Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Januari 2009

Gigil Desember

Yusriandi Pagarah


hujan tutup tahun melumat
koran-koran alas sajadah
tenggelamkan situs-situs sejarah
idul adha tertambat di pepokok aur
belakang kontrakan


hujan tutup tahun menghapus
sisa amis darah penderma
raib bersama gigil desember
yang gugup dengan wajahnya sendiri


hujan tutup tahun mengganas
memeras tiap tetes yang bersisa
sedang aku bagai hewan qurban
yang gagal dijegal
karena influenza


//Gg. Gading-Sapen, 311306, 09:56 am

Waktu Berpahat Kelu Batu

Yusriandi Pagarah


I

Sisa bara siang dibasuh angin sore yang kelu. Bayang-bayang pasi bergelantungan di dahan-dahan ranggas akasia. Senja yang pikun berpendar membiakkan pekat malam. Ah, serasa tambah panjang saja malam berderai ini. Serasa makin lebar saja retak cermin meja rias itu.

Genit ingatan berbalik ke bilik lama yang sempat terekam:
Ia hantarkan salam bersama debaran jantung bergemuruh. Ia kuatkan nyali mengetuk pintu. Hingga tiga kali. Sambil ditirakatinya pelan sebuah nama. Langkah berat terdengar diseret ke daun pintu penuh kenangan. “Cari siapa, Dik”, tanya lelaki itu tanpa basa-basi.

Tapi perempuan itu malahan kabur melewati perpustakaan yang sepi pengunjung. Tak pernah lagi ia menoleh ke belakang. Sepeninggalnya, lelaki itu terus mengumpat dalam hati, “ada-ada saja yang menganggu lelapku”. Sambil bersungut-sungut ia rekat kembali sepotong mimpi yang terbengkalai. Waktu itu matahari baru sepenggalah. Sore hari terbesit berita: rupanya perempuan itu dikerjain kakak kelasnya.

Pertemuan pertama yang tak bernama!

II

Kala itu ufuk barat ditemani cahaya langit sore keemasan. Pijar musim kemarau membias ke danau-danau yang mulai kerontang. Juga tasik-tasik yang jarang disiang. Retak-retak tanah membuat cemas rerombongan semut menyeberangi perlintasan. Daun-daun berguguran mengerumuni pepokoknya. Kuartet debu dan kabut jumpalitan menyerbu kerongkongan. Ah, makin sempit saja ruang. Makin jauh saja tanah harapan.

Genit ingatan berbalik ke bilik lama yang sempat terekam:
Laki-laki itu masuk dari arah gerbang. Bergegas menemui ranjang derit masa remaja. Kangen pada kasur berkepinding. Juga bantal tak bersarung berhias peta-peta dunia. Sebelum langkah kaki menjangkau teras, sebelum tangan merengkuh pintu kenangan, perempuan bersuara sopran memanggilnya. Bersama temannya yang berkacamata berlomba mengabitkan tangan ke lelaki itu.

Dua perempuan itu lantas memberondongnya dengan beragam pertanyaan. Pertanyaan yang tak sempat dipikirkannya. Juga tak pernah ia jawab. Dua perempuan itu terus menodongnya dengan beragam pertanyaan. Sampai lelaki itu menyerah. Sampai sariawan. Lalu dibuat kesepakatan hitam di atas putih: lelaki itu akan menemui sahabat kedua perempuan itu malam itu juga.

Seisi langit mencibir gelagat lelaki itu:
“Tumben ia jantan berikrar menyelesaikan kusut persoalan. Tak biasanya ia tertarik dengan ihwal remeh-temeh itu. Jangan-jangan ada cacing dalam perutnya.”

III

Saat malam berselimut kelam. Saat waktu belum larut dalam pelukan liar malam. Ia temui perempuan yang tak sempurna disimpannya dalam etalase memori. Mereka bertemu di ruangan sesak meja dan kursi: ruangan dimana ia pernah diadili dua kali di masa puber. Karena mendapat kiriman surat romantis dan photo seksi perempuan.

Ia pandangi perempuan itu sejenak. Wajah perempuan itu bersemu merah dalam balutan mukena. Lelaki itu memulai pembicaraan. Berbasa-basi. Tapi di tengah perjalanan perempuan itu mengambil kendali. Lelaki itu berusaha menjadi pendengar yang baik saja.

Sesekali lelaki itu mencoba mengutuk waktu. “Tak adil” rutuknya.
Di lain detik diam-diam ia takar perempuan di hadapannya. Berbekal pengetahuan yang dipungutnya di sepanjang perjalanan.
“Oh, ini pas menilainya dengan teori Jung!”
“Kalau yang ini cocok dengan ancangan Freud!”
“Salah, yang benar dengan paham Sartre!”
“Sesuai dengan pandangan Kierkergard ‘lah!”
“Dengan Niezche, tahu!”
Semua pustaka pengetahuan dibentangnya.
Tapi tetap saja gagal menamainya sebagai apa!?

IV

Ada saatnya lelaki itu berbinar. Mengeja huruf demi huruf surat dari perempuan itu. Ia geli sendiri melihat tanda kutip dan tanda petik yang ditaruh serampangan. Juga selingan bahasa asing yang bising. Kadang lelaki itu suka usil dengan imajinasinya sendiri. Membayangkan bagaimana susahnya perempuan itu menata hati dan merangkai kata. Juga berapa kertas yang habis disobeknya supaya terlihat sempurna. Tulisan tangan imut-imut penulisnya dan cita-cita seindah pelangi ciptaan Tuhan, paling sering dikenangnya.

Surat kedua dan ketiga dari perempuan itu diterima lelaki itu sebelum senja mengurung kota. Betapa riangnya lelaki itu menerima potret perempuan itu. Lalu potret perempuan itu dipajang di meja belajar. Di samping potret pujaan hati dan potret adik perempuan semata wayangnya.

Setelah puas membaca surat perempuan itu, sebuah ihwal membuatnya tercenung:
“Masih ada orang yang resah dirinya disimpan seseorang.”

V

Suatu senja tanpa terang bulan dan kerdipan gemintang. Udara sesak seperti hendak turun hujan. Mengenang hujan, lelaki itu langsung riang. Sudah lama ia tak menikmati hujan. Sering lelaki itu berang pada langit tanah seberang. Bedebah, apa tanah di sini tidak kangen dibelai hujan! Tapi langit tak kunjung mengejan hujan. Lelaki itu pun mengalah. Mengancing jendela dan menutup tambo pengharapan.

Lalu lelaki itu menulis surat kepada empunya malam:
“Ada waktu untuk merenda dan ada waktu untuk merobek. Namun apa yang harus direnda dan apa yang harus dirobek. Toh tidak ada yang harus direnda karena tidak ada yang robek. Juga tak ada yang mesti dirobek karena memang tak ada yang pernah direnda.”

Waktu pun berpahat di kelu batu.

//Tamansari-Ngampilan, 08 Desember 2006

Kabar dari Rantau

:tuk Ricouer

Adikku
Hadapkan wajah pada peraduan matahari
Akan kau cerap indah lembayung senja
Pada tabur langit bersemburat jingga
Jangan cemas, adikku
Bila mentari pergi lagi
Dan sembunyikan sendu di hijab cakrawala
Rembulan temaram dan kerdipan gemintang
Akan menemani menepikan sunyi

Rantau itu tak berpeta tak bertuan
Seperti hamparan samudera yang tak bertepi
Tantangan dan cobaan yang mendera badan
Kerap melilit harkat dan mengiris harga diri
Tapi jangan takut, adikku
Rantau ini bukan rantau Cina
Bukan pula rantau Malinkundang

Mimpi kemaren masih saja terbengkalai
Masih banyak lekuk
Dan tasik rantau yang belum dikunjungi
Karena itulah adikku
Kepulangan ini tetap saja mesti diulur
Sampai menemukan hari baik dan musim baik

Adikku
Bila bulan Syawal memangkas Ramadhan
Engku Mudo melihat hilal dari Ulakan
Bedug ditabuh garin dari tepian Danau Maninjau
Takbir, tahmid, dan tasybih diarak orang
Dari Taratak Painan, Kubu Batanduak hingga Koto Nan Ampek
Juga di kampung-kampung terpencil di Sumpur Kudus

Bila esok sajadah telah dihamparkan
Saat itulah adikku
Bisikkan pelan pada Ibu:
”Merantau itu panggilan tradisi
Dan Si Buyung ingin lebih lagi merantau”*
Mintalah Ibu menyisipkan beberapa baris doa
Untuk leluhur peneruka dan musafir kesepian


Jogja, saat hati sangat ingin dipeluk Ibu
15 menit jelang bedug tutup puasa 2006 berbunyi

*Dipinjam dari puisi penyair Joko Pinurbo (JokPin)