikis mentalitas ingin benar sendiri dan bersigegas menghakimi orang lain.
Menarik sesungguhnya metafor “pintu-pintu menuju Tuhan” yang digagas almarhum Cak Nur. Sesungguhnya kita berasal dan menuju tempat yang sama, yaitu Tuhan. Jalan dan cara ke sana yang membedakan kita. Dalam persfektif filsafat ilmu Imrẻ Lakatos, Tuhan adalah hard care yang sama, sedangkan jalan dan cara mencari Tuhan yang berbeda-beda sebagai protective belt-nya.
Menuju Masyarakat Kitab
Definisi kawan dan lawan tampaknya ada dalam tradisi setiap agama, dan biasanya ditentukan secara etis, bahkan politis. Dalam agama Islam misalnya, banyak istilah teknis yang dipakai untuk mengidentifikasi diri dan orang lain dalam oposisi biner yang harus dievaluasi, seperti islam-kafir, iman-murtad, ahl al-zimmi-ahl al-harb. Dalam konteks dialog antaragama, istilah Ahl Al-Kitab sering dijadikan titik berangkat sekaligus titik fokus.
Ada beberapa masalah dalam membahas Ahl Al-Kitab sebagai kelompok agama kontemporer yang dianggap sama dengan yang dimaksud al-Qur’an. Posisi al-Qur’an terhadap Ahl Al-Kitab, bahkan pengertian siapa yang dimaksud dengan term tersebut, berkembang dalam beberapa fase. Memang ada kesepakatan bahwa istilah ini selalu ditujukan kepada kaum Yahudi dan Nasrani yang ditemui Nabi selama misi kenabiannya. Al-Qur’an pada dasarnya hanya menyinggung keyakinan dan prilaku kaum Ahl Al-Kitab yang benar-benar mengalami kontak sosial dengan Muslim awal. Sementara itu, menyamakan begitu saja kategori al-Qur’an tentang Ahl Al-Kitab dengan kaum Yahudi dan Nasrani dalam masyarakat kontemporer berarti mengabaikan realitas historis masyarakat Madinah, serta perbedaan teologis antara kaum Yahudi dan Nasrani dulu dan sekarang. (F. Esack, 2000: 198)
Namun pada dasarnya, bila ditelusuri lebih jauh lagi, pembicaraan al-Qur’an tentang Ahl Al-Kitab sangat apresiatif. Bahkan peringatan dan kecaman kepada mereka masih mengindikasikan adanya uluran tangan. Permusuhan bukan karena faktor agama, tapi lebih pada sikap eksklusif, gugusan ekonomi, dan kepentingan politik praktis. (M. Ghalib, 1998: 188-9)
Sementara itu, Mohammed Arkoun—pemikir Islam terkemuka kelahiran Aljazair yang menjadi guru besar di Universitas Sarbone Prancis—memberi pemaknaan yang lebih segar tentang term Ahl Al-Kitab, yaitu Masyarakat Kitab. Arkoun (1994) ingin keluar dari polemis dan belitan teologis yang bias. Juga ingin melampaui, passing over, pembacaan konvensional untuk mengintegrasikan berbagai aspek tradisi, tingkat realitas, metode analisis, dan cakrawala pengetahuan yang dipengaruhi paham positivisme dan terkurung oleh nalar modern yang rasis.
Ketika membicarakan Masyarakat Kitab, Arkoun menggunakan metode historis dan antropologis mengenai wahyu yang memunculkan tiga tradisi agama Semit atau Abrahamic Religions, Yahudi, Kristen dan Islam. Kedua metode itu melahirkan pemahaman baru tentang setting sejarah munculnya kitab suci dalam agama-agama wahyu. Bagi Arkoun, agama berada di tengah masyarakat dan dalam sejarah manusia, bukan di atasnya. (Ruslani, 2000: 121) Lebih jauh pembacaan Arkoun tentang Ahl Al-Kitab berimplikasi untuk mengakui komunitas agama non-Semitik Suatu tawaran yang tidak hanya bernas dan relevan dengan perkembangan zaman, tapi juga harus dikembangkan dalam tataran praksis. Agar pesan damai dan fungsi agama untuk menenangkan hati dan pikiran manusia benar-benar hadir di tengah-tengah realitas sosial masyarakat.
*Kulturalis, bergiat pada Komunitas Perairan Wacana Jogjakarta.
Opini, Bali Pos, Desember 2005
Belakangan ini kita “dimanjakan” oleh berbagai tindak kekerasan dan praktik anarkisme di berbagai lini dengan beraneka motif dan modus operandi. Seakan-akan berbagai laku kriminalitas di negeri ini ada berkarung-karung dan berlapis-lapis.
Pengamalan agama atau tafsiran kitab suci yang bias diklaim sebagai pemicu beragam komplik itu. Agama dijadikan “tersangka”, dan dalam hitungan menit sebagai “terdakwa” akibat ulah pembelanya yang berwawasan sempit dan ingin benar sendiri.
Pluralisme sebagai Keniscayaan
Adalah suatu kenyataan historis yang tidak dapat disangkal bahwa bumi manusia hanya satu, sementara penghuninya terkotakan dalam berbagai suku, agama, ras, bangsa, profesi, golongan dan budaya. Membayangkan agar dalam kehidupan ini hanya terdapat satu agama, tampaknya hanya ilusi semata. Yang dibutuhkan manusia bukanlah menjadi satu dan sama dalam hal agama, tapi bagaimana menyikapi pluralitas agama dan keyakinan secara dewasa dan cerdas. Mengakui pluralisme berbanding lurus dengan sikap inklusivisme. Memandang penganut agama lain sebagai teman atau tetangga, bahkan sebagai saudara. Dari sini akan tampil interaksi sosial antaragama, keyakinan dan ideologi yang harmonis. (Ruslani, 2000: 20-21)
Dialog sangat dibutuhkan di tengah pluralisme. Dalam konteks pluralisme agama, pluralisme berkait-kelindan dengan keragaman kebertuhanan dan keyakinan, dengan menampilkan pluralisme budaya sebagai latar belakang yang menjadi basis pemahaman. (M.W. Nafis, 1998: 92). Dialog yang dialogis akan meumbuhlkan sikap terbuka dalam beragama, ramah dalam perbedaan. Juga akan mengikis mentalitas ingin benar sendiri dan bersigegas menghakimi orang lain.
Menarik sesungguhnya metafor “pintu-pintu menuju Tuhan” yang digagas almarhum Cak Nur. Sesungguhnya kita berasal dan menuju tempat yang sama, yaitu Tuhan. Jalan dan cara ke sana yang membedakan kita. Dalam persfektif filsafat ilmu Imrẻ Lakatos, Tuhan adalah hard care yang sama, sedangkan jalan dan cara mencari Tuhan yang berbeda-beda sebagai protective belt-nya.
Menuju Masyarakat Kitab
Definisi kawan dan lawan tampaknya ada dalam tradisi setiap agama, dan biasanya ditentukan secara etis, bahkan politis. Dalam agama Islam misalnya, banyak istilah teknis yang dipakai untuk mengidentifikasi diri dan orang lain dalam oposisi biner yang harus dievaluasi, seperti islam-kafir, iman-murtad, ahl al-zimmi-ahl al-harb. Dalam konteks dialog antaragama, istilah Ahl Al-Kitab sering dijadikan titik berangkat sekaligus titik fokus.
Ada beberapa masalah dalam membahas Ahl Al-Kitab sebagai kelompok agama kontemporer yang dianggap sama dengan yang dimaksud al-Qur’an. Posisi al-Qur’an terhadap Ahl Al-Kitab, bahkan pengertian siapa yang dimaksud dengan term tersebut, berkembang dalam beberapa fase. Memang ada kesepakatan bahwa istilah ini selalu ditujukan kepada kaum Yahudi dan Nasrani yang ditemui Nabi selama misi kenabiannya. Al-Qur’an pada dasarnya hanya menyinggung keyakinan dan prilaku kaum Ahl Al-Kitab yang benar-benar mengalami kontak sosial dengan Muslim awal. Sementara itu, menyamakan begitu saja kategori al-Qur’an tentang Ahl Al-Kitab dengan kaum Yahudi dan Nasrani dalam masyarakat kontemporer berarti mengabaikan realitas historis masyarakat Madinah, serta perbedaan teologis antara kaum Yahudi dan Nasrani dulu dan sekarang. (F. Esack, 2000: 198)
Namun pada dasarnya, bila ditelusuri lebih jauh lagi, pembicaraan al-Qur’an tentang Ahl Al-Kitab sangat apresiatif. Bahkan peringatan dan kecaman kepada mereka masih mengindikasikan adanya uluran tangan. Permusuhan bukan karena faktor agama, tapi lebih pada sikap eksklusif, gugusan ekonomi, dan kepentingan politik praktis. (M. Ghalib, 1998: 188-9)
Sementara itu, Mohammed Arkoun—pemikir Islam terkemuka kelahiran Aljazair yang menjadi guru besar di Universitas Sarbone Prancis—memberi pemaknaan yang lebih segar tentang term Ahl Al-Kitab, yaitu Masyarakat Kitab. Arkoun (1994) ingin keluar dari polemis dan belitan teologis yang bias. Juga ingin melampaui, passing over, pembacaan konvensional untuk mengintegrasikan berbagai aspek tradisi, tingkat realitas, metode analisis, dan cakrawala pengetahuan yang dipengaruhi paham positivisme dan terkurung oleh nalar modern yang rasis.
Ketika membicarakan Masyarakat Kitab, Arkoun menggunakan metode historis dan antropologis mengenai wahyu yang memunculkan tiga tradisi agama Semit atau Abrahamic Religions, Yahudi, Kristen dan Islam. Kedua metode itu melahirkan pemahaman baru tentang setting sejarah munculnya kitab suci dalam agama-agama wahyu. Bagi Arkoun, agama berada di tengah masyarakat dan dalam sejarah manusia, bukan di atasnya. (Ruslani, 2000: 121) Lebih jauh pembacaan Arkoun tentang Ahl Al-Kitab berimplikasi untuk mengakui komunitas agama non-Semitik Suatu tawaran yang tidak hanya bernas dan relevan dengan perkembangan zaman, tapi juga harus dikembangkan dalam tataran praksis. Agar pesan damai dan fungsi agama untuk menenangkan hati dan pikiran manusia benar-benar hadir di tengah-tengah realitas sosial masyarakat.
*Kulturalis, bergiat pada Komunitas Perairan Wacana Jogjakarta.
Opini, Bali Pos, Desember 2005
Perihal Kejahatan Menurut Durkheim
Yusriandi Pagarah*
Emile Durkheim (1858-1917), sosiolog kenamaan berkebangsaan Prancis, tentu sangat familiar di kalangan teorikus sosial dan peminat studi kebudayaan. Bahkan di antara pakar sosial dan kebudayaan, ada yang menganut mazhab Durkheimian ketika melakukan penilaian terhadap berbagai gejala sosial yang mencuat di tengah masyarakat. Kontribusi Durkheim pada ranah pengetahuan bukan sekadar karena di tangannya sosiologi menjadi sebuah disiplin ilmu yang otonom.
Seturut Tom Campbell (1994: 14, 164), sebagai teorikus masyarakat, setidaknya ada dua sumbangsih utama Durkheim. Pertama, sebagaimana halnya Thomas Hobbes, Durkheim tidak semata-mata melukiskan kehidupan sosial atau menceritakan sejarah perkembangan sosial demi kehidupan sosial atau sejarah perkembangan sosial itu sendiri. Tetapi lebih pada sumbangan teoritisnya yang memandu bagaimana kita melihat dan kemudian menilai relasi-relasi sosial di tengah masyarakat. Membaca karya-karya Durkheim tidak semata kaya dengan informasi atau penyajian bahan mentah, tetapi lebih karena ia mempersenjatai kita dengan pemahaman yang hujam mengenai fenomena sosial.
Kedua, Durkheim meyakinkan semua orang bahwa sebuah ilmu pengetahuan mengenai masyarakat dapat membantu kita dalam memecahkan pelbagai persoalan moral dan intelektual masyarakat. Ia memperkaya khazanah lokus dan habitus pengetahuan kita dalam memilah dan memilih pelbagai persoalan sosial yang ada di masyarakat. Tingkah laku dan sepak terjang manusia tidak lagi ditetak dari satu sudut pandang normatif-etis semata, yang berbuhul pada moralitas agama, norma tradisi, atau etika teologi, tetapi dapat juga diurai dari sudut pandang ilmiah.
Dua hal tersebut dapat kita inderai dari publikasi-publikasi karya teoritis Durkheim, seperti The Division of Labour (1893) yang membahas hakikat solidaritas masyarakat, Suicide (1879) yang mengulas sebab-sebab sosial seseorang melakukan bunuh diri, dan The Elementary Form of Religious Life (1912) yang memaparkan secara bernas fungsi agama pada masyarakat primitif. Kritik pedasnya terhadap para teoretikus sosial yang melakukan distansiasi tanpa prasangka pada realitas sosial laiknya seorang ilmuan, dapat dibaca dalam Rules of Sociological Method (1895).
Perihal kejahatan
Salah satu ancangan khas mantan guru besar ilmu sosial Universitas Bordeux dan profesor sosiologi Universitas Sorbonne Paris tersebut adalah teorinya tentang kejahatan. Teorinya tersebut tidak saja membuat geger kaum moralis, tetapi juga membuat para penguasa gerah bagai orang kebakaran jenggot. Durkheim mencoba membalikkan asumsi mengenai kejahatan yang dirancang teoretikus sosial atau anggapan umum yang tertanam di tengah masyarakat selama ini.
Durkheim mempertanyakan, apakah kejahatan merupakan tingkah laku menyimpang dari norma-norma masyarakat, ataukah suatu bentuk tingkah laku yang muncul sebagai produk yang dihasilkan masyarakatnya? Apakah perbuatan adalah jahat sehingga masyarakat mengutuknya, atau suatu perbuatan menjadi jahat karena masyarakat terus-menerus mengutuknya? Dengan lain perkataan, apakah masyarakat memang menjadi korban dari seseorang yang dianggap kriminal, ataukah sebaliknya, seorang kriminal adalah korban perlakuan dan sikap masyarakatnya yang memandangnya sebagai penjahat?
Intisari teori dan logika terbalik Durkheim yang relatif sederhana ini, sangat relevan dan dapat membantu kita untuk menganalisis berbagai tingkah laku menyimpang (deviant behavior) yang tak putus-putusnya dilakukan masyarakat Indonesia dewasa ini. Mengikuti logika atau alur pikir teori ini, dapat dipertanyakan juga hubungan antara tingkah laku masyarakat dengan tingkah laku para pemimpinnya. Apakah suatu kejahatan harus dilihat sebagai penyelewengan dari keinginan normatif para pemimpin, ataukah sebagai hasil sosialisasi tingkah laku empiris para pemimpinnya?
Dampak hipokrisi penguasa ini melahirkan ekses negatif yang begitu panjang dan berbahaya di tengah-tengah masyarakat. Aksi kapak merah di lampu merah adalah cermin dari penguasa yang menggarong uang negara tanpa ada proses hukum yang jelas. Lemahnya etos kerja masyarakat berbanding lurus dengan mental anggota dewan yang sering bolos dari gedung DPR atau mendekur ketika rapat tentang masayarakat yang notabene konstituennya. Maraknya illegal loging menggambarkan betapa lemahnya koordinasi antar aparat terkait atau lembaga berwenang dan begitu leluasanya praktik suap berkembang biak. Beredarnya video mesum pelajar dan mahasiswa cermin gagalnya lembaga pendidikan menjalankan fungsi profetisnya untuk mencerdaskan bangsa.
Aksi mogok buruh dan demo anarkis pekerja dipicu oleh ulah pengusaha yang ingin menang sendiri dan pemilik kapital yang abai pada kesejahteraan karyawannya. Sinisme pemeluk agama dan kelompok keagamaan belakangan ini dampak dari sibuknya pemimpin agama memikirkan dirinya sendiri atau tergoda dunia politik. Pergaulan bebas remaja yang kebablasan akibat dari gagalnya orang tua memberi teladan yang baik kepada anaknya. Maraknya tempat-tempat mesum akibat dari lemahnya kontrol sosial dari masyarakat sekitarnya (Ignas Kleden, 1999: 197).
Tesis Durkheim ini sesungguhnya juga berkoreferensi dengan—untuk tidak mengatakan menjustifikasi—hasil penelitian Unicef tentang tindak kekerasan di tiga daerah, yaitu Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan yang dirilis di penghujung tahun lalu. Dalam laporannya, lembaga internasional tersebut menunjuk orang tua dan guru yang paling banyak melakukan tindakan kekerasan. Dengan lain perkataan, tindak kekerasan di negeri ini diturunkan dari atas. Prilaku masyarakat merupakan cermin dari prilaku penguasa. Air cucuran atap jatuhnya tidak jauh dari belanga. Guru kencing berdiri murid kencing berlari.
Bila lingkaran setan ini tidak segera dipungkasi, akan melahirkan praktik-praktik penyimpangan yang akan memakan ongkos sosial yang lebih mahal. Juga akan melahirkan berbagai efek negatif yang meresahkan masyarakat. Suatu hal yang sesungguhnya telah menjadi kegelisahan Durkheim dalam karya-karya teoritisnya yang kini terbilang klasik itu. Namun tetap relevan dirujuk untuk menyigi aneka fenomena sosial akut saat ini.***
*Kulturalis, bergiat pada Komunitas Perairan Wacana Jogjakarta
Opini,Sinar Harapan, 2006
Emile Durkheim (1858-1917), sosiolog kenamaan berkebangsaan Prancis, tentu sangat familiar di kalangan teorikus sosial dan peminat studi kebudayaan. Bahkan di antara pakar sosial dan kebudayaan, ada yang menganut mazhab Durkheimian ketika melakukan penilaian terhadap berbagai gejala sosial yang mencuat di tengah masyarakat. Kontribusi Durkheim pada ranah pengetahuan bukan sekadar karena di tangannya sosiologi menjadi sebuah disiplin ilmu yang otonom.
Seturut Tom Campbell (1994: 14, 164), sebagai teorikus masyarakat, setidaknya ada dua sumbangsih utama Durkheim. Pertama, sebagaimana halnya Thomas Hobbes, Durkheim tidak semata-mata melukiskan kehidupan sosial atau menceritakan sejarah perkembangan sosial demi kehidupan sosial atau sejarah perkembangan sosial itu sendiri. Tetapi lebih pada sumbangan teoritisnya yang memandu bagaimana kita melihat dan kemudian menilai relasi-relasi sosial di tengah masyarakat. Membaca karya-karya Durkheim tidak semata kaya dengan informasi atau penyajian bahan mentah, tetapi lebih karena ia mempersenjatai kita dengan pemahaman yang hujam mengenai fenomena sosial.
Kedua, Durkheim meyakinkan semua orang bahwa sebuah ilmu pengetahuan mengenai masyarakat dapat membantu kita dalam memecahkan pelbagai persoalan moral dan intelektual masyarakat. Ia memperkaya khazanah lokus dan habitus pengetahuan kita dalam memilah dan memilih pelbagai persoalan sosial yang ada di masyarakat. Tingkah laku dan sepak terjang manusia tidak lagi ditetak dari satu sudut pandang normatif-etis semata, yang berbuhul pada moralitas agama, norma tradisi, atau etika teologi, tetapi dapat juga diurai dari sudut pandang ilmiah.
Dua hal tersebut dapat kita inderai dari publikasi-publikasi karya teoritis Durkheim, seperti The Division of Labour (1893) yang membahas hakikat solidaritas masyarakat, Suicide (1879) yang mengulas sebab-sebab sosial seseorang melakukan bunuh diri, dan The Elementary Form of Religious Life (1912) yang memaparkan secara bernas fungsi agama pada masyarakat primitif. Kritik pedasnya terhadap para teoretikus sosial yang melakukan distansiasi tanpa prasangka pada realitas sosial laiknya seorang ilmuan, dapat dibaca dalam Rules of Sociological Method (1895).
Perihal kejahatan
Salah satu ancangan khas mantan guru besar ilmu sosial Universitas Bordeux dan profesor sosiologi Universitas Sorbonne Paris tersebut adalah teorinya tentang kejahatan. Teorinya tersebut tidak saja membuat geger kaum moralis, tetapi juga membuat para penguasa gerah bagai orang kebakaran jenggot. Durkheim mencoba membalikkan asumsi mengenai kejahatan yang dirancang teoretikus sosial atau anggapan umum yang tertanam di tengah masyarakat selama ini.
Durkheim mempertanyakan, apakah kejahatan merupakan tingkah laku menyimpang dari norma-norma masyarakat, ataukah suatu bentuk tingkah laku yang muncul sebagai produk yang dihasilkan masyarakatnya? Apakah perbuatan adalah jahat sehingga masyarakat mengutuknya, atau suatu perbuatan menjadi jahat karena masyarakat terus-menerus mengutuknya? Dengan lain perkataan, apakah masyarakat memang menjadi korban dari seseorang yang dianggap kriminal, ataukah sebaliknya, seorang kriminal adalah korban perlakuan dan sikap masyarakatnya yang memandangnya sebagai penjahat?
Intisari teori dan logika terbalik Durkheim yang relatif sederhana ini, sangat relevan dan dapat membantu kita untuk menganalisis berbagai tingkah laku menyimpang (deviant behavior) yang tak putus-putusnya dilakukan masyarakat Indonesia dewasa ini. Mengikuti logika atau alur pikir teori ini, dapat dipertanyakan juga hubungan antara tingkah laku masyarakat dengan tingkah laku para pemimpinnya. Apakah suatu kejahatan harus dilihat sebagai penyelewengan dari keinginan normatif para pemimpin, ataukah sebagai hasil sosialisasi tingkah laku empiris para pemimpinnya?
Dampak hipokrisi penguasa ini melahirkan ekses negatif yang begitu panjang dan berbahaya di tengah-tengah masyarakat. Aksi kapak merah di lampu merah adalah cermin dari penguasa yang menggarong uang negara tanpa ada proses hukum yang jelas. Lemahnya etos kerja masyarakat berbanding lurus dengan mental anggota dewan yang sering bolos dari gedung DPR atau mendekur ketika rapat tentang masayarakat yang notabene konstituennya. Maraknya illegal loging menggambarkan betapa lemahnya koordinasi antar aparat terkait atau lembaga berwenang dan begitu leluasanya praktik suap berkembang biak. Beredarnya video mesum pelajar dan mahasiswa cermin gagalnya lembaga pendidikan menjalankan fungsi profetisnya untuk mencerdaskan bangsa.
Aksi mogok buruh dan demo anarkis pekerja dipicu oleh ulah pengusaha yang ingin menang sendiri dan pemilik kapital yang abai pada kesejahteraan karyawannya. Sinisme pemeluk agama dan kelompok keagamaan belakangan ini dampak dari sibuknya pemimpin agama memikirkan dirinya sendiri atau tergoda dunia politik. Pergaulan bebas remaja yang kebablasan akibat dari gagalnya orang tua memberi teladan yang baik kepada anaknya. Maraknya tempat-tempat mesum akibat dari lemahnya kontrol sosial dari masyarakat sekitarnya (Ignas Kleden, 1999: 197).
Tesis Durkheim ini sesungguhnya juga berkoreferensi dengan—untuk tidak mengatakan menjustifikasi—hasil penelitian Unicef tentang tindak kekerasan di tiga daerah, yaitu Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan yang dirilis di penghujung tahun lalu. Dalam laporannya, lembaga internasional tersebut menunjuk orang tua dan guru yang paling banyak melakukan tindakan kekerasan. Dengan lain perkataan, tindak kekerasan di negeri ini diturunkan dari atas. Prilaku masyarakat merupakan cermin dari prilaku penguasa. Air cucuran atap jatuhnya tidak jauh dari belanga. Guru kencing berdiri murid kencing berlari.
Bila lingkaran setan ini tidak segera dipungkasi, akan melahirkan praktik-praktik penyimpangan yang akan memakan ongkos sosial yang lebih mahal. Juga akan melahirkan berbagai efek negatif yang meresahkan masyarakat. Suatu hal yang sesungguhnya telah menjadi kegelisahan Durkheim dalam karya-karya teoritisnya yang kini terbilang klasik itu. Namun tetap relevan dirujuk untuk menyigi aneka fenomena sosial akut saat ini.***
*Kulturalis, bergiat pada Komunitas Perairan Wacana Jogjakarta
Opini,Sinar Harapan, 2006
Rabu, 07 Januari 2009
Lengangnya Forum Diskusi Kami
Yusriandi Pagarah
Menarik, kalau bukannya menantang, menggeledah batang-tubuh yang bernama mahasiswa atau intelektual muda, berupa hilangnya tradisi diskusi. Karena sejatinya diskusi bagian integral dan proses yang tidak bisa dikesampingkan untuk mencetak generasi masa depan yang kritis-responsif. Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan berawal dari komunitas-komunitas marjinal dan dari kelompok-kelompok diskusi terbatas yang berada di luar arus mainstream. Forum diskusi Limited Group Yogyakarta yang dinahkodai almarhum Prof. A. Mukti Ali dan Klub Kajian Agama (KKA) Paramadina Jakarta yang dipimpin almarhum Prof. Nurcholish Madjid—untuk sekedar menyebut contohnya—akan dicatat dengan tinta emas dalam sejarah intelektual negeri ini.
Telah banyak ditulis orang perihal lamurnya tradisi diskusi tersebut. Namun kebanyakan tulisan tersebut baru sebatas cetusan-cetusan ide awal yang berasal dari sebuah keprihatinan atau kesadaran intelektual, yang merasa terganggu dengan “tenang tapi tidak menghanyutkan” lingkungan sekitarnya. Masih tersisa “lubang menganga” yang barangkali terlupakan, yaitu menelusuri penyebab dan ke mana perginya para intelektual muda tersebut hingga melengangkan ruang-ruang diskusi.
Beralihnya citra seorang intelektual
Lengangnya ruang diskusi di kampus-kampus atau di tempat-tempat yang biasanya dijadikan mahasiswa sebagai tempat untuk menghilir-mudikkan wacana terkini dan “menggilir” isu-isu mutakhir, seperti kantor Senat, UKM dan basecamp organisasi ekstra. Perubahan tersebut karena beralihnya citra seorang intelektual: dari lihai beretorika di forum-forum diskusi dan piawai berorasi di depan khalayak umum menjadi orang yang pandai merangkai kata di media massa. Perubahan citra seorang intelektual ini tentunya seiring dengan semakin terbukanya kanal-kanal baru yang strategis bagi mahasiswa dan intelektual muda yang diberikan oleh media massa.
Peran media massa—untuk tidak mengatakan politik media massa—jelas signifikan memutar haluan tersebut. Pasca tumbangnya Orde Baru lahirlah beragam media massa dengan beragam orientasi dan bidikan segmen pasarnya. Tentu juga dengan beragam nasib yang dialaminya kemudian. Media yang telah almarhum tampil kembali bersama media-media baru yang hampir setiap saat melakukan “penampakkan-penampakkan” bersaing dengan media yang telah ada. Mau tidak mau “orang-orang dalam” media mencari celah untuk menggait pelanggan. Salah satunya dengan melakukan “kontak jodoh” dengan mengakomodir berbagai kepentingan masyarakat sebagai sasaran pasarnya. Berbagai rubrik dan kolom baru pun diciptakan.
Mahasiswa, atau para akademisi pada umumnya, adalah segmen pasar strategis bagi media massa. Maka media mencoba merespons “dunia mahasiswa” dan “dunia intelektual” dengan cara memuat berita-berita aktual dan menarik bagi mahasiswa seperti pustakaloka, berita di sekitar kampus, atau dengan cara menjalin kerjasama dengan ikon dan petinggi kampus. Atau dengan jalan menyediakan berbagai rubrik dan kolom yang dapat menampung berbagai aspirasi mahasiswa yang gelisah. Dari pihak mahasiswa, terbuka luasnya kanal ini merupakan momentum yang tidak ingin dilewatkan begitu saja. Bagi sebagian mahasiswa inilah saatnya untuk membuktikan diri sebagai seorang intelektual yang tidak hanya dikenal “kondang” di kampus, tapi juga dikagumi publik dari tulisan-tulisan cantiknya di media. Lagu baru pun dirilis: berhentilah mengonggong, mari kita makan daging!
Dengan begitu ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan (mutual simbiosis) antara pihak media di satu sisi dengan pihak mahasiswa di satu sisinya lagi. Bagi media, mahasiswa—atau kaum terpelajar pada umumnya—merupakan segmen pasar terbesar yang dapat menaikkan tiras penjualan dan mempertebal omzet. Sedangkan bagi pihak mahasiswa, media massa cetak dijadikan sumber untuk memperbaiki gizi periuk yang acap kerontang, disamping untuk mengangkat popularitas dan prestise. Bahkan untuk kolom atau rubrik tertentu, seorang mahasiswa dapat mengeruk keuntungan berlipat. Sambil menyelam minum susu. Misalnya mengisi rubrik resensi atau tinjauan buku yang disediakan hampir oleh semua media cetak. Dari mengisi rubrik tersebut seorang penulis mendapatkan honorium dari media yang memuat tulisannya. Sedangkan dari penerbit buku yang diresensi ia akan mendapatkan hadiah dua buku, yaitu buku yang diresensi dan buku terbaru dari pihak penerbit. Walau pun tidak sedikit pula penerbit yang mangkir menunaikan kewajibannya kepada peresensi dengan berbagai alasan.
Di samping itu, penerbit seperti Mizan Bandung dan LKiS Yogyakarta setiap tahunnya mengadakan penilaian untuk menetapkan resensor terbaiknya. Bahkan pihak perguruan tinggi—seperti Universitas Sanata Dharma Yogyakarta—memberikan penghargaan atau honorium langsung tunai (HLT) kepada para mahasiswanya setiapkali tulisan mahasiswa tersebut dimuat. Beberapa perguruan tinggi lain—seperti UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta—setiap beberapa bulan sekali rutin memberikan penghargaan kepada “si perangkai kata” ini dengan cara mengumpulkan tulisan para mahasiswanya yang tersebar di berbagai media. Kemudian tulisan tersebut dikelompokkan berdasarkan kategori yang sudah dikenal luas, seperti kategori karya ilmiah murni, karya terjemahan, artikel populer, opini, surat pembaca, resensi, novel, cerpen dan puisi. Kemudian dinilai oleh tim khusus (timsus) untuk dicarikan pemenangnya dari urutan pertama sampai tiga dalam setiap kategori, untuk kemudian diberi hadiah.
Kepiawaian merangkai kata di media massa akan memberi banyak kemudahan bagi seseorang dalam mencari kerja, terutama kerja-kerja yang menghajatkan pelamarnya terbukti akrab dengan dunia kepenulisan, seperti dunia penerbitan. Dosen muda atau tenaga pengajar pada umumnya, tidak lagi dirisaukan oleh kurangnya kum sebagai salah satu syarat kenaikkan pangkat. Karena kekurangan tersebut dapat diatasi dengan baik dan cepat dengan menulis di media. Padahal pikuknya forum diskusi selama ini berasal dari joke-joke yang dilontarkan dosen muda tersebut.
Terpesona pentas bertabur bintang
Semaraknya berbagai acara—terutama acara yang ditayangkan televisi-televisi swasta belakangan ini—yang dalam hitungan detik, mampu menyulap seorang menjadi orang terkenal juga berhasil melengangkan forum-forum diskusi milik mahasiswa. Terlepas dari klaim positif atau negatifnya acara-acara tersebut, sedikit-banyaknya libido mahasiswa atau intelektual muda ikut terkuras. Mahasiswa yang punya potensi dan memiliki kapasitas seperti yang diinginkan pihak yang punya hajat akan banyak menghabiskan waktunya untuk mengasah kemampuannya beradu kebolehan menuju puncak sukses. Apalagi acara tersebut dapat dijangkau dengan biaya murah, bahkan ada yang gratis. Sedangkan yang “tereliminasi” terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk mendukung para idola atau grup favoritnya dengan mendatangi langsung lokasi acara digelar atau dengan memberi dukungan melalui pesan singkat (SMS) dengan iming-iming bonus besar.
Menjadi anak band atau menguasai alat musik merupakan jalan paling aman dan cara paling cepat untuk menuju tangga bertabur bintang. Mahasiswa dan kawula muda lebih banyak menghabiskan waktu untuk latihan band atau mengikuti berbagai les musik: dari les piano sampai les gitar, dari les vokal sampai les menabuh drum. Sedangkan pikirannya terkuras untuk memikirkan bagaimana caranya dalam waktu yang tidak terlalu lama dapat menguasai alat musik dan membentuk grup band yang solid. Atau, bila memungkinkan secepatnya mengeluarkan demo album atau video klip untuk dikirim ke Jakarta. Sementara itu di sisi lain, bayangan-bayangan menjadi pujaan dan dielu-elukan orang banyak selalu melintas setiap inci kegiatan mahasiswa.
Kepungan budaya konsumerisme
Lebih dari itu, dunia konsumerisme-pragmatisme yang mengepung mahasiswa dan dampak dari himpitan beban ekonomi yang tak tertahankan, juga mengendorkan gairah mahasiswa untuk berdiskusi. Sikap pragmatisme yang menjangkiti mahasiswa atau intelektual muda di satu sisi sangat disayangkan karena berpotensi mengikis idealisme yang selama ini jadi kebanggaan mereka. Namun di sisi lain keputusan tersebut merupakan jalan paling aman, win-win solution, agar tetap survive kuliah dengan konsekuensi mengorbankan idealisme. Apalagi dengan tuntutan gaya hidup yang menguras banyak biaya dan himpitan beban ekonomi, baik karena biaya kuliah yang mahal ataupun karena biaya hidup yang melonjak naik, membuat konsentrasi mahasiswa terbelah.
Tidak mengherankan sekarang ini waktu dan tenaga mahasiswa banyak dihabiskan untuk kerja-kerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibatnya banyak mahasiswa banting stir dari man in campus menjadi man in market. Bagi mereka yang memiliki keahlian di bidang keagamaan menyelamatkan masa depannya menjadi pria masjid (primas) atau pria mushala (primus). Bahkan belakangan ini di kalangan segelintir mahasiswa populer man in street, yaitu mahasiswa yang menggantungkan hidupnya di jalanan dengan cara mengamen, menjual koran atau menjual voucher di pinggir jalan yang akhir-akhir ini tumbuh bak cendawan di musim hujan.
Saat ini amat langka menemukan yang namanya man in campus apalagi man in intellectuality. Karena yang banyak dijumpai adalah orang yang berkerja sambil kuliah, bukannya orang yang kuliah sambil kerja. Bagi yang berasal dari keluarga mapan terlalu banyak menghabiskan waktunya di café dan internet.
Dengan begitu, lengangnya forum diskusi atau pudarnya tradisi diskusi di kalangan mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari perubahan yang sedang pasang di sekitarnya. Citra intelektual perangkai kata dengan segala keuntungannya secara lamat-lamat mampu menggeser citra intelektual orator atau demonstran garang hingga melengangkan forum-forum diskusi. Keberadaan forum diskusi di kalangan mahasiswa saat ini tak lebih sebagai penonton yang cemburu, apologis dan sekedar mengukuhkan eksistensi kelompoknya. Tikar diskusi serasa kian jauh dari mahasiswa disebabkan kesibukkan mereka dengan urusan-urusan untuk menjadi “seleb”. Dan yang paling berpengaruh adalah batang-tubuh mahasiswa diserbu budaya konsumerisme-pragmatisme, yang tentu saja tidak bisa mempersalahkan intelektual muda sepenuhnya.
Opini, Media Indonesia, 2006
Menarik, kalau bukannya menantang, menggeledah batang-tubuh yang bernama mahasiswa atau intelektual muda, berupa hilangnya tradisi diskusi. Karena sejatinya diskusi bagian integral dan proses yang tidak bisa dikesampingkan untuk mencetak generasi masa depan yang kritis-responsif. Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan berawal dari komunitas-komunitas marjinal dan dari kelompok-kelompok diskusi terbatas yang berada di luar arus mainstream. Forum diskusi Limited Group Yogyakarta yang dinahkodai almarhum Prof. A. Mukti Ali dan Klub Kajian Agama (KKA) Paramadina Jakarta yang dipimpin almarhum Prof. Nurcholish Madjid—untuk sekedar menyebut contohnya—akan dicatat dengan tinta emas dalam sejarah intelektual negeri ini.
Telah banyak ditulis orang perihal lamurnya tradisi diskusi tersebut. Namun kebanyakan tulisan tersebut baru sebatas cetusan-cetusan ide awal yang berasal dari sebuah keprihatinan atau kesadaran intelektual, yang merasa terganggu dengan “tenang tapi tidak menghanyutkan” lingkungan sekitarnya. Masih tersisa “lubang menganga” yang barangkali terlupakan, yaitu menelusuri penyebab dan ke mana perginya para intelektual muda tersebut hingga melengangkan ruang-ruang diskusi.
Beralihnya citra seorang intelektual
Lengangnya ruang diskusi di kampus-kampus atau di tempat-tempat yang biasanya dijadikan mahasiswa sebagai tempat untuk menghilir-mudikkan wacana terkini dan “menggilir” isu-isu mutakhir, seperti kantor Senat, UKM dan basecamp organisasi ekstra. Perubahan tersebut karena beralihnya citra seorang intelektual: dari lihai beretorika di forum-forum diskusi dan piawai berorasi di depan khalayak umum menjadi orang yang pandai merangkai kata di media massa. Perubahan citra seorang intelektual ini tentunya seiring dengan semakin terbukanya kanal-kanal baru yang strategis bagi mahasiswa dan intelektual muda yang diberikan oleh media massa.
Peran media massa—untuk tidak mengatakan politik media massa—jelas signifikan memutar haluan tersebut. Pasca tumbangnya Orde Baru lahirlah beragam media massa dengan beragam orientasi dan bidikan segmen pasarnya. Tentu juga dengan beragam nasib yang dialaminya kemudian. Media yang telah almarhum tampil kembali bersama media-media baru yang hampir setiap saat melakukan “penampakkan-penampakkan” bersaing dengan media yang telah ada. Mau tidak mau “orang-orang dalam” media mencari celah untuk menggait pelanggan. Salah satunya dengan melakukan “kontak jodoh” dengan mengakomodir berbagai kepentingan masyarakat sebagai sasaran pasarnya. Berbagai rubrik dan kolom baru pun diciptakan.
Mahasiswa, atau para akademisi pada umumnya, adalah segmen pasar strategis bagi media massa. Maka media mencoba merespons “dunia mahasiswa” dan “dunia intelektual” dengan cara memuat berita-berita aktual dan menarik bagi mahasiswa seperti pustakaloka, berita di sekitar kampus, atau dengan cara menjalin kerjasama dengan ikon dan petinggi kampus. Atau dengan jalan menyediakan berbagai rubrik dan kolom yang dapat menampung berbagai aspirasi mahasiswa yang gelisah. Dari pihak mahasiswa, terbuka luasnya kanal ini merupakan momentum yang tidak ingin dilewatkan begitu saja. Bagi sebagian mahasiswa inilah saatnya untuk membuktikan diri sebagai seorang intelektual yang tidak hanya dikenal “kondang” di kampus, tapi juga dikagumi publik dari tulisan-tulisan cantiknya di media. Lagu baru pun dirilis: berhentilah mengonggong, mari kita makan daging!
Dengan begitu ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan (mutual simbiosis) antara pihak media di satu sisi dengan pihak mahasiswa di satu sisinya lagi. Bagi media, mahasiswa—atau kaum terpelajar pada umumnya—merupakan segmen pasar terbesar yang dapat menaikkan tiras penjualan dan mempertebal omzet. Sedangkan bagi pihak mahasiswa, media massa cetak dijadikan sumber untuk memperbaiki gizi periuk yang acap kerontang, disamping untuk mengangkat popularitas dan prestise. Bahkan untuk kolom atau rubrik tertentu, seorang mahasiswa dapat mengeruk keuntungan berlipat. Sambil menyelam minum susu. Misalnya mengisi rubrik resensi atau tinjauan buku yang disediakan hampir oleh semua media cetak. Dari mengisi rubrik tersebut seorang penulis mendapatkan honorium dari media yang memuat tulisannya. Sedangkan dari penerbit buku yang diresensi ia akan mendapatkan hadiah dua buku, yaitu buku yang diresensi dan buku terbaru dari pihak penerbit. Walau pun tidak sedikit pula penerbit yang mangkir menunaikan kewajibannya kepada peresensi dengan berbagai alasan.
Di samping itu, penerbit seperti Mizan Bandung dan LKiS Yogyakarta setiap tahunnya mengadakan penilaian untuk menetapkan resensor terbaiknya. Bahkan pihak perguruan tinggi—seperti Universitas Sanata Dharma Yogyakarta—memberikan penghargaan atau honorium langsung tunai (HLT) kepada para mahasiswanya setiapkali tulisan mahasiswa tersebut dimuat. Beberapa perguruan tinggi lain—seperti UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta—setiap beberapa bulan sekali rutin memberikan penghargaan kepada “si perangkai kata” ini dengan cara mengumpulkan tulisan para mahasiswanya yang tersebar di berbagai media. Kemudian tulisan tersebut dikelompokkan berdasarkan kategori yang sudah dikenal luas, seperti kategori karya ilmiah murni, karya terjemahan, artikel populer, opini, surat pembaca, resensi, novel, cerpen dan puisi. Kemudian dinilai oleh tim khusus (timsus) untuk dicarikan pemenangnya dari urutan pertama sampai tiga dalam setiap kategori, untuk kemudian diberi hadiah.
Kepiawaian merangkai kata di media massa akan memberi banyak kemudahan bagi seseorang dalam mencari kerja, terutama kerja-kerja yang menghajatkan pelamarnya terbukti akrab dengan dunia kepenulisan, seperti dunia penerbitan. Dosen muda atau tenaga pengajar pada umumnya, tidak lagi dirisaukan oleh kurangnya kum sebagai salah satu syarat kenaikkan pangkat. Karena kekurangan tersebut dapat diatasi dengan baik dan cepat dengan menulis di media. Padahal pikuknya forum diskusi selama ini berasal dari joke-joke yang dilontarkan dosen muda tersebut.
Terpesona pentas bertabur bintang
Semaraknya berbagai acara—terutama acara yang ditayangkan televisi-televisi swasta belakangan ini—yang dalam hitungan detik, mampu menyulap seorang menjadi orang terkenal juga berhasil melengangkan forum-forum diskusi milik mahasiswa. Terlepas dari klaim positif atau negatifnya acara-acara tersebut, sedikit-banyaknya libido mahasiswa atau intelektual muda ikut terkuras. Mahasiswa yang punya potensi dan memiliki kapasitas seperti yang diinginkan pihak yang punya hajat akan banyak menghabiskan waktunya untuk mengasah kemampuannya beradu kebolehan menuju puncak sukses. Apalagi acara tersebut dapat dijangkau dengan biaya murah, bahkan ada yang gratis. Sedangkan yang “tereliminasi” terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk mendukung para idola atau grup favoritnya dengan mendatangi langsung lokasi acara digelar atau dengan memberi dukungan melalui pesan singkat (SMS) dengan iming-iming bonus besar.
Menjadi anak band atau menguasai alat musik merupakan jalan paling aman dan cara paling cepat untuk menuju tangga bertabur bintang. Mahasiswa dan kawula muda lebih banyak menghabiskan waktu untuk latihan band atau mengikuti berbagai les musik: dari les piano sampai les gitar, dari les vokal sampai les menabuh drum. Sedangkan pikirannya terkuras untuk memikirkan bagaimana caranya dalam waktu yang tidak terlalu lama dapat menguasai alat musik dan membentuk grup band yang solid. Atau, bila memungkinkan secepatnya mengeluarkan demo album atau video klip untuk dikirim ke Jakarta. Sementara itu di sisi lain, bayangan-bayangan menjadi pujaan dan dielu-elukan orang banyak selalu melintas setiap inci kegiatan mahasiswa.
Kepungan budaya konsumerisme
Lebih dari itu, dunia konsumerisme-pragmatisme yang mengepung mahasiswa dan dampak dari himpitan beban ekonomi yang tak tertahankan, juga mengendorkan gairah mahasiswa untuk berdiskusi. Sikap pragmatisme yang menjangkiti mahasiswa atau intelektual muda di satu sisi sangat disayangkan karena berpotensi mengikis idealisme yang selama ini jadi kebanggaan mereka. Namun di sisi lain keputusan tersebut merupakan jalan paling aman, win-win solution, agar tetap survive kuliah dengan konsekuensi mengorbankan idealisme. Apalagi dengan tuntutan gaya hidup yang menguras banyak biaya dan himpitan beban ekonomi, baik karena biaya kuliah yang mahal ataupun karena biaya hidup yang melonjak naik, membuat konsentrasi mahasiswa terbelah.
Tidak mengherankan sekarang ini waktu dan tenaga mahasiswa banyak dihabiskan untuk kerja-kerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibatnya banyak mahasiswa banting stir dari man in campus menjadi man in market. Bagi mereka yang memiliki keahlian di bidang keagamaan menyelamatkan masa depannya menjadi pria masjid (primas) atau pria mushala (primus). Bahkan belakangan ini di kalangan segelintir mahasiswa populer man in street, yaitu mahasiswa yang menggantungkan hidupnya di jalanan dengan cara mengamen, menjual koran atau menjual voucher di pinggir jalan yang akhir-akhir ini tumbuh bak cendawan di musim hujan.
Saat ini amat langka menemukan yang namanya man in campus apalagi man in intellectuality. Karena yang banyak dijumpai adalah orang yang berkerja sambil kuliah, bukannya orang yang kuliah sambil kerja. Bagi yang berasal dari keluarga mapan terlalu banyak menghabiskan waktunya di café dan internet.
Dengan begitu, lengangnya forum diskusi atau pudarnya tradisi diskusi di kalangan mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari perubahan yang sedang pasang di sekitarnya. Citra intelektual perangkai kata dengan segala keuntungannya secara lamat-lamat mampu menggeser citra intelektual orator atau demonstran garang hingga melengangkan forum-forum diskusi. Keberadaan forum diskusi di kalangan mahasiswa saat ini tak lebih sebagai penonton yang cemburu, apologis dan sekedar mengukuhkan eksistensi kelompoknya. Tikar diskusi serasa kian jauh dari mahasiswa disebabkan kesibukkan mereka dengan urusan-urusan untuk menjadi “seleb”. Dan yang paling berpengaruh adalah batang-tubuh mahasiswa diserbu budaya konsumerisme-pragmatisme, yang tentu saja tidak bisa mempersalahkan intelektual muda sepenuhnya.
Opini, Media Indonesia, 2006
Tekanan Jiwa dan Fisik pada Pekerja
Yusriandi Pagarah
BELAKANGAN ini berbagai media baik cetak maupun elektronik marak sekali mengangkat berita tentang banyaknya para pekerja yang mengalami gangguan jiwa dan cacat fisik. Pergi sehat, pulang mentalnya sudah terganggu. Berangkat dari rumah fisiknya lengkap, dan balik sudah ada yang cacat. Bahkan tak sedikit yang meninggal dunia.
Pada Bangsal Sakura RSUD Banyumas, misalnya, pascalebaran lalu terjadi peningkatan yang sangat signifikan pasien ganggaun jiwa yang mondok di RS tersebut. Isi bangsal yang khusus untuk pasien gangguan jiwa itu, melebihi kapasitas daya tampungnya, dari yang semestinya 74 pasien menjadi 119 pasien.
Pasien yang masuk berasal dari Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen (Jateng), dan Ciamis (Jabar). Mereka berusia antara 17 tahun sampai 40 tahun, yang notabene berada pada kisaran usia produktif dalam bekerja.
Kebanyakan pasien merupakan perantau yang baru pulang dari luar daerah atau tenaga kerja yang baru pulang dari luar negeri. Pemicu terjadinya gangguan jiwa pasien di antaranya karena korban kecanduan narkoba, serta tenaga kerja wanita dan perantau yang tidak tahan dengan budaya dan prilaku masyarakat/negara tempatnya bekerja.
Menurut saya, tentu banyak lagi rumah sakit lain -terutama rumah sakit jiwa- di daerah lain yang mengalami konsisi serupa, dan bahkan tidak menutup kemungkinan mengalami kendala dan problema yang lebih kompleks lagi.
Karena fenomena tersebut bagaikan fenomena gunung es, puncaknya saja yang kelihatan, sementara yang berada di bawahnya lebih dahsyat lagi. Pasien yang tidak dibawa ke rumah sakit juga tak terhitung jumlahnya. Ada yang dirantai keluarganya, ada juga yang tidak dihiraukan keluarganya sehingga berkeliaran di kampung-kampung dan kota-kota. Pertanda apakah semua itu?
Dampak Organisasi
Reportase tersebut sedikit banyak memberi petunjuk bahwa pekerja saja masih mengalami gangguan jiwa akibat tidak kondusifnya suasana di tempat kerja, apalagi para pengangguran yang merupakan komunitas mayoritas yang terlupakan di negeri ini. Pekerja yang terganggu jiwanya bukan hanya monopoli pekerja kasar (the blue collar) yang berpayung matahari dan bergaji kecil, tapi juga dialami pekerja kantoran (the white collar) yang dimanjakan dengan aneka fasilitas luks.
Para pekerja tipe pertama dalam bekerja mengalami rasa keterpinggiran, terjerat, tertekan di lingkungan tempatnya bekerja, dan bingung dengan perasaan tak berarti. Hal itu diperburuk dengan keterampilan yang tidak memadai, kecakapan mental yang belum sempurna, serta pelatihan dan magang kerja yang minim.
Gaji yang tidak sebanding dengan kerja dan tuntutan hidup yang tak tertahankan, membuat mereka iri dan malu bercampur marah. Dari percampuran tiga sifat itu, terjadilah kejadian dramatis. Kebencian berujung kepada depresi adalah reaksi terhadap frustrasi akan pengharapan-pengharapan mereka.
Kondisi itu berimbas pada ketidakhadiran, keterlambatan, kelambanan produksi, alkoholik, dan bahkan penyalahgunaan obat-obat terlarang. Ketika gagal, mereka akan mencerca siapa saja, khususnya para eksekutif dan majikan yang dianggap sebagai penghalang cita-cita. Hingga benarlah tesis FJ Braceland dan M Stock dalam Modern Psychiatry, bahwa "banyaknya risiko dan aktivitas dunia industrial modern bukan terletak pada mesin-mesin atau lingkungan yang penuh limbah, melainkan pada orang-orang yang mengoperasikan mesin dan efek dari sikap-sikap psikologis yang mengandung racun (toxi-psychology)."
Belitan Masalah
Sementara itu tipe pekerja kedua, di antaranya guru, dosen, jurnalis, sipil, militer, dan eksekutif, mengidap penyakit akut bernama white collar complex. Mereka diikat oleh belitan masalah perusahaan, sekat kode etik organisasi, dan prosedural birokrasi yang bagai lingkaran setan.
Hal itu memicu terjadinya konflik-konflik laten yang tak berkesudahan antara individu dengan keinginan-keinginannya serta dengan peranan yang ia mainkan. Tipe pekerja tersebut sering kali menyembunyikan pikiran-pikiran mereka dengan cara melontarkan omelan dan ocehan yang tak berarti. Tak henti-hentinya dijerat lingkaran kekalahan sendiri. Pengidap penyakit itu mudah sekali menjadi sekawanan yang dikendalikan oleh pemikir yang bebal (J Maurus, 2005: 46-48).
Humanis Erich Fromm dalam karyanya To Have or To Be menunjuk organisasi industrial sebagai biangnya. Menurutnya, "Organisasi itu mereduksi kerja mesin, diatur oleh irama dan permintaan. Ia mentransformasikan dirinya ke dalam homo consumen, yang tujuannya semata-mata memiliki (have) lebih banyak dan menggunakan (use) lebih banyak. Masyarakat itu banyak menciptakan hal yang sia-sia, dan pada level yang sama banyak orang yang tidak berguna."
Pendapat tersebut memiliki garis singgung dengan kritik Edward W Said (1995) tentang mental kaum profesional yang kaku, yang menganggap kerja profesional sebagai pekerjaan yang dilakukan untuk penghidupan yang berdurasi antara pukul sembilan pagi sampai pukul lima sore, dengan sebelah mata tertuju pada jam dan sebelahnya lagi melirik pada apa yang dianggap pantas atau profesional.
Karena itu, tak mengherankan jika amat langka ditemukan birokrat yang kreatif dalam situasi kerja seperti tersebut.
Jalan Keluar
Orang bijak selalu berkhotbah agar seseorang tidak sampai terjerembab pada lubang yang sama untuk kali kedua, karena fenomena pekerja yang mengalami gangguan jiwa juga cacat fisik dan bahkan ada yang meninggal bagaikan fenomena gunung es yang amat kompleks.
Suasana yang tidak nyaman yang dialami pekerja, ada yang berasal dari diri pekerja sendiri (internal) dan ada pula yang berasal dari luar dirinya (eksternal).
Dari dalam diri pekerja sendiri, misalnya tidak terampil, kurang berpengalaman karena minimnya pelatihan, magang yang tidak memadai, dan pendidikan yang terbatas. Hal itu dapat diatasi dengan adanya pelatihan prakerja yang disediakan pemerintah.
Sementara itu yang eksternal, dipicu oleh pekerjaan dan loyalitas yang tidak setimpal dengan gaji dan tunjangan yang diberikan. Kondisi tersebut dapat ditanggulangi dengan adanya aturan regulasi yang jelas tentang hak-hak pekerja yang harus diberikan oleh pemilik perusahaan atau lembaga.
Bagi yang melanggar, diberikan sanksi tegas dengan cara dicabut izin usahanya. Bagi yang bekerja di luar negeri harus diikuti dengan jaminan keamanan dan kesejahteraan yang jelas hitam di atas putihnya dari pihak pengontrak.
Pekerjaan bagi manusia tidak sebatas untuk menyambung hidup dan meraih cita-cita, lebih dari itu bekerja sesungguhnya adalah untuk meningkatkan martabat dan harga diri. Bila tidak tersedia di daerah sendiri, pergi merantau ke daerah lain. Bila tidak tersedia di dalam negeri, negeri asing tak berpeta pun akan dijalani.
Karenanya, bila pemerintah gagal merealisasikan tiga item tersebut, negeri ini akan tetap memproduksi para pekerja yang bernasib buntung, yang masa depannya dipasung oleh keluarganya, masuk rumah sakit jiwa, cacat tubuhnya seumur hidup, atau lebih tragis lagi bunuh diri.(68)
--- Yusriandi Pagarah, kulturalis, bergiat pada Komunitas Perairan Wacana Yogyakarta.
Wacana, Suara Merdeka, Kamis, 22 November 2007
BELAKANGAN ini berbagai media baik cetak maupun elektronik marak sekali mengangkat berita tentang banyaknya para pekerja yang mengalami gangguan jiwa dan cacat fisik. Pergi sehat, pulang mentalnya sudah terganggu. Berangkat dari rumah fisiknya lengkap, dan balik sudah ada yang cacat. Bahkan tak sedikit yang meninggal dunia.
Pada Bangsal Sakura RSUD Banyumas, misalnya, pascalebaran lalu terjadi peningkatan yang sangat signifikan pasien ganggaun jiwa yang mondok di RS tersebut. Isi bangsal yang khusus untuk pasien gangguan jiwa itu, melebihi kapasitas daya tampungnya, dari yang semestinya 74 pasien menjadi 119 pasien.
Pasien yang masuk berasal dari Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen (Jateng), dan Ciamis (Jabar). Mereka berusia antara 17 tahun sampai 40 tahun, yang notabene berada pada kisaran usia produktif dalam bekerja.
Kebanyakan pasien merupakan perantau yang baru pulang dari luar daerah atau tenaga kerja yang baru pulang dari luar negeri. Pemicu terjadinya gangguan jiwa pasien di antaranya karena korban kecanduan narkoba, serta tenaga kerja wanita dan perantau yang tidak tahan dengan budaya dan prilaku masyarakat/negara tempatnya bekerja.
Menurut saya, tentu banyak lagi rumah sakit lain -terutama rumah sakit jiwa- di daerah lain yang mengalami konsisi serupa, dan bahkan tidak menutup kemungkinan mengalami kendala dan problema yang lebih kompleks lagi.
Karena fenomena tersebut bagaikan fenomena gunung es, puncaknya saja yang kelihatan, sementara yang berada di bawahnya lebih dahsyat lagi. Pasien yang tidak dibawa ke rumah sakit juga tak terhitung jumlahnya. Ada yang dirantai keluarganya, ada juga yang tidak dihiraukan keluarganya sehingga berkeliaran di kampung-kampung dan kota-kota. Pertanda apakah semua itu?
Dampak Organisasi
Reportase tersebut sedikit banyak memberi petunjuk bahwa pekerja saja masih mengalami gangguan jiwa akibat tidak kondusifnya suasana di tempat kerja, apalagi para pengangguran yang merupakan komunitas mayoritas yang terlupakan di negeri ini. Pekerja yang terganggu jiwanya bukan hanya monopoli pekerja kasar (the blue collar) yang berpayung matahari dan bergaji kecil, tapi juga dialami pekerja kantoran (the white collar) yang dimanjakan dengan aneka fasilitas luks.
Para pekerja tipe pertama dalam bekerja mengalami rasa keterpinggiran, terjerat, tertekan di lingkungan tempatnya bekerja, dan bingung dengan perasaan tak berarti. Hal itu diperburuk dengan keterampilan yang tidak memadai, kecakapan mental yang belum sempurna, serta pelatihan dan magang kerja yang minim.
Gaji yang tidak sebanding dengan kerja dan tuntutan hidup yang tak tertahankan, membuat mereka iri dan malu bercampur marah. Dari percampuran tiga sifat itu, terjadilah kejadian dramatis. Kebencian berujung kepada depresi adalah reaksi terhadap frustrasi akan pengharapan-pengharapan mereka.
Kondisi itu berimbas pada ketidakhadiran, keterlambatan, kelambanan produksi, alkoholik, dan bahkan penyalahgunaan obat-obat terlarang. Ketika gagal, mereka akan mencerca siapa saja, khususnya para eksekutif dan majikan yang dianggap sebagai penghalang cita-cita. Hingga benarlah tesis FJ Braceland dan M Stock dalam Modern Psychiatry, bahwa "banyaknya risiko dan aktivitas dunia industrial modern bukan terletak pada mesin-mesin atau lingkungan yang penuh limbah, melainkan pada orang-orang yang mengoperasikan mesin dan efek dari sikap-sikap psikologis yang mengandung racun (toxi-psychology)."
Belitan Masalah
Sementara itu tipe pekerja kedua, di antaranya guru, dosen, jurnalis, sipil, militer, dan eksekutif, mengidap penyakit akut bernama white collar complex. Mereka diikat oleh belitan masalah perusahaan, sekat kode etik organisasi, dan prosedural birokrasi yang bagai lingkaran setan.
Hal itu memicu terjadinya konflik-konflik laten yang tak berkesudahan antara individu dengan keinginan-keinginannya serta dengan peranan yang ia mainkan. Tipe pekerja tersebut sering kali menyembunyikan pikiran-pikiran mereka dengan cara melontarkan omelan dan ocehan yang tak berarti. Tak henti-hentinya dijerat lingkaran kekalahan sendiri. Pengidap penyakit itu mudah sekali menjadi sekawanan yang dikendalikan oleh pemikir yang bebal (J Maurus, 2005: 46-48).
Humanis Erich Fromm dalam karyanya To Have or To Be menunjuk organisasi industrial sebagai biangnya. Menurutnya, "Organisasi itu mereduksi kerja mesin, diatur oleh irama dan permintaan. Ia mentransformasikan dirinya ke dalam homo consumen, yang tujuannya semata-mata memiliki (have) lebih banyak dan menggunakan (use) lebih banyak. Masyarakat itu banyak menciptakan hal yang sia-sia, dan pada level yang sama banyak orang yang tidak berguna."
Pendapat tersebut memiliki garis singgung dengan kritik Edward W Said (1995) tentang mental kaum profesional yang kaku, yang menganggap kerja profesional sebagai pekerjaan yang dilakukan untuk penghidupan yang berdurasi antara pukul sembilan pagi sampai pukul lima sore, dengan sebelah mata tertuju pada jam dan sebelahnya lagi melirik pada apa yang dianggap pantas atau profesional.
Karena itu, tak mengherankan jika amat langka ditemukan birokrat yang kreatif dalam situasi kerja seperti tersebut.
Jalan Keluar
Orang bijak selalu berkhotbah agar seseorang tidak sampai terjerembab pada lubang yang sama untuk kali kedua, karena fenomena pekerja yang mengalami gangguan jiwa juga cacat fisik dan bahkan ada yang meninggal bagaikan fenomena gunung es yang amat kompleks.
Suasana yang tidak nyaman yang dialami pekerja, ada yang berasal dari diri pekerja sendiri (internal) dan ada pula yang berasal dari luar dirinya (eksternal).
Dari dalam diri pekerja sendiri, misalnya tidak terampil, kurang berpengalaman karena minimnya pelatihan, magang yang tidak memadai, dan pendidikan yang terbatas. Hal itu dapat diatasi dengan adanya pelatihan prakerja yang disediakan pemerintah.
Sementara itu yang eksternal, dipicu oleh pekerjaan dan loyalitas yang tidak setimpal dengan gaji dan tunjangan yang diberikan. Kondisi tersebut dapat ditanggulangi dengan adanya aturan regulasi yang jelas tentang hak-hak pekerja yang harus diberikan oleh pemilik perusahaan atau lembaga.
Bagi yang melanggar, diberikan sanksi tegas dengan cara dicabut izin usahanya. Bagi yang bekerja di luar negeri harus diikuti dengan jaminan keamanan dan kesejahteraan yang jelas hitam di atas putihnya dari pihak pengontrak.
Pekerjaan bagi manusia tidak sebatas untuk menyambung hidup dan meraih cita-cita, lebih dari itu bekerja sesungguhnya adalah untuk meningkatkan martabat dan harga diri. Bila tidak tersedia di daerah sendiri, pergi merantau ke daerah lain. Bila tidak tersedia di dalam negeri, negeri asing tak berpeta pun akan dijalani.
Karenanya, bila pemerintah gagal merealisasikan tiga item tersebut, negeri ini akan tetap memproduksi para pekerja yang bernasib buntung, yang masa depannya dipasung oleh keluarganya, masuk rumah sakit jiwa, cacat tubuhnya seumur hidup, atau lebih tragis lagi bunuh diri.(68)
--- Yusriandi Pagarah, kulturalis, bergiat pada Komunitas Perairan Wacana Yogyakarta.
Wacana, Suara Merdeka, Kamis, 22 November 2007
Selasa, 06 Januari 2009
Sekaten, Ritual Kolektif, dan Bisnis Pertunjukan Budaya
Yusriandi Pagarah
Pada tahun 1939 Saka atau bertepatan dengan tahun 1477 Masehi, Raden Patah selaku Adipati Kabupaten Demak Bintara dengan dukungan para wali, menggelar kegiatan syiar Islam secara terus-menerus selama tujuh hari menjelang tanggal kelahiran Nabi Muhammad Saw. Agar menarik perhatian rakyat, dibunyikanlah dua gamelan buah karya Sunan Giri membawakan gending-gending ciptaan para wali, terutama karya Sunan Kalijaga.
Setelah melakukan kegiatan tersebut, masyarakat yang ingin memeluk Islam dituntun untuk mengucapkan dua kalimat syahadat atau syahadatain. Dari kata syahadatain inilah kemudian lahir istilah sekaten akibat perubahan pengucapan, sebagaimana yang juga dialami oleh suku bangsa dan komunitas lainnya di dunia.
Seiring beralihnya Demak menjadi sebuah kerajaan Islam. Demikian juga pada saat bergesernya kerajaan Islam ke ranah Mataram, serta ketika terbaginya kerajaan Islam Mataram kepada Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta, Sekaten tetap digelar sebagai warisan budaya Islam yang senantiasa berkembang dari tahun ke tahun.
Ritual Kolektif
Adalah almarhum Fazlur Rahman (1995), Bapak Neo-Modernisme Islam berkebangsaan Indo Pakistan dan berkubur di tanah pengabdian Amerika, memberi seperangkat metode bagaimana caranya membaca sebuah teks lama atau memaknai sebuah peristiwa masa lalu agar senantiasa relevan untuk masyarakat yang hidup pada miliu kontemporer. Rahman, menawarkan formula gerak ganda atau double movement dalam melakukan analisis terhadap teks lama atau peristiwa masa lalu. Dalam operasionalnya, gerak ganda masuk ke bilik-nilik masa silam, setelah dapat menggamit spiritnya, kemudian kembali ke masa sekarang untuk ditata cara pengaktulisasikannya yang sesuai dengan kondisi masyarakat sekarang.
Lantas bagaimana menafsirkan perayaan Sekaten yang relevan dengan realitas aktual kehidupan masyarakat sekarang? Mengikuti alur pemikiran Rahman, perayaan Sekaten juga dapat dimaknsai menggunakan formula gerak ganda. Sebagaimana yang terdapat di awal tulisan ini, yang mencoba memaparkan serba sekilas-sepintas tentang geneologi perayaan Sekaten, terlihat bahwa perayaan Sekaten merupakan sebuah peristiwa yang sarat makna dan berkait erat dengan konteks awalnya. Sekaligus sebuah peristiwa sosio-kultural yang sesak dengan simbol-simbol yang saling berkelindan. Berbicara tentang konteks, tentu saja tidak bisa dipisahkan dari membicarakan tentang waktu dan ruang, karena keduanya merupakan saripati dari konteks. (Piotr Sztompka, 2002: 48-51)
Mengikuti operasional gerak ganda Rahman, harus ditelusuri terlebih dahulu mengapa perayaan Sekaten digelar. Bila dicermati, perayaan Sekaten pada awalnya diadakan untuk memperingati dan memuliakan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Untuk menarik hati masyarakat luas dan supaya tidak monoton diadakan juga atraksi kesenian. Kecuali itu, hal lain yang sangat urgen adalah tersedianya ruang bagi masyarakat luas yang ingin dituntun memeluk agama Islam.
Lebih jauh, terdapatnya ruang untuk menuntun mengucapkan dua kalimat syahadat dapat dimaknai dengan tersedianya ruang yang luas bagi masyarakat untuk melakukan kolsultasi dan pengaduan berbagai persoalan kepada pemimpin atau pemerintah di lokasi tersebut. Seyogyanya di setiap perayaan Sekaten dibangun komitmen bersama untuk menghimpun dana yang dialokasikan untuk memberdayakan dan membantu rakyat miskin, tidak semata-mata sibuk berapat dan mengorganisir uang sewa tempat, uang parkir atau uang keamanan. Hal ini berbanding lurus dengan spirit yang dibawa agama Islam dan misi risalah Nabi Muhammad Saw. sendiri untuk memberikan pencerahan kepada umat manusia. Dimensi-dimensi kemanusian inilah yang sering terabaikan oleh segenap pemrakarsa dan panitia perayaan Sekaten selama ini, yang banyak mendapat hujan kritik dari berbagai kalangan.
Bisnis Pertunjukan Budaya
Hal lain yang sering mendapat kritik keras dari perayaan Sekaten—dan tentu juga dari perayaan-perayaan lainnya—adalah penonjolan aspek komersial dan kental dengan nuansa kapitalistik. Sebagaimana yang dilontarkan Umberto Eco, seorang penulis buku laris dan peminat kebudayaan yang disegani, bahwa bismis pertunjukan budaya atau kultur sebagai bisnis pertunjukan (cultur as show bisnis) lahir dari rahim dan merupakan produk masyarakat teatrikal (treatical society). Sebagai eksesnya, pertunjukan-pertunjukan kebudayaan kehilangan daya pikat dan daya pukaunya, semata-mata demi dan untuk kesenangan, serta membosankan. Hal tersebut dipantik oleh hilangnya kreativitas dan raibnya spontanitas dari para aktornya. Tidak adanya inovasi dan partisipasi warga, serta ditambah dengan ikut campurnya pengambil kebijakan yang berorientasi pada pengumpulan pundi-pundi kapital, kian menggeruskan apa yang selama ini digadang-gadang orang sebagai budaya tinggi atau budaya adiluhung. (Eco, 2004: 207-214)
Karenanya, sudah tiba waktunya para pemimpin memikirkan secara arif dan terkonsep dengan baik untuk menata ulang berbagai atraksi kesenian yang ditampilkan pada perayaan Sekaten. Menyuguhkan aneka pertunjukan, yang tidak semata-mata menghibur, tapi juga atraksi yang mencerahkan dan mencerdaskan masyarakat, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Sehingga, perayaan Sekaten sebagai sebuah peristiwa kebudayaan benar-benar bermutu dan layak dikenang. Sekaligus mencerminkan Yogyakarta sebagai kota budaya.
Sebagai pesta rakyat, perayaan Sekaten jangan jatuh sebatas slogan hampa. Sebagai ritual kolektif tahunan, perayaan Sekaten seharusnya mampu merengkuh dan direngkuh siapa saja, apalagi akhir-akhir ini warga kota ini terpecah-pecah ke dalam berbagai kekompok kepentingan dan berbagai peristiwa yang mengusik kenyamanan warga kota yang berhati nyaman ini. Tidak terkesan sebagai pertunjukan yang mengkultuskan individu atau menguntungkan segelintir orang.
Pada tahun 1939 Saka atau bertepatan dengan tahun 1477 Masehi, Raden Patah selaku Adipati Kabupaten Demak Bintara dengan dukungan para wali, menggelar kegiatan syiar Islam secara terus-menerus selama tujuh hari menjelang tanggal kelahiran Nabi Muhammad Saw. Agar menarik perhatian rakyat, dibunyikanlah dua gamelan buah karya Sunan Giri membawakan gending-gending ciptaan para wali, terutama karya Sunan Kalijaga.
Setelah melakukan kegiatan tersebut, masyarakat yang ingin memeluk Islam dituntun untuk mengucapkan dua kalimat syahadat atau syahadatain. Dari kata syahadatain inilah kemudian lahir istilah sekaten akibat perubahan pengucapan, sebagaimana yang juga dialami oleh suku bangsa dan komunitas lainnya di dunia.
Seiring beralihnya Demak menjadi sebuah kerajaan Islam. Demikian juga pada saat bergesernya kerajaan Islam ke ranah Mataram, serta ketika terbaginya kerajaan Islam Mataram kepada Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta, Sekaten tetap digelar sebagai warisan budaya Islam yang senantiasa berkembang dari tahun ke tahun.
Ritual Kolektif
Adalah almarhum Fazlur Rahman (1995), Bapak Neo-Modernisme Islam berkebangsaan Indo Pakistan dan berkubur di tanah pengabdian Amerika, memberi seperangkat metode bagaimana caranya membaca sebuah teks lama atau memaknai sebuah peristiwa masa lalu agar senantiasa relevan untuk masyarakat yang hidup pada miliu kontemporer. Rahman, menawarkan formula gerak ganda atau double movement dalam melakukan analisis terhadap teks lama atau peristiwa masa lalu. Dalam operasionalnya, gerak ganda masuk ke bilik-nilik masa silam, setelah dapat menggamit spiritnya, kemudian kembali ke masa sekarang untuk ditata cara pengaktulisasikannya yang sesuai dengan kondisi masyarakat sekarang.
Lantas bagaimana menafsirkan perayaan Sekaten yang relevan dengan realitas aktual kehidupan masyarakat sekarang? Mengikuti alur pemikiran Rahman, perayaan Sekaten juga dapat dimaknsai menggunakan formula gerak ganda. Sebagaimana yang terdapat di awal tulisan ini, yang mencoba memaparkan serba sekilas-sepintas tentang geneologi perayaan Sekaten, terlihat bahwa perayaan Sekaten merupakan sebuah peristiwa yang sarat makna dan berkait erat dengan konteks awalnya. Sekaligus sebuah peristiwa sosio-kultural yang sesak dengan simbol-simbol yang saling berkelindan. Berbicara tentang konteks, tentu saja tidak bisa dipisahkan dari membicarakan tentang waktu dan ruang, karena keduanya merupakan saripati dari konteks. (Piotr Sztompka, 2002: 48-51)
Mengikuti operasional gerak ganda Rahman, harus ditelusuri terlebih dahulu mengapa perayaan Sekaten digelar. Bila dicermati, perayaan Sekaten pada awalnya diadakan untuk memperingati dan memuliakan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Untuk menarik hati masyarakat luas dan supaya tidak monoton diadakan juga atraksi kesenian. Kecuali itu, hal lain yang sangat urgen adalah tersedianya ruang bagi masyarakat luas yang ingin dituntun memeluk agama Islam.
Lebih jauh, terdapatnya ruang untuk menuntun mengucapkan dua kalimat syahadat dapat dimaknai dengan tersedianya ruang yang luas bagi masyarakat untuk melakukan kolsultasi dan pengaduan berbagai persoalan kepada pemimpin atau pemerintah di lokasi tersebut. Seyogyanya di setiap perayaan Sekaten dibangun komitmen bersama untuk menghimpun dana yang dialokasikan untuk memberdayakan dan membantu rakyat miskin, tidak semata-mata sibuk berapat dan mengorganisir uang sewa tempat, uang parkir atau uang keamanan. Hal ini berbanding lurus dengan spirit yang dibawa agama Islam dan misi risalah Nabi Muhammad Saw. sendiri untuk memberikan pencerahan kepada umat manusia. Dimensi-dimensi kemanusian inilah yang sering terabaikan oleh segenap pemrakarsa dan panitia perayaan Sekaten selama ini, yang banyak mendapat hujan kritik dari berbagai kalangan.
Bisnis Pertunjukan Budaya
Hal lain yang sering mendapat kritik keras dari perayaan Sekaten—dan tentu juga dari perayaan-perayaan lainnya—adalah penonjolan aspek komersial dan kental dengan nuansa kapitalistik. Sebagaimana yang dilontarkan Umberto Eco, seorang penulis buku laris dan peminat kebudayaan yang disegani, bahwa bismis pertunjukan budaya atau kultur sebagai bisnis pertunjukan (cultur as show bisnis) lahir dari rahim dan merupakan produk masyarakat teatrikal (treatical society). Sebagai eksesnya, pertunjukan-pertunjukan kebudayaan kehilangan daya pikat dan daya pukaunya, semata-mata demi dan untuk kesenangan, serta membosankan. Hal tersebut dipantik oleh hilangnya kreativitas dan raibnya spontanitas dari para aktornya. Tidak adanya inovasi dan partisipasi warga, serta ditambah dengan ikut campurnya pengambil kebijakan yang berorientasi pada pengumpulan pundi-pundi kapital, kian menggeruskan apa yang selama ini digadang-gadang orang sebagai budaya tinggi atau budaya adiluhung. (Eco, 2004: 207-214)
Karenanya, sudah tiba waktunya para pemimpin memikirkan secara arif dan terkonsep dengan baik untuk menata ulang berbagai atraksi kesenian yang ditampilkan pada perayaan Sekaten. Menyuguhkan aneka pertunjukan, yang tidak semata-mata menghibur, tapi juga atraksi yang mencerahkan dan mencerdaskan masyarakat, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Sehingga, perayaan Sekaten sebagai sebuah peristiwa kebudayaan benar-benar bermutu dan layak dikenang. Sekaligus mencerminkan Yogyakarta sebagai kota budaya.
Sebagai pesta rakyat, perayaan Sekaten jangan jatuh sebatas slogan hampa. Sebagai ritual kolektif tahunan, perayaan Sekaten seharusnya mampu merengkuh dan direngkuh siapa saja, apalagi akhir-akhir ini warga kota ini terpecah-pecah ke dalam berbagai kekompok kepentingan dan berbagai peristiwa yang mengusik kenyamanan warga kota yang berhati nyaman ini. Tidak terkesan sebagai pertunjukan yang mengkultuskan individu atau menguntungkan segelintir orang.
Mending Bikin Jurnal, Daripada...!!!
Yusriandi Pagarah
Beberapa waktu lalu di Bentara Budaya Yogyakarta dihelat launching sebuah jurnal. Yang menarik bukan nama jurnalnya yang tergolong unik, apalagi warna cover-nya yang tidak lazim untuk ukuran sebuah jurnal. Yang berkesan bukan temanya yang mantap: Menggugat Indonesia! Bukan juga karena pembicaranya St. Sunardi, Eko Prasetyo dan Dian Yanuardy, di mana ketiganya terkenal bicara blak-blakan dan kritiknya yang garang terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Sehingga seringkali dapat aplaus meriah dari peserta. Berkesan lantaran dikemas dalam laku kesederhanaan menyambut peringatan seabad kebangkitan nasional Indonesia, di saat kehidupan masyarakat berada di bawah taraf kehidupan masa kolonial. Sama sekali juga bukan.
Hari gini bikin jurnal? Berbagai jawaban mungkin berkeseleweran dari mulut diiringi gerak tubuh genit anak muda zaman sekarang. Mulai dari capek deh!, huh, masa sih?, pliizz zonk, idih, ya iyalah yaw hingga yuk ya yuk…Tapi inilah pokok masalahnya. Justru di situlah letak menariknya. Pada zaman 3G dan Nico Siahaan ini masih ada anak muda yang membuat jurnal. Pada era ratting tinggi sinetron remaja yang dipenuhi dengan gaya pacaran anak SD-SMP, masih sempat mikir gituan. Pada masa jaya Dewi-Dewi ini masih sempat bikin sesuatu yang tidak marketable. Apalagi tidak dengan motif bonafid. Andai pun ada motif laba, hanya seberapa?
Banyak jurnal mapan dan telah berusia lama yang didukung oleh korporasi dan jaringan bisnis yang kokoh atau disokong oleh aktor intelektual yang mumpuni, toh pada akhirnya gulung tikar juga. Kalau pun hidup, mengalami nasib seperti sebuah larik lagu rock: antara ada dan tiada! Tapi sekali lagi, di situlah letak menariknya. Justru di sanalah letak berkesannya.
Apa pasal dan kenapa memang?! Karena jurnal tersebut dikelola dan kelahirannya diprakarsai oleh sekelompok anak muda. Imut-imut lagi. Dilihat dari segi usia, sebenarnya mereka sedang asyik-asyiknya pacaran. Atau lagi giat-giatnya memasang perangkap dan mengintai target untuk dijadikan teman kencan, pergi ke mall, pendamping ke bioskop atau menonton konser, teman weekend, atau berlibur ke luar kota. Ternyata mereka tidak.
Benci tapi rindu, nyebelin tapi ngangenin. Frase tersebut barangkali dapat mewakili tentang sikap anak muda hari ini. Kita muak dengan prilaku anak muda zaman sekarang yang tiap inci waktunya habis untuk kencan, pacaran dan mabuk-mabukan. Tiap jengkal langkahnya terpaku di ruang-ruang semu digital atau di dunia remang-remang. Detik-detik usianya terlewati mubazir di meja-meja judi, play station dan biliar. Atau malam-malamnya larut di kafe, disko dan klab malam. Seakan-akan hidupnya hanya untuk berfoya-foya dan menghamburkan harta orang tua. Kalender hidupnya hanya menjalani takdir menghadiri satu pesta ke pesta berikutnya.
Namun kita temukan juga kelompok anak muda yang lain, yang tidak larut dalam jalinan massif konsumerisme dan prilaku hedonis akut. Seperti anak muda di atas, yang berani berkata tidak untuk foya-foya, tidak untuk berleha-leha. Bahkan di tempat-tempat lain, yang jauh dari hiruk pikuk musik dan kerlap-kerlip lampu diskotik, kita temukan juga kelompok anak muda menggelar tikar diskusi dan menghilir-mudikan wacana, bukan menggilir ganja apalagi pesta seks. Mereka yang berprinsip bahwa berdiskusi berarti berbagi dan merangkai kata berarti mengasah asa. Mereka inilah yang membuat sesak acara launching jurnal, bedah buku, atau pameran buku, bukan karena ditulis atau dihadiri oleh selebriti.
Setibanya di rumah atau di kontrakan merancang bulletin dan bagan majalah dinding. Mereka inilah yang membiakkan tulisan, meski hanya ruang resensi, rubrik prokon aktivis, atau suara mahasiswa. Tak jadi soal. Mereka yang memaklumkan bahwa jalinan silaturahmi dan kenangan pertemanan tidak mesti dirayakan dengan naik gunung, jalan-jalan ke Anyer, Puncak atau Bali. Bukan juga diabadikan dalam album photo dengan berbagai latar dan gaya atau saling tukar cenderamata cantik, melainkan dalam bentuk tulisan kroyokan atau antologi bersama.
Gosipnya bukan tentang baju baru dan pacar baru, tapi tentang koleksi buku baru dan tulisan terbaru. Tak malu menawarkan ke penerbit antologi cerpen sentimentil, puisi puber, novel di bawah standar, buku how to, atau malahan kumpulan doa dan mantra. Tak berkecil hati bila tulisannya ditolak redaktur media berkali-kali, atau hanya menghiasi media-media lokal atau media komunitas. Tak apa.
Eksistensinya diekspresikan bukan dengan tawuran bila jagoannya kalah di kandang, seperti mayoritas suporter sepakbola negeri ini. Atau marah karena kesenggol waktu acara dangdutan dan pasar malam. Supaya keberadaanya diakui, tidak mengambil jalan pintas dengan cara-cara anarkis dan penyelesaian persoalan yang tak bermoral. Kemenangan atau pun kekalahan tidak diluapkan dengan acara kebut-kebutan motor di jalan raya, apalagi sambil teler-teleran.
Negeri ini butuh anak muda yang enerjik dan kreatif untuk menghadang para tetua udik yang dikerangkeng ideologi kolot dan pro status quo. Negeri ini butuh tenaga dan pikiran dari anak muda yang cerdas, memiliki gagasan bernas, dan imajinasi liar untuk keluar dari ragam kepedihan sosial yang membuat lebam keadaan. Anak muda yang menulis lebih mulia daripada yang bikin atau ikut LSM yang tak jelas juntrungnya, yang hanya mendidik dan menyemaikan benih korupsi melalui mark-up dana proyek.
Lebih terhormat ketimbang berapat tentang RUU dan Perda yang mustahil diterapkan, apalagi sebagai tim sukses para politisi busuk atau simpatisan partai baru yang membutuhkan massa demi memenuhi kuota ikut pemilu musim depan. Bahkan lebih terhormat lagi daripada mereka yang turun ke jalanan karena dibayar atau entah membela siapa hingga memacetkan jalan-jalan protokol. Menulis berarti menggelontorkan ide-ide dan harapan-harapan baru di tengah kebuntuan pikiran-pikiran alternatif dan kepedihan sosial yang tak tertanggungkan. Pak Nal, Bu Ayuk, bikin jurnal yuk! Yuk ya yuk…!
Beberapa waktu lalu di Bentara Budaya Yogyakarta dihelat launching sebuah jurnal. Yang menarik bukan nama jurnalnya yang tergolong unik, apalagi warna cover-nya yang tidak lazim untuk ukuran sebuah jurnal. Yang berkesan bukan temanya yang mantap: Menggugat Indonesia! Bukan juga karena pembicaranya St. Sunardi, Eko Prasetyo dan Dian Yanuardy, di mana ketiganya terkenal bicara blak-blakan dan kritiknya yang garang terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Sehingga seringkali dapat aplaus meriah dari peserta. Berkesan lantaran dikemas dalam laku kesederhanaan menyambut peringatan seabad kebangkitan nasional Indonesia, di saat kehidupan masyarakat berada di bawah taraf kehidupan masa kolonial. Sama sekali juga bukan.
Hari gini bikin jurnal? Berbagai jawaban mungkin berkeseleweran dari mulut diiringi gerak tubuh genit anak muda zaman sekarang. Mulai dari capek deh!, huh, masa sih?, pliizz zonk, idih, ya iyalah yaw hingga yuk ya yuk…Tapi inilah pokok masalahnya. Justru di situlah letak menariknya. Pada zaman 3G dan Nico Siahaan ini masih ada anak muda yang membuat jurnal. Pada era ratting tinggi sinetron remaja yang dipenuhi dengan gaya pacaran anak SD-SMP, masih sempat mikir gituan. Pada masa jaya Dewi-Dewi ini masih sempat bikin sesuatu yang tidak marketable. Apalagi tidak dengan motif bonafid. Andai pun ada motif laba, hanya seberapa?
Banyak jurnal mapan dan telah berusia lama yang didukung oleh korporasi dan jaringan bisnis yang kokoh atau disokong oleh aktor intelektual yang mumpuni, toh pada akhirnya gulung tikar juga. Kalau pun hidup, mengalami nasib seperti sebuah larik lagu rock: antara ada dan tiada! Tapi sekali lagi, di situlah letak menariknya. Justru di sanalah letak berkesannya.
Apa pasal dan kenapa memang?! Karena jurnal tersebut dikelola dan kelahirannya diprakarsai oleh sekelompok anak muda. Imut-imut lagi. Dilihat dari segi usia, sebenarnya mereka sedang asyik-asyiknya pacaran. Atau lagi giat-giatnya memasang perangkap dan mengintai target untuk dijadikan teman kencan, pergi ke mall, pendamping ke bioskop atau menonton konser, teman weekend, atau berlibur ke luar kota. Ternyata mereka tidak.
Benci tapi rindu, nyebelin tapi ngangenin. Frase tersebut barangkali dapat mewakili tentang sikap anak muda hari ini. Kita muak dengan prilaku anak muda zaman sekarang yang tiap inci waktunya habis untuk kencan, pacaran dan mabuk-mabukan. Tiap jengkal langkahnya terpaku di ruang-ruang semu digital atau di dunia remang-remang. Detik-detik usianya terlewati mubazir di meja-meja judi, play station dan biliar. Atau malam-malamnya larut di kafe, disko dan klab malam. Seakan-akan hidupnya hanya untuk berfoya-foya dan menghamburkan harta orang tua. Kalender hidupnya hanya menjalani takdir menghadiri satu pesta ke pesta berikutnya.
Namun kita temukan juga kelompok anak muda yang lain, yang tidak larut dalam jalinan massif konsumerisme dan prilaku hedonis akut. Seperti anak muda di atas, yang berani berkata tidak untuk foya-foya, tidak untuk berleha-leha. Bahkan di tempat-tempat lain, yang jauh dari hiruk pikuk musik dan kerlap-kerlip lampu diskotik, kita temukan juga kelompok anak muda menggelar tikar diskusi dan menghilir-mudikan wacana, bukan menggilir ganja apalagi pesta seks. Mereka yang berprinsip bahwa berdiskusi berarti berbagi dan merangkai kata berarti mengasah asa. Mereka inilah yang membuat sesak acara launching jurnal, bedah buku, atau pameran buku, bukan karena ditulis atau dihadiri oleh selebriti.
Setibanya di rumah atau di kontrakan merancang bulletin dan bagan majalah dinding. Mereka inilah yang membiakkan tulisan, meski hanya ruang resensi, rubrik prokon aktivis, atau suara mahasiswa. Tak jadi soal. Mereka yang memaklumkan bahwa jalinan silaturahmi dan kenangan pertemanan tidak mesti dirayakan dengan naik gunung, jalan-jalan ke Anyer, Puncak atau Bali. Bukan juga diabadikan dalam album photo dengan berbagai latar dan gaya atau saling tukar cenderamata cantik, melainkan dalam bentuk tulisan kroyokan atau antologi bersama.
Gosipnya bukan tentang baju baru dan pacar baru, tapi tentang koleksi buku baru dan tulisan terbaru. Tak malu menawarkan ke penerbit antologi cerpen sentimentil, puisi puber, novel di bawah standar, buku how to, atau malahan kumpulan doa dan mantra. Tak berkecil hati bila tulisannya ditolak redaktur media berkali-kali, atau hanya menghiasi media-media lokal atau media komunitas. Tak apa.
Eksistensinya diekspresikan bukan dengan tawuran bila jagoannya kalah di kandang, seperti mayoritas suporter sepakbola negeri ini. Atau marah karena kesenggol waktu acara dangdutan dan pasar malam. Supaya keberadaanya diakui, tidak mengambil jalan pintas dengan cara-cara anarkis dan penyelesaian persoalan yang tak bermoral. Kemenangan atau pun kekalahan tidak diluapkan dengan acara kebut-kebutan motor di jalan raya, apalagi sambil teler-teleran.
Negeri ini butuh anak muda yang enerjik dan kreatif untuk menghadang para tetua udik yang dikerangkeng ideologi kolot dan pro status quo. Negeri ini butuh tenaga dan pikiran dari anak muda yang cerdas, memiliki gagasan bernas, dan imajinasi liar untuk keluar dari ragam kepedihan sosial yang membuat lebam keadaan. Anak muda yang menulis lebih mulia daripada yang bikin atau ikut LSM yang tak jelas juntrungnya, yang hanya mendidik dan menyemaikan benih korupsi melalui mark-up dana proyek.
Lebih terhormat ketimbang berapat tentang RUU dan Perda yang mustahil diterapkan, apalagi sebagai tim sukses para politisi busuk atau simpatisan partai baru yang membutuhkan massa demi memenuhi kuota ikut pemilu musim depan. Bahkan lebih terhormat lagi daripada mereka yang turun ke jalanan karena dibayar atau entah membela siapa hingga memacetkan jalan-jalan protokol. Menulis berarti menggelontorkan ide-ide dan harapan-harapan baru di tengah kebuntuan pikiran-pikiran alternatif dan kepedihan sosial yang tak tertanggungkan. Pak Nal, Bu Ayuk, bikin jurnal yuk! Yuk ya yuk…!
Kopi Darat Penulis
Yusriandi Pagarah
“Anda yang dari Tanjung Bonai Aur? Bisa datang malam ini ke masjid Nogotirto?” Begitu jawab Bapak Ahmad Syafii Maarif, waktu saya hubungi lewat telpon genggamnya pada suatu sore jelang bedug berbuka puasa bertalu. Sebagai orang biasa, permintaan tersebut membuat hati saya gembira, terharu, dan juga gregetan. Betapa tidak, salah satu sosok yang selama ini saya kagumi tulisannya, terutama otobiografinya yang inspiratif, mengajak ketemuan.
Saya pun berkemas, terutama menata hati yang tak karuan riaknya. Tidak lupa saya mengajak seorang teman, yang hemat saya bernyali besar dan pintar ngomong. Karena saya termasuk orang bermental aneh, yang selalu saja menganggap musuh orang yang lebih, baik dari sisi pengetahuan, pengalaman, pendidikan, usia, lebih-lebih lagi dari segi jabatan dan kekayaan.
Kami sampai saat mimbar masjid Nogotirto sedang dihuni oleh seorang penceramah Ramadan keliling. Saya mengumpulkan segenap kemampuan daya ingat tentang sosok Pak Syafii, mulai dari yang saya lihat di televisi, saya lihat di koran-koran, sampai dari cerita-cerita orang tentang beliau. Setelah menghilir-mudikkan mata melalui kaca nako masjid, sambil berbisik pada teman, saya menunjuk bahwa yang duduk di pojok kiri itu adalah Pak Syafii. Teman saya pun mengangguk, apa ia sungguh-sungguh tahu atau tidak, tak saya hiraukan lagi.
Selesai melaksanakan ritual khas bulan Ramadan tersebut, gemuruh hati saya kian tak terkatakan bentuknya. Saya pun mencuri-curi pandang ke arah Pak Syafii. Menelisik apa yang sedang dilakukannya. Pak Syafii sedang ngalor-ngidul dengan para tetangga dan sahabat-sahabatnya. Sesekali saya lihat Pak Syafii tertawa berderai entah karena cerita apa.
Sementara teman saya mendorong-dorong tubuh saya, untuk lekas-lekas menemui Pak Syafii. Tak lupa teman saya itu “mengatai-ngatai” saya yang tidak mengenakan perasaan, seperti pengecut, penakut, lemah, dan lain-lain. Saya coba berdamai denganya dan juga dengan diri saya sendiri, dengan menimpali bahwa Pak Syafii sedang “sibuk”. Tapi teman saya malahan mengancam, kalau tidak berani menemuinya sekarang lebih baik pulang saja. Tidak sampai di situ, teman saya ini juga mengungkit “kelemahan” saya waktu bertemu dengan sastrawan Gus tf Sakai dalam perhelatan Festival Kebudayaan Yogyakarta beberapa waktu lalu.
Waktu itu, saya telah “mengikat janji” ketemuan dengan sastrawan asal Payakumbuh tersebut di penginapannya di bilangan Krapyak Wetan. Tak jauh jaraknya dengan lokasi Kedai Forum penyair Saut Situmorang. Masih sekompleks dengan Pondok Pesantren Al-Munawwir yang terkenal dengan produk “Kamus Al-Munawwir” itu. Karena tak mau sendiri, saya pun mengajak seorang teman. Kebetulan teman yang saya ajak menemui Bang Gus tf itu, juga orang yang sekarang saya ajak menemui Pak Syafii. Jadi, ia agak mengenal diri saya luar-dalam. Kelemahan saya itu justeru jadi kartu as baginya.
Jeda beberapa waktu, teman saya itu berinisiatif duluan menghampiri Pak Syafii. Spontan saja Pak Syafii menyambut uluran salamnya dan bertanya, dari Tanjung Bonai Aur? Bukan, jawab teman saya, seraya menunjuk pada saya. Pak Syafii lantas mengenalkan kami pada jamaah lainnya. Tak lama berselang, Pak Syafii mengajak kami mampir ke rumahnya yang hanya beberapa langkah jaraknya dari masjid.
Artistik dan perdu, begitu kesan pertama saya masuk ke rumah Pak Syafii. Dasar pengkhayal, saya pun membayangkan sedang memilah-milah mana di antara sekian banyak tulisan Pak Syafii yang dibuat di rumah ini dan mana yang dibuat di tempat lain. Laiknya penulis zaman baheula, yang dibedakan antara penulis dalam istana dan penulis luar istana. Atau, seperti Imam Syafii yang melahirkan qaul qadim dan qaul jadid, karena kultur Mesir memang berbeda dengan kultur Irak.
Sambil mempersilahkan kami minum di ruang tamu bagian depan, Pak Syafii bertanya kepada kami, di mana saja tulisan kami pernah dimuat? Rona wajah saya memerah, kalau bukannya pucat pasi. Teman saya mencoba menjawab sekadarnya. Sekadar gayung bersambut. Tapi tak cukup menghapus rasa malu yang membuncah. Kemudian kami yang balik bertanya, layaknya jurnalis infotainment. Beragam pertanyaan yang muncul malam itu. Tapi lebih banyak lagi yang terendap di lekuk ingatan. Pada kesempatan itu, Pak Syafii berbaik hati membawa kami ke ruang perpustakaan pribadinya. Beliau bercerita, bahwa koleksi bukunya tersebut banyak yang merupakan hadiah dari teman-temannya. Saya bergumam dalam hati, alangkah indahnya jalinan pertemanan bermotto “ungkapkan sayang dengan buku”. Bukan dengan pamer kemewahan dan perang urat saraf di media. Pak Syafii memberi kami buku yang masih “perawan” karena pembungkusnya masih rapi, juga copyan tulisan terbarunya tentang perekrutan anggota KPK yang sempat heboh itu.
Dari sekeranjang pembicaraan itu, ada tiga hal yang saya garis bawahi. Pertama, ketertarikan Pak Syafii dengan tokoh yang dicap kiri, sesat, atau komunis-sosialis. Pak Syafii bercerita tentang banyaknya alumni pesantren yang condong dengan komunis pada zaman pergerakan. Menurut beliau, ideologi komunis agak dekat dengan ajaran Islam. Maka tidak heran tokoh-tokoh komunis Indonesia banyak yang jebolan pesantren Gontor dan Thawalib Padang Panjang. Misalnya, tokoh-tokoh pemberontakan Silunkang Sumatra Barat dan Madiun Jawa Timur. Beliau sangat menyayangkan, setelah Cokroaminoto, Sutan Syahrir, dan Tan Malaka, tak ada lagi orang yang intens mengeluti Islam dan sosialisme. Padahal tokoh sekaliber Sayyid Quthb dan kelompok militan Ikhwanul Muslimin di Mesir pun tak kurang mengakrabinya.
Dari sini, kemudian Pak Syafii membawa saya pada topik kedua, yaitu kemiskinan. Menurut beliau, agama Islam sesungguhnya anti kemiskinan namun sangat bersimpati pada orang miskin. Beliau menjelaskannya sambil mengutip beberapa ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi. Terakhir, secara eksplisit Pak Syafii setuju dan bahkan mendorong metode maudhu’i atau metode tematik dalam penafsiran al-Qur’an. Menurut beliau, metode tematik lebih relevan dan lebih mampu menjawab persoalan zaman dan tantangan kontemporer.
Bersama seorang dosen hukum pidana, saya bersua lagi dengan Pak Syafii pada Malam Minggu. Seperti biasa, setelah shalat tarawih, Pak Syafii beramah-tamah dengan para jamaah. Kami ikut meleburkan diri. Waktu itu hadir seorang Dekan Fisipol yang analisisnya tentang krisis Asia sangat menarik. Juga hadir seorang Dirjen yang malam itu didapuk sebagai penceramah Ramadan. Dari Dirjen ini saya beroleh kabar betapa nakalnya anggota dewan, terutama yang terhimpun dalam Komisi X. Saya jadi galau dengan tuntutan masyarakat kepada pemerintah untuk meningkatkan anggaran pendidikan. Jangan-jangan, naiknya anggaran untuk pendidikan berarti naik juga “komisi” untuk Komisi X.
Dari dua kali pertemuan dengan Pak Syafii, tak saya jumpai padanya “gaya orang penting”. Saya juga melihat “kegamangan yang sangat” di wajah beliau ketika beroleh kabar yang tidak enak, seperti perihal nakalnya anggota dewan di atas. Namun yang paling saya nantikan, tentu saja, tulisannya yang jujur, blak-blakan, dan tajam tentang berbagai persoalan.
Sungguh, acara kopi darat yang berkesan dengan salah seorang penulis yang saya kagumi. Tidak saja tulisan-tulisannya, tapi juga sikap dan konsistensinya yang tidak tergoda “kue” politik praktis!
“Anda yang dari Tanjung Bonai Aur? Bisa datang malam ini ke masjid Nogotirto?” Begitu jawab Bapak Ahmad Syafii Maarif, waktu saya hubungi lewat telpon genggamnya pada suatu sore jelang bedug berbuka puasa bertalu. Sebagai orang biasa, permintaan tersebut membuat hati saya gembira, terharu, dan juga gregetan. Betapa tidak, salah satu sosok yang selama ini saya kagumi tulisannya, terutama otobiografinya yang inspiratif, mengajak ketemuan.
Saya pun berkemas, terutama menata hati yang tak karuan riaknya. Tidak lupa saya mengajak seorang teman, yang hemat saya bernyali besar dan pintar ngomong. Karena saya termasuk orang bermental aneh, yang selalu saja menganggap musuh orang yang lebih, baik dari sisi pengetahuan, pengalaman, pendidikan, usia, lebih-lebih lagi dari segi jabatan dan kekayaan.
Kami sampai saat mimbar masjid Nogotirto sedang dihuni oleh seorang penceramah Ramadan keliling. Saya mengumpulkan segenap kemampuan daya ingat tentang sosok Pak Syafii, mulai dari yang saya lihat di televisi, saya lihat di koran-koran, sampai dari cerita-cerita orang tentang beliau. Setelah menghilir-mudikkan mata melalui kaca nako masjid, sambil berbisik pada teman, saya menunjuk bahwa yang duduk di pojok kiri itu adalah Pak Syafii. Teman saya pun mengangguk, apa ia sungguh-sungguh tahu atau tidak, tak saya hiraukan lagi.
Selesai melaksanakan ritual khas bulan Ramadan tersebut, gemuruh hati saya kian tak terkatakan bentuknya. Saya pun mencuri-curi pandang ke arah Pak Syafii. Menelisik apa yang sedang dilakukannya. Pak Syafii sedang ngalor-ngidul dengan para tetangga dan sahabat-sahabatnya. Sesekali saya lihat Pak Syafii tertawa berderai entah karena cerita apa.
Sementara teman saya mendorong-dorong tubuh saya, untuk lekas-lekas menemui Pak Syafii. Tak lupa teman saya itu “mengatai-ngatai” saya yang tidak mengenakan perasaan, seperti pengecut, penakut, lemah, dan lain-lain. Saya coba berdamai denganya dan juga dengan diri saya sendiri, dengan menimpali bahwa Pak Syafii sedang “sibuk”. Tapi teman saya malahan mengancam, kalau tidak berani menemuinya sekarang lebih baik pulang saja. Tidak sampai di situ, teman saya ini juga mengungkit “kelemahan” saya waktu bertemu dengan sastrawan Gus tf Sakai dalam perhelatan Festival Kebudayaan Yogyakarta beberapa waktu lalu.
Waktu itu, saya telah “mengikat janji” ketemuan dengan sastrawan asal Payakumbuh tersebut di penginapannya di bilangan Krapyak Wetan. Tak jauh jaraknya dengan lokasi Kedai Forum penyair Saut Situmorang. Masih sekompleks dengan Pondok Pesantren Al-Munawwir yang terkenal dengan produk “Kamus Al-Munawwir” itu. Karena tak mau sendiri, saya pun mengajak seorang teman. Kebetulan teman yang saya ajak menemui Bang Gus tf itu, juga orang yang sekarang saya ajak menemui Pak Syafii. Jadi, ia agak mengenal diri saya luar-dalam. Kelemahan saya itu justeru jadi kartu as baginya.
Jeda beberapa waktu, teman saya itu berinisiatif duluan menghampiri Pak Syafii. Spontan saja Pak Syafii menyambut uluran salamnya dan bertanya, dari Tanjung Bonai Aur? Bukan, jawab teman saya, seraya menunjuk pada saya. Pak Syafii lantas mengenalkan kami pada jamaah lainnya. Tak lama berselang, Pak Syafii mengajak kami mampir ke rumahnya yang hanya beberapa langkah jaraknya dari masjid.
Artistik dan perdu, begitu kesan pertama saya masuk ke rumah Pak Syafii. Dasar pengkhayal, saya pun membayangkan sedang memilah-milah mana di antara sekian banyak tulisan Pak Syafii yang dibuat di rumah ini dan mana yang dibuat di tempat lain. Laiknya penulis zaman baheula, yang dibedakan antara penulis dalam istana dan penulis luar istana. Atau, seperti Imam Syafii yang melahirkan qaul qadim dan qaul jadid, karena kultur Mesir memang berbeda dengan kultur Irak.
Sambil mempersilahkan kami minum di ruang tamu bagian depan, Pak Syafii bertanya kepada kami, di mana saja tulisan kami pernah dimuat? Rona wajah saya memerah, kalau bukannya pucat pasi. Teman saya mencoba menjawab sekadarnya. Sekadar gayung bersambut. Tapi tak cukup menghapus rasa malu yang membuncah. Kemudian kami yang balik bertanya, layaknya jurnalis infotainment. Beragam pertanyaan yang muncul malam itu. Tapi lebih banyak lagi yang terendap di lekuk ingatan. Pada kesempatan itu, Pak Syafii berbaik hati membawa kami ke ruang perpustakaan pribadinya. Beliau bercerita, bahwa koleksi bukunya tersebut banyak yang merupakan hadiah dari teman-temannya. Saya bergumam dalam hati, alangkah indahnya jalinan pertemanan bermotto “ungkapkan sayang dengan buku”. Bukan dengan pamer kemewahan dan perang urat saraf di media. Pak Syafii memberi kami buku yang masih “perawan” karena pembungkusnya masih rapi, juga copyan tulisan terbarunya tentang perekrutan anggota KPK yang sempat heboh itu.
Dari sekeranjang pembicaraan itu, ada tiga hal yang saya garis bawahi. Pertama, ketertarikan Pak Syafii dengan tokoh yang dicap kiri, sesat, atau komunis-sosialis. Pak Syafii bercerita tentang banyaknya alumni pesantren yang condong dengan komunis pada zaman pergerakan. Menurut beliau, ideologi komunis agak dekat dengan ajaran Islam. Maka tidak heran tokoh-tokoh komunis Indonesia banyak yang jebolan pesantren Gontor dan Thawalib Padang Panjang. Misalnya, tokoh-tokoh pemberontakan Silunkang Sumatra Barat dan Madiun Jawa Timur. Beliau sangat menyayangkan, setelah Cokroaminoto, Sutan Syahrir, dan Tan Malaka, tak ada lagi orang yang intens mengeluti Islam dan sosialisme. Padahal tokoh sekaliber Sayyid Quthb dan kelompok militan Ikhwanul Muslimin di Mesir pun tak kurang mengakrabinya.
Dari sini, kemudian Pak Syafii membawa saya pada topik kedua, yaitu kemiskinan. Menurut beliau, agama Islam sesungguhnya anti kemiskinan namun sangat bersimpati pada orang miskin. Beliau menjelaskannya sambil mengutip beberapa ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi. Terakhir, secara eksplisit Pak Syafii setuju dan bahkan mendorong metode maudhu’i atau metode tematik dalam penafsiran al-Qur’an. Menurut beliau, metode tematik lebih relevan dan lebih mampu menjawab persoalan zaman dan tantangan kontemporer.
Bersama seorang dosen hukum pidana, saya bersua lagi dengan Pak Syafii pada Malam Minggu. Seperti biasa, setelah shalat tarawih, Pak Syafii beramah-tamah dengan para jamaah. Kami ikut meleburkan diri. Waktu itu hadir seorang Dekan Fisipol yang analisisnya tentang krisis Asia sangat menarik. Juga hadir seorang Dirjen yang malam itu didapuk sebagai penceramah Ramadan. Dari Dirjen ini saya beroleh kabar betapa nakalnya anggota dewan, terutama yang terhimpun dalam Komisi X. Saya jadi galau dengan tuntutan masyarakat kepada pemerintah untuk meningkatkan anggaran pendidikan. Jangan-jangan, naiknya anggaran untuk pendidikan berarti naik juga “komisi” untuk Komisi X.
Dari dua kali pertemuan dengan Pak Syafii, tak saya jumpai padanya “gaya orang penting”. Saya juga melihat “kegamangan yang sangat” di wajah beliau ketika beroleh kabar yang tidak enak, seperti perihal nakalnya anggota dewan di atas. Namun yang paling saya nantikan, tentu saja, tulisannya yang jujur, blak-blakan, dan tajam tentang berbagai persoalan.
Sungguh, acara kopi darat yang berkesan dengan salah seorang penulis yang saya kagumi. Tidak saja tulisan-tulisannya, tapi juga sikap dan konsistensinya yang tidak tergoda “kue” politik praktis!
Senin, 05 Januari 2009
Sinema Religi dan Islam Patetik
Oleh Yusriandi Pagarah
FANTASTIK! Fenomenal! Barangkali dua kata tersebut tepat mewakili kegembiraan umat Islam hari ini. Pasalnya, hampir tak ada stasiun televisi di negeri ini yang tidak menayangkan sinema religi. Jam tayangnya tidak lagi mengenal waktu. Tidak siang dan tidak malam. Pemilik production house berlomba-lomba membuat cerita berlatar keagamaan. Tema yang diangkat tak kalah anekanya. Intensitasnya bertambah seiring dengan datangnya bulan suci Ramadan.
Tapi, benarkah itu potret Islam? Benarkah itu representasi dari wajah umat Islam? Seorang teman, entah mengutip pendapat siapa, pernah berkata,"Bacalah pemikiran filosofmu secara terbalik, niscaya akan kamu temukan sesuatu yang ganjil darinya".
Gardu Pandang Lain
Memang sinema religi mampu memberikan advis atau tontonan alternatif bagi pemirsa televisióterutama bagi umat Islam sendiriódi tengah pesatnya tayangan komersial yang mengumbar aurat, menawarkan mimpi-mimpi indah sesaat dan harapan semu.
Namun bila dicermati sinema religi juga tak imun dari sejumlah sengkarut kontradiksi di dalamnya.
Dilihat dari sisi mana saja, sinema religi merupakan bagian tak terpisahkan dari pasaróuntuk tidak mengatakan bahwa sinema religi tak lain adalah pasar itu sendiri. Di tangan pemodal tak ada yang mustahil untuk dijadikan komoditas dan dikomersialkan. Tak terkecuali agama. Juga mendepak normativitas Islam dari tempat asalnya. Bila selama ini kita begitu akrab dengan istilah kapitalisasi ekonomi dan diiringi dengan kapitalisasi pengetahuan, bahkan telah menjadi bagian tak terpisahkan darinya, tanpa kita sadari sejatinya telah pula menyeruak ke tengah-tengah keluarga besar kita yang bernama kapitalisasi agama.
Kapitalisme agama, komersialisasi agama, atau apa pun namanya, nyata-nyata telah menggerototi agama Islam dari dalam. Tampilan luar yang norak dan kemasan agama yang ngepop karena disesuaikan dengan pesan pengiklan atau kemauan pemodal. Ide cerita yang dangkal karena tidak memotret ajaran fundamental Islam ikut memperburuk citra agama Islam dan pemeluknya di mata pemirsanya. Sebuah perang pencitraan yang gagal!
Disamping itu, sebagaimana jamaknya media massa lainnya, sinema religi juga memiliki wajah ganda dan ditambah dengan "titipan" agenda terselubung . Salah satu wajah mendua sinema religi yang patut dikritisi, terlihat pada figur aktor dan sosok aktrisnya yang memiliki kepribadian ganda.
Dalam realitasnya aktor atau aktris berpenampilan glamour atau tidak punya komitmen yang jelas terhadap agama, namun dalam tayangan sinema religi ia disulap laiknya kiai atau perempuan yang tak bercacat. Tampilan paradoksal yang ambigu tentunya.
Ayam Berbulu Domba
Bila ditelisik lebih dalam, di balik booming tayangan sinema religi, terdapat pemandangan yang sangat kontra produktif. Kita namakan saja "pemandangan yang menganggu" tersebut upaya pengeroposan ontologis ajaran Islam dari dalam yang berada di balik dalih tontonan religius.
Pertama, sinema religi mengandung unsur pornografi dan pornoaksi. Barangkali tak banyak yang menyadari bila dalam tayangan sinema religi banyak sekali ditemukan tampilan mengumbar aurat, menyulut syahwat, dan mempertontonkan parade kemesuman.
Masyarakat menjadi akrab dengan yang tergolong patologi sosial, seperti lesbian, homo dan sodomi, dari menonton sinema religi. Ironisnya, pornografi dan pornoaksi yang dikutuk masyarakat luas itu leluasa masuk ke setiap rumah dan ditonton banyak orang tanpa disensor.
Kedua, sinema religi banyak menayangkan praktik anarkisme. Secara gamblang kekerasan fisik hingga kekerasan seksual terakomodasi di dalamnya. Dalam sinema religi kita saksikan seorang yang mencuri sandal babak-belur dihakimi massa, seorang pengamen ditikam temannya, atau pencuri sapi diarak keliling kampung. Tawuran dan merakit bom pun dapat dipelajari dari menonton sinema religi.
Ketiga, sinema religi dekat dengan klenik dan identik dengan aroma kemenyan. Banyak sekali mengangkat tema yang menganulir rasionalitas dan menampik akal sehat. Bahkan ada tayangan tertentu yang terkesan mendahului Tuhan. Acapkali menayangkan orang yang memakai susuk akan tersiksa waktu sakratul maut. Koruptor waktu meninggal akan keluar dari perutnya bau busuk atau ulat belatung. Dukun meninggal menjadi babi atau meraung-raung laiknya anjing hutan.
Tidak sedikit pula orang tahu kalau ingin cantik, kaya, sukses, memikat lawan jenis, atau memiliki jabatan prestisius, melalui jalan pintas, dengan cara datang ke dukun, berhubungan dengan makhluk halus, atau intens berkomunikasi dengan Nyi Ratu dan Ki Joko. Kemusyrikan dan takhayul yang ingin diberantas Islam justru disemaikan dengan amat suburnya dalam tayangan sinema religi.
Keempat, melahirkan masyarakat masokistik. Tanpa disadari, tayangan sinema religi telah memopulerkan pola masyarakat masokistik, yaitu masyarakat yang menggantungkan sepenuh hidupnya pada sosok tertentu atau terlalu mudah mengalah pada keadaan.
Dalam sinema religi terlihat sangat dominannya sosok seorang kiai atau figur seorang ustad. Hidup ini seakan selesai dengan kehadiran atau dengan mendatangi seorang ulama. Parahnya lagi sinema religi melalui ustad "seleb" itu berhasil membangun citra bahwa kehidupan dunia ini tidaklah berarti atau kehidupan ini terlalu banyak rintangannya. Maka jalan terbaiknya adalah bekerja sekadar kebutuhan dan bersabar.
Kesabaran yang ditayangkan telah beralih menjadi kesabaran instrumental, kesabaran yang telah diplesetkan: orang sabar bagaikan tumpukan sampah yang dikerubungi lalat. Selebihnya serahkan pada takdir dan petuah ulama. Padahal agama Islam mengajarkan bahwa Tuhan lebih mencintai pekerja keras dan melalui setiap cobaan hidup dengan sepenuh hati dan sekuat nyali. M. Amin Abdullah (1998) menamai fenomena tersebut sebagai the idea of syaikh.
Terlihat begitu banyak cacat dalam tayangan sinema religi, yang tanpa kita sadari dan kita kritisi, telah mengelabui kita dan membelotkan ajaran Islam ke tempat yang salah. Itulah wajah Islam patetik. Wajah Islam yang menakutkan dan menyedihkan yang mencari legitimasi di balik kemasan cantik sinema religi. Bagai ayam berbulu domba. Tapi tak terdengar LSM yang protes. Tak terlihat ormas yang komplain. Juga tak ada fatwa ulama untuknya. (11)
---Yusriandi Pagarah, kulturalis, bergiat pada Komunitas Perairan Wacana Yogyakarta
Wacana, Suara Merdeka, Jumat, 21 September 2007
FANTASTIK! Fenomenal! Barangkali dua kata tersebut tepat mewakili kegembiraan umat Islam hari ini. Pasalnya, hampir tak ada stasiun televisi di negeri ini yang tidak menayangkan sinema religi. Jam tayangnya tidak lagi mengenal waktu. Tidak siang dan tidak malam. Pemilik production house berlomba-lomba membuat cerita berlatar keagamaan. Tema yang diangkat tak kalah anekanya. Intensitasnya bertambah seiring dengan datangnya bulan suci Ramadan.
Tapi, benarkah itu potret Islam? Benarkah itu representasi dari wajah umat Islam? Seorang teman, entah mengutip pendapat siapa, pernah berkata,"Bacalah pemikiran filosofmu secara terbalik, niscaya akan kamu temukan sesuatu yang ganjil darinya".
Gardu Pandang Lain
Memang sinema religi mampu memberikan advis atau tontonan alternatif bagi pemirsa televisióterutama bagi umat Islam sendiriódi tengah pesatnya tayangan komersial yang mengumbar aurat, menawarkan mimpi-mimpi indah sesaat dan harapan semu.
Namun bila dicermati sinema religi juga tak imun dari sejumlah sengkarut kontradiksi di dalamnya.
Dilihat dari sisi mana saja, sinema religi merupakan bagian tak terpisahkan dari pasaróuntuk tidak mengatakan bahwa sinema religi tak lain adalah pasar itu sendiri. Di tangan pemodal tak ada yang mustahil untuk dijadikan komoditas dan dikomersialkan. Tak terkecuali agama. Juga mendepak normativitas Islam dari tempat asalnya. Bila selama ini kita begitu akrab dengan istilah kapitalisasi ekonomi dan diiringi dengan kapitalisasi pengetahuan, bahkan telah menjadi bagian tak terpisahkan darinya, tanpa kita sadari sejatinya telah pula menyeruak ke tengah-tengah keluarga besar kita yang bernama kapitalisasi agama.
Kapitalisme agama, komersialisasi agama, atau apa pun namanya, nyata-nyata telah menggerototi agama Islam dari dalam. Tampilan luar yang norak dan kemasan agama yang ngepop karena disesuaikan dengan pesan pengiklan atau kemauan pemodal. Ide cerita yang dangkal karena tidak memotret ajaran fundamental Islam ikut memperburuk citra agama Islam dan pemeluknya di mata pemirsanya. Sebuah perang pencitraan yang gagal!
Disamping itu, sebagaimana jamaknya media massa lainnya, sinema religi juga memiliki wajah ganda dan ditambah dengan "titipan" agenda terselubung . Salah satu wajah mendua sinema religi yang patut dikritisi, terlihat pada figur aktor dan sosok aktrisnya yang memiliki kepribadian ganda.
Dalam realitasnya aktor atau aktris berpenampilan glamour atau tidak punya komitmen yang jelas terhadap agama, namun dalam tayangan sinema religi ia disulap laiknya kiai atau perempuan yang tak bercacat. Tampilan paradoksal yang ambigu tentunya.
Ayam Berbulu Domba
Bila ditelisik lebih dalam, di balik booming tayangan sinema religi, terdapat pemandangan yang sangat kontra produktif. Kita namakan saja "pemandangan yang menganggu" tersebut upaya pengeroposan ontologis ajaran Islam dari dalam yang berada di balik dalih tontonan religius.
Pertama, sinema religi mengandung unsur pornografi dan pornoaksi. Barangkali tak banyak yang menyadari bila dalam tayangan sinema religi banyak sekali ditemukan tampilan mengumbar aurat, menyulut syahwat, dan mempertontonkan parade kemesuman.
Masyarakat menjadi akrab dengan yang tergolong patologi sosial, seperti lesbian, homo dan sodomi, dari menonton sinema religi. Ironisnya, pornografi dan pornoaksi yang dikutuk masyarakat luas itu leluasa masuk ke setiap rumah dan ditonton banyak orang tanpa disensor.
Kedua, sinema religi banyak menayangkan praktik anarkisme. Secara gamblang kekerasan fisik hingga kekerasan seksual terakomodasi di dalamnya. Dalam sinema religi kita saksikan seorang yang mencuri sandal babak-belur dihakimi massa, seorang pengamen ditikam temannya, atau pencuri sapi diarak keliling kampung. Tawuran dan merakit bom pun dapat dipelajari dari menonton sinema religi.
Ketiga, sinema religi dekat dengan klenik dan identik dengan aroma kemenyan. Banyak sekali mengangkat tema yang menganulir rasionalitas dan menampik akal sehat. Bahkan ada tayangan tertentu yang terkesan mendahului Tuhan. Acapkali menayangkan orang yang memakai susuk akan tersiksa waktu sakratul maut. Koruptor waktu meninggal akan keluar dari perutnya bau busuk atau ulat belatung. Dukun meninggal menjadi babi atau meraung-raung laiknya anjing hutan.
Tidak sedikit pula orang tahu kalau ingin cantik, kaya, sukses, memikat lawan jenis, atau memiliki jabatan prestisius, melalui jalan pintas, dengan cara datang ke dukun, berhubungan dengan makhluk halus, atau intens berkomunikasi dengan Nyi Ratu dan Ki Joko. Kemusyrikan dan takhayul yang ingin diberantas Islam justru disemaikan dengan amat suburnya dalam tayangan sinema religi.
Keempat, melahirkan masyarakat masokistik. Tanpa disadari, tayangan sinema religi telah memopulerkan pola masyarakat masokistik, yaitu masyarakat yang menggantungkan sepenuh hidupnya pada sosok tertentu atau terlalu mudah mengalah pada keadaan.
Dalam sinema religi terlihat sangat dominannya sosok seorang kiai atau figur seorang ustad. Hidup ini seakan selesai dengan kehadiran atau dengan mendatangi seorang ulama. Parahnya lagi sinema religi melalui ustad "seleb" itu berhasil membangun citra bahwa kehidupan dunia ini tidaklah berarti atau kehidupan ini terlalu banyak rintangannya. Maka jalan terbaiknya adalah bekerja sekadar kebutuhan dan bersabar.
Kesabaran yang ditayangkan telah beralih menjadi kesabaran instrumental, kesabaran yang telah diplesetkan: orang sabar bagaikan tumpukan sampah yang dikerubungi lalat. Selebihnya serahkan pada takdir dan petuah ulama. Padahal agama Islam mengajarkan bahwa Tuhan lebih mencintai pekerja keras dan melalui setiap cobaan hidup dengan sepenuh hati dan sekuat nyali. M. Amin Abdullah (1998) menamai fenomena tersebut sebagai the idea of syaikh.
Terlihat begitu banyak cacat dalam tayangan sinema religi, yang tanpa kita sadari dan kita kritisi, telah mengelabui kita dan membelotkan ajaran Islam ke tempat yang salah. Itulah wajah Islam patetik. Wajah Islam yang menakutkan dan menyedihkan yang mencari legitimasi di balik kemasan cantik sinema religi. Bagai ayam berbulu domba. Tapi tak terdengar LSM yang protes. Tak terlihat ormas yang komplain. Juga tak ada fatwa ulama untuknya. (11)
---Yusriandi Pagarah, kulturalis, bergiat pada Komunitas Perairan Wacana Yogyakarta
Wacana, Suara Merdeka, Jumat, 21 September 2007
Langganan:
Postingan (Atom)
