Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Januari 2009

Minggu, 26 November 2006

Sastra Koran Lokal dan Nasional, 26 November 2006

Cerpen

1. Kompas : Di Sini Dingin Sekali oleh Puthut EA
2. Surya : Terbunuhnya Buya Katidiang oleh Yusriandi Pagarah
3. Jakarta Post : Greed of Gold oleh Yundi Aditya
4. Duta Masyarakat : Sangidu oleh Prabantara Kesamawurti
5. Malang Pos : Ini juga Karena Cinta oleh Liga Alam M.
6. Republika : Dua Lembar Uang Seratus Ribuan oleh N. Mursidi
7. Suara Pembaruan : Tangisan Dira oleh Rama Dira J.
8. Sumatera Ekspres : Perahu yang Berlayar Sendirian Di Lautan oleh S.Yoga
9. Media Indonesia : Kupu-kupu Ibu oleh Komang Ira Puspitaningsih

Sajak

1. Sajak-sajak Afrizal Malna di Kompas
2. Sajak-sajak Ahmad Muchlis Amrin di Surya
3. Sajak-sajak Acep Zam-zam Noer di Duta Masyarakat
4. Sajak-sajak Geoff Fox di Republika
5. Sajak-sajak Hardi SRS di Suara Pembaruan
6. Sajak-sajak Handayani di Sumatera Ekspres

“…karena perbedaan adalah kesempurnaan…”

Lubis Grafura
www.lubisgrafura.wordpress.com
Sumber: http://lubisgrafura.wordpress.com/2006/11/

Sabtu, 10 Januari 2009

Kampus Basis Kreatif Berkesusastraan!

Oleh Abdul Wachid B.S.


Kampus dijadikan basis kreatif berkesusastraan oleh para sastrawan di Indonesia sudah sejak lama berlangsung. Hal ini sebab sastrawan dan karya sastranya merupakan produk budaya yang memiliki kepekaan terhadap realitas sosial di sekelilingnya dan mustahil terwujud tanpa dikerjakan oleh kaum intelektual.

Sementara itu, kaum intelektual pada umumnya berbasis di kampus. Apalagi jika kesadaran berkesusastraan diposisikan sejajar dengan kesadaran berilmu pengetahuan sebab karya sastra tidak dapat dilepaskan dari kesadaran lain, berfilsafat, berperasaan keagamaan, bahkan beragama secara formal. Di situlah berkesusastraan memiliki relasi dengan ekspresi terhadap unsur kebudayaan lain yang dilakukan oleh kaum intelektual, seperti berideologi, berpolitik, berekonomi, bersosial, dan lainnya.Oleh karena itu, berkesusastraan ditempatkan sebagai bagian penting dari berekspresi kebudayaan. Di sinilah kampus menjadi kawah candradimuka bagi kaum kreator dalam berbagai bidang, tak terkecuali kesusastraan.

Hal di atas sebab apa? Menurut Sutan Sjahrir, apa yang disebut sebagai kaum intelektual tidak lain dan tidak bukan ialah mereka yang memiliki perhatian besar terhadap hal ikhwal kebudayaan. M. Dawam Raharjo dalam bukunya, Intelektual, Intelegensia, dan Perilaku Politik Bangsa (1996) juga membedakan antara intelektual dan inteligensia. Orang pandai di kalangan perguruan tinggi, tetapi dengan ilmu yang dimilikinya belum mampu memberi pencerahan terhadap masyarakatnya, termasuk sekadar sebagai kaum inteligensia.

Sementara itu, mereka yang mampu melakukan pencerahan dengan keilmuannya untuk masyarakatnya, itulah kaum intelektual. Jadi, kaum intelektual, dengan meminjam istilah Kuntowijoyo, memiliki peran ”kenabian”, yaitu mampu dan mau menyebarkan ilmu walaupun hanya satu ayat. Di situlah kaum intelektual melakukan keterlibatan (emansipasi) terhadap fenomena sosial sekaligus mampu menghubungkan antara yang bumi dan yang langit secara terus-menerus (transendensi), sebab dengan begitu, akan terjadilah pembebasan dari sekadar pemberhalaan duniawi (liberasi).

Kampus memang kawah candradimuka. Oleh sebab itu, ia tak pernah sepi dari deru kreativitas siapa pun di dalamnya yang ingin mencari kesejatian diri. Ada seminar, diskusi, dialog, atau sekadar monolog sunyi di perpustakaan. Kampus bukanlah kuburan, tempat segala kehidupan berhenti hanya pada angka atau huruf nilai bagaikan nisan. Peran kampus semestinya memiliki perluasan dari peran masjid, yaitu tempat untuk melakukan hubungan sosial antarmanusia (kesalehan sosial), yang hal itu sekaligus melaksanakan nilai-nilai dalam hubungannya dengan Tuhan (kesalehan ritual).
Kita bisa melihat fenomena itu dalam hal proses kreatif kesusastraan, sebagaimana di beberapa kampus di Yogyakarta.

Di Universitas Gadjah Mada, banyak bertumbuhan forum diskusi seperti jamur di musim penghujan. Misalnya, Forum Pencinta Sastra Bulaksumur di Fakultas Budaya, yang membidani novelis Ngarto Februana dan cerpenis Kiswondo. Juga, Jama’ah Shalahuddin, dari segi kesusastraan membidani novelis-cerpenis R. Toto Sugiharto, kritikus sastra Aprinus Salam, dan banyak lainnya.

Forum di Universitas Sanata Dharma membidani sastrawan sekaligus kritikus Dorothea Rosa Herliany dan Joko Pinurbo. Universitas Sarjanawiyata, melalui Kelompok Studi Sastra Pendopo, melahirkan sastrawan-esais Indra Tranggono, jurnalis Jayadi K. Kastari, dan banyak lainnya.

Universitas Negeri Yogyakarta, melalui UNSTRAD melahirkan budayawan Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, sastrawan-jurnalis Ahmadun Y. Herfanda, penyair-cerpenis Endang Susanti Rustamadji, sampai generasi termuda seperti penyair-cerpenis Hasta Indriyana.

Apalagi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, melalui Studi Apresiasi Sastra (SAS) dan Teater Eska, banyak melahirkan sastrawan seperti Ahmad Syubbanuddin Alwy, Hamdy Salad, Abidah el-Khalieqy, Ulfatin Ch., Mathori A. Elwa, Otto Soekatno Cr., Kuswaedi Syafi’ie, Edi A.H. Eyubenu, Zaenal Arifin Thoha, dan lainnya.

Tentu saja, kita bisa memperpanjang contoh tersebut. Namun, yang lebih penting bahwa kampus dalam konstelasi berkebudayaan di situ menjadi benar-benar hidup. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Hidupnya kampus disebabkan oleh tegur-sapa budaya yang mempersepsi dan memosisikan kampus sebagai pilar penyangga nalar ilmiah dan perilaku demokrasi secara terus-menerus. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Ada sinergisitas yang saling memerlukan sebagai sarana berekspresi antara administrator-birokrat kampus, dosen, dan mahasiswa. Dengan begitu, kampus dijadikan tempat untuk berekspresi secara total dari setiap sisi kebudayaan, kampus menjadi miniatur berkebudayaan.

Saya mengamati, memang banyak Unit Kegiatan Mahasiswa yang terus dihidupi di dalam kampus itu, namun seberapa jauh wacana yang dilontarkan darinya bisa menjadi suatu wacana yang meng-Indonesia? Tentu hal ini memerlukan proses. Kesadaran serupa tentu tidak dapat melepas kaitannya dengan hidupnya civil society, yang ditopang oleh pilar utamanya yakni pers, demokratisasi, dan masyarakat egaliter yang senang belajar. Sekalipun kita akan selalu berdalih dengan jawaban ”proses” itu, namun hal ini wajib dimulai dengan langkah pertama untuk sampai kepada tujuan, sembari terus-menerus berproses ”menjadi” itu. Tidak perlu kita saling melemahkan untuk merealisasikan kerja kebudayaan ini, yang penting selalu memperbaiki niatan, dan memulai dengan langkah pertama. Bismillaah.

*Penulis adalah sastrawan, dan dosen tetap di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto.

Pengantar Dari Penerbit

Imajinasi seorang penyair seringkali berangkat dari sebuah kontemplasi yang hujam, pengalaman yang berbekas, percintaan yang pupus, atau kondisi yang sama sekali absurd. Kemudian, latar yang beragam itu—menurut pendapat para pengamat sastra—diracik sang penyair ke dalam jalinan cerita yang menjadikan bahasa sebagai bahan bakunya. Bahasa dijadikan medium penyampai berbagai pesan, gagasan, pendapat, dan protes dari seorang penyair.

Tanah Airku Melayu, kumpulan puisi tunggal kedua Bung Fakhrunnas MA Jabbar ini, kian mengukuhkan tesis di atas. Namun bagi penyair ini, cintanya yang begitu mendalam pada Tanah Melayu, tak perlu sampai taraf “cinta buta” yang menganulir akal sehat. Tragedi-tragedi memilukan di tanah kelahirannya, tak sedikit pun membuatnya terpancing ikut melakukan tindakan-tindakan tak beradab, demi menegakkan marwah dan tuah Tanah Melayu. Malahan, tragedi demi tragedi yang menimpa “rumah tempat rindunya berpaut” itu, kian memompanya untuk lebih produktif lagi menciptakan karya-karya sastra berlatar Tanah Melayu.

Kumpulan puisi Tanah Airku Melayu, dibagi ke dalam tiga bagian. Pertama, tentang pengabdian diri. Puisi Rimba Beton, Kusukai Sakaiku, Doa Orang-orang Bendungan, dan Selamat Pagi, Tuan Takagawa, merupakan protes sang penyair pada pihak-pihak yang tidak tulus membhaktikan dirinya, sehingga korban banyak berjatuhan.

Bagian kedua merupakan perenungan penyair terhadap berbagai fenomena ganjil yang melanda tanah kelahirannya. Penyair ini tidak ragu-ragu menunjuk pencemaran laut dan penebangan hutan sebagai biang kerok dari semua itu. Hal ini terbaca dalam puisi Ketika Banjir Menyapa, Bapakku Hutan, Ibuku Laut yang Kini Terluka, Kering, dan Dalam Kabut.

Ketiga, penyerahan jiwa. Bila pada bagian sebelumnya lebih pada tema-tema universal dan humanity, maka pada bagian ketiga ini lebih kental nuansa religiusitasnya. Hal ini, misalnya, dapat dibaca dalam puisi Sepotong Daging, Dari Alif Ba Ta ke Tahajjud, Walau Maut Menjemput, Ramadhan in Manila, Purnama Jatuh di Nabawi, dan Lelaki yang Berputar di Pelataran Ka’bah.

Dengan lain perkataan, dalam kumpulan puisi Bung Fakhrunnas MA Jabbar ini, terdapat sebuah benang merah betapa pentingnya manusia menjaga keseimbangan tiga hal untuk mencapai harmoni dalam hidupnya, yaitu menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, hidup selaras dengan alam, dan beribadah kepada Tuhan.

Akhir kata, terima kasih kepada Bung Fakhrunnas MA Jabbar, yang telah mempercayakan penerbitan kumpulan puisi tunggal keduanya ini kepada Penerbit AdiCita Karya Nusa Yogyakarta. Kepada segenap pembaca, kami ucapkan selamat membaca. Semoga kumpulan puisi ini dapat menjadi inspirasi dan teladan dalam mengekspresikan cinta kepada tanah asal.

Yogyakarta, 19 Maret 2008


Yusriandi Pagarah

*Pengantar dari penerbit untuk Buku Puisi Tanah Airku Melayu karangan Fahrunnas M.A. Jabbar

Muhammad dalam Sastra Goethe

Taufik Munir*

Adakah kata-kata yang lebih mengabadi selain syair atau puisi? Banyak kata yang dimuntahkan filsuf, pemikir atau nabi, namun —setelah kitab suci— syair selalu menjadi media komunikasi antargenerasi yang paling efektif. Ini dibuktikan oleh pencipta syair, yang meskipun mereka sudah tiada namun karyanya tetap berbicara, senandungnya senantiasa mendengung, kepak sayap syairnya selalu mendarat di telinga pendengarnya.

Van Goethe, penyair Jerman terkemuka abad-18 yang karyanya mengabadi hingga kini, berhasil merekam kemunculan Muhammad yang dianggapnya sebagai ‘seorang promotor revolusi sosial yang membawa nilai keadilan dan persaudaraan’. Kata-kata Muhammad begitu bertuah, siapa mendengarnya berbicara, kawan dan lawan akan tunduk membenarkan. Muhammad melebihi semua penyair dan raja yang mendahuluinya. Ketika Muhammad mengibarkan panji Quran, Goethe dengan lantang mengakui: "Kitab ini akan tetap mendapat tempat melampaui seluruh masa dan mempunyai pengaruh yang kuat."

Goethe sendiri terpengaruh. Bukan hanya pada seorang Muhammad, tapi juga pada sastra timur yang dikaguminya itu. Akhirnya pada 1771 dan 1772, ia berinteraksi langsung pada Alquran dan mulai fasih berbicara dengan Islam dan Muhammad. Sampai-sampai sebagian pemikir Jerman menganggapnya benar-benar masuk Islam, karena tulisannya yang banyak memuja nabi umat Islam itu. Tak aneh jika lantas mereka menuduh Goethe ‘punya hubungan khusus’, lebih dari sekadar hubungan pribadi dengan Muhammad.

Terbukti pada tahun yang sama, Alquran berhasil diterjemahkan oleh Frederich Megerlin ke dalam bahasa Jerman dan untuk pertama kalinya terbit. Reaksinya begitu cepat, salah satu halaman edisi ‘kritikus sastra Frankfurt’ memuat kritik tematis terhadap pusat penerjemahan Alquran itu. Dilihat dari gaya bahasa dan cara pengungkapannya, penulis yang protes itu ternyata Goethe.

Protes gencar tersebut membuktikan, Goethe secara eksplisit mengikrarkan diri pada kekecewaannya terhadap penerjemahan yang serampangan itu. Barangkali karena Goethe punya persepsi lain tentang Alquran, jauh lebih banyak dari gambaran yang diungkapkan penerjemah itu. Terlebih lagi Megerlin menulis tentang Alquran dan Nabi tidak dengan sebenarnya.

Goethe begitu intens mempelajari bahasa dan sastra Arab, baik yang tertulis dalam antologi karya sastranya atau buku ilmiah yang ia tulis. Salah satu bukunya West-Ostlicher Divan yang berarti Sastra Timur Oleh Pengarang Barat, sebagai contoh. Selain ditulis dalam bahasa Jerman, juga ditulis teks Arabnya Al-Diwan Al-Sharq Li Al-Mu’allif Al-Gharbi. Demikian juga dengan judul puisi yang ia tulis, hampir semuanya berbahasa Arab. Maka tak heran hampir di tiap karya Goethe akan ditemukan judul seperti: Moganni Nameh yang berarti Al-Mughanni (Sang Penyanyi), Uschk Name yang berarti kitab Al-’Usyq (bab cinta), Tefkir Nameh yang asalnya kitab al-Tafkir (bab perenungan), dan ratusan judul yang berbau Arab lainnya.

Penulis mencoba menulis apa yang dikatakan Goethe dalam semua karyanya itu. Dalam salah satu pasal khusus berjudul Mohammad berbentuk prosa, Goethe memulai ceritanya tentang kemunculan seorang nabi akhir zaman: "Saat kita berkontemplasi, kita terbiasa melihat sesuatu dengan pola pandang sastra, atau --setidaknya— kita merujuk ke sana. Namun yang juga relevan dengan tujuan kita sejak pertama adalah memberi pengkabaran tentang tokoh yang luar biasa itu --seperti yang ia umumkan sendiri dan menegaskan dengan pasti— bahwa ia hanyalah seorang Nabi, dan ini berarti, Goethe tidak merasa puas dengan menyebutkan keagungan dan kekuatan pribadi Muhammad pada syair dalam antologi itu. Bahkan ia seolah ingin menegaskan keyakinannya pada keagungan pribadi Sang Nabi, tanpa harus diletakkan pada tabir fantasisme syair atau dialogisme drama.

Untuk penegasannya itu, dalam halaman yang lain, Goethe menjelaskan lebih jauh tentang perbedaan antara Nabi dan Penyair. Kata Goethe: "Kalau kita ingin memberi batas pembeda antara seorang penyair dan Nabi, jelas kita akan jawab bahwa keduanya inspirasi Tuhan dan dalam perlindungan Nya."

Seorang penyair pasti dihibahkan Tuhan dengan rasa nikmat tiada tara dan berupaya mengekspresikan ekstasisme syair itu sedemkian rupa, sehingga berhasil menjadi suatu keindahan yang berlipat-lipat dan itu berarti akan mengenyampingkan motivasi lain.
Sementara, seorang nabi tidak demikian. Ia tidak akan pernah melihat kecuali pada suatu posisi mata bidikan tertentu, selalu menggunakan segala fasilitas untuk mencapai tujuannya dengan cara termudah. Nabi selalu ingin menunjukkan suatu keyakinan tertentu, mengorganisasi semua bangsa di sekitarnya, seolah bermimpi tengah menggenggam dunia dalam satu panji. Untuk tujuan ini, seorang nabi ingin dunia rela bahwa ia seakan tengah menjejaki langkah dalam satu nada. (West-Ostclicher Divan).

Jika kita mencoba untuk meninggalkan antologi Goethe barang sejenak, kemudian beralih pada sebagian karya Goethe yang lain, serta merata kita akan menemukan keberanian langka yang dimiliki Goethe saat ia menyatakan: "Bagaimana pun saya tidak akan pernah mampu melihat bahwa Muhammad seorang penipu." —Gesammelte Werke (Dichtung und Wahreit) 6/600.

Terlebih lagi ada berbagai macam saksi yang menunjukkan, di balik keyakinan Goethe terdapat akar masa silam yang menyemburat dalam benaknya, membentang dari empat puluh tahun perjalanan hidupnya saat ia merintis karya tulis tentang ‘Muhammad’ untuk teater yang tak pernah rampung hingga 1773.

Upaya menulis karya teater itu disebutkan dalam sebuah buku hariannya: "Sebelumnya aku sudah membaca kehidupan Nabi dari Timur itu dalam waktu singkat dan kupelajari dengan hati-hati, karena itu aku merasa siap ketika ide itu muncul". Dari pengakuannya ini, berarti tokoh ini telah membentuk keyakinan terhadap Nabi umat Islam itu sejak sekitar 1772, yaitu sebelum ia mulai menulis karya teater, dan ternyata berkelanjutan terus hingga buku Dichtung und Wahreit itu diterbitkan antara 1811-1814.

Dengan kata lain, cetakan kedua buku tersebut dimulai beberapa saat sebelum ia meninggal dunia, justru terbit setelah ia meninggal yaitu pada 1831-1833 tanpa perubahan sedikit pun dari yang ditulisnya tentang Nabi mulia itu. Dengan analisis tambahan ini dapat kita simpulkan: keyakinannya pada kenabian Muhammad terus berlanjut sekitar 60 tahun hingga ia meninggal pada 1832.

Untaian kalimat indah dari sang Nabi: "Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan para Nabi sebelumku bagaikan seorang laki-laki yang membangun sebuah rumah. Ia memperbagus dan mempercantik rumah itu kecuali satu tempat batu bata di sebelah pojok. Rumah itu membuat orang-orang takjub dan berputar mengelilingi dan memujanya. Lantas mereka berkata: Mengata tidak engkau letakkan batu bata ini?"
Jawab Muhammad: "Akulah batu bata itu. Dan akulah penutup segala Nabi." (Ibnu Hajar Al-Asqalani: 43/14).

*Mahasiswa Filsafat Universitas Al-Azhar, Kairo (E-mail: religiusta@softhome.net)

Sumber: http://www.rumahdunia.net/wmview.php?ArtID=404&page=2

Senin, 05 Januari 2009

Awas Hantu Baudolino!

.Yusriandi Pagarah

Beberapa waktu lalu, Agus Wibowo dari Komunitas Akar Yogyakarta merekomendasikan sastra sebagai literatur dan sumber sejarah. Mas Agus mendedahkan data dan argumen yang memanjang untuk meyakinkan kita sebagai pembacanya agar sependapat dengannya. Juga membeberkan bahwa sejarah dan sastra telah sedari lama berkawan karib.

Apa yang dicitakan Mas Agus berbanding lurus dengan Dr. Asvi Warman Adam, yang merekomendasikan novel-novel Pramudya Ananta Toer sebagai sumber sejarah Indonesia. Hal tersebut disampaikannya dalam berbagai forum dan dibiakkan dalam banyak tulisannya. Kegelisahan peneliti senior LIPI asal Sumatera Barat ini, dipantik oleh kenyataan minimnya sumber data sejarah Indonesia pada masa kolonial dan minimnya data yang memotret sejarah Indonesia dalam proses peralihan abad ini.

Merubah Mindset
Bagi penulis, yang menarik bukan pemaparan Mas Agus betapa karibnya hubungan sejarah dengan sastra. Bukan juga getolnya Bung Asvi yang lebih spesifik lagi menunjuk karya-karya Pramudya yang notabene merupakan satu-satunya sastrawan negeri ini yang pernah masuk nominator peraih Nobel Sastra sampai hari ini. Bukan. Justeru yang memikat hati penulis adalah niat baik Bung Asvi dan Mas Agus, untuk menurunkan sekat-sekat ideologis dan spesialisasi akademik yang sempit dalam menafsir realitas. Inheren dalam diri keduanya untuk membaca dan memaknai sebuah peristiwa secara holistik dan dari berbagai sudut pandang. Meminjam istilah Ian G. Barbour, sudah saatnya membaca sebuah peristiwa secara integritas-interkoneksitas.

Penulis juga tertarik pada kenyataan bahwa keduanya berasal dari latar belakang yang berbeda, namun memiliki visi yang sama menjadikan sastra sebagai sumber atau khazanah literatur sejarah. Mas Agus yang berlatar sastra, yang terbiasa dengan ketidakteraturan mencoba keluar dari “sarangnya”. Bung Asvi yang akrab dengan jenis berpikir yang rigid, sistematis, bahkan terkesan sangat hati-hati, memiliki ketertarikan dengan khazanah yang digadang-gadang orang a-historis.

Sosok almarhum Kuntowijoyo, penggagas ilmu sosial profetik, adalah salah satu orang yang beruntung, karena dalam dirinya tergabung dua hal yang dipetentangkan banyak orang. Sebagai sejarawan, siapa yang tidak mengetahui kepintaranya mengolah dan menafsir data sejarah yang berserakan menjadi “hidangan” istimewa, dan sebagai sastrawan, siapa pula yang tidak mengakuinya piawai merangkai kata-kata nan ciamik.

Penulis multi talenta, Dr. Ignas Kleden, berpendapat bahwa yang pertama-tama yang perlu dibenahi adalah mindset yang telah tertanam lama di benak, yang membedakan fiksi dan fakta. Kalau pun tetap bersikeras membedakan keduanya, dalam ilmu pengetahuan pada umumnya konsep-konsep disusun dengan cara menyingkirkan sebanyak mungkin konotasi dan ambivalensi sehingga tercapai suatu denotasi yang dapat ditetapkan isi dan batas-batasnya. Sebaliknya, dalam karya sastra konotasi disemai sedemikian rupa dan ambivalensi justeru diaktifkan untuk menghidupkan watak simbolik sastra. (Kleden, 2004: 7-8)

Hantu Baudolino
Seperti petuah populer, sebagaimana terdapat yang baik di antara kumpulan yang buruk, begitu juga sejatinya terdapat cacat dan aib dalam kumpulan yang baik. Petuah ini mengajak kita untuk berpikir kritis, rendah hati, dan tak buru-buru menjatuhkan vonis hitam-putih. Anda dan saya tentu pernah membaca novel Umberto Eco, Baudolino (2002). Pasalnya, dalam novel nomor pincitnya (terakhir) yang bernuansa komikal itu, Eco mengajak kita merenung sejenak sekaligus mewanti-wanti agar berhati-hati dalam menilai seseorang.

Sebagai pakar abad pertengahan (medievalisme), novel-novel Eco banyak berlatar cerita abad pertengahan, tak terkecuali novel Baudolino. Baudolino, tokoh utama novel ini, adalah anak angkat Frederick Barbarossa, kaisar Romawi kala itu. Karena kesayangan kaisar, prilaku Baudolino menjadi-jadi, membuat kekacauan, pengrusakan, bahkan perang dan pembunuhan, dengan cara memberi informasi palsu kepada kaisar. Ditambah modal retorika yang handal, jadilah Baudolino pendusta kelas wahid, yang ketagihan berdusta dan berdusta lagi.

Uskup Otto, paman sang kaisar dari pihak ibu yang juga penasehat spritual kaisar, tahu kalau Baudolino berbohong. Pernah menghardiknya, “pembohong yang menyangkal berarti membenarkannya” atau “Baudolino, kau ditakdirkan sebagai pembohong”. Toh, pada akhirnya Uskup Otto merupakan guru Baudolino dalam bersilat-lidah dan berpetuah, “jika kau ingin menjadi sastrawan dan mungkin menulis sejarah kelak, kau harus berbohong dan menemukan dongeng, kalau tidak sejarahmu akan monoton.”

Orang lain yang tahu Baudolino berbohong adalah Niketas Cheniates, mantan orator dan konselir, sejarawan dan hakim tinggi basileus Byzantium. Pasalnya Baudolino mengaku pernah bertemu dengan Niketas sewaktu Barbarossa berkuasa. Sebagai negosiator Byzantium, seharusnya Niketas melihat Baudolino, tapi kenyataannya tidak. Apalagi wajah Baudolino mirip orang Saracen, sebutan orang Kristen abad tengah dan sejarawan Barat untuk orang Arab dan masyarakat muslim pada umumnya, ketimbang paras orang Kristen. Namun fakta tersebut tak kunjung meyakinkan Niketas bahwa Baudolino seorang pembohong. Ditambah kemudian Baudolimo membantu Niketas keluar dari Konstantinopel untuk bertemu keluarganya. Kelak kisah bohong Baudolino tersebut menjadi acuan Niketas untuk menulis buku sejarahnya, The Sack of Constantinople, yang melegenda itu.

Apa yang dirisaukan Eco dalam novelnya tersebut, hemat penulis, semestinya menjadi bahan perenungan dan pertimbangan lain serta cermin tempat mengaca diri untuk meletakkan posisi seseorang dalam kisaran sejarah bangsa ini. Karena di negeri ini “sejarah adalah milik rezim yang berkuasa” dan sejarah akan berganti seiring dengan bergantinya sebuah rezim. Karenanya, diperlukan banyak orang dan kerja ekstra keras untuk menilai sosok dan kontribusi seseorang untuk bangsa tambun ini. Berlaku tidak saja untuk Pramudya dan karya-karyanya, tapi juga bagi sesiapa saja yang memberi konstribusi. Sebab manusia bermental seperti halnya Baudolino akan tetap diproduksi sepanjang zaman. Siapa tahu Pram, Bung Asvi, Mas Agus, anda dan juga saya mengidap mental Baudolino.

Pram, Kali Lusi, dan Cemeti Ajaib

Yusriandi Pagarah

“Kali Lusi melingkari separoh bagian kota Blora yang sebagian selatan. Di musim kering dasarnya yang dialasi batu-krikil-lumpur dan pasir yang mencongak-congak seperti menjenguk langit. Air hanya beberapa desimeter saja. Tapi bila musim hujan datang, air yang kehijau-hijauan itu jadi kuning tebal mengandung lumpur. Tinggi air hingga duapuluh meter. Kadang-kadang sampai lebih. Dan air yang mengalir damai jadi gila berpusing-pusing. Diseretinya rumpun-rumpun bambu di tepi-tepi kali seperti anak kecil yang mencabuti rumput. Digugurinya tebing-tebing dan diseretnya beberapa bidang ladang penduduk. Lusi! Dia merombak tebing-tebingnya.

Dan di dalam hidup ini kadang-kadang aliran yang deras menyeret tubuh dan nasib manusia. Dan dengan tak setahunya ia kehilangan beberapa bagian dari hidup itu sendiri….”

Kalimat di atas dikutip dari cerita pendek Yang Sudah Hilang yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek Cerita dari Blora karya Pramoedya Ananta Toer atau lebih akrab dipanggil Pram. Cerita dari Blora pertama kali diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1952. Berkat karya tersebut, Pram menyabet Hadiah Pertama untuk kategori kumpulan cerita pendek terbaik dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional pada tahun 1953. Cerita dari Blora telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa, di antaranya Portugis, Rumania, Vietnam, Cina, Ceko, Jepang, Malaysia, Swedia dan Thai.

Mendiang Paus Sastra Indonesia, H.B. Yasin dalam pengantarnya untuk karya ini, berpendapat bahwa Cerita dari Blora mengandung banyak anasir pengalaman dan kenangan otobiografis Pram terhadap kampung halamannya, Blora yang miskin, tandus dan tanah kapur itu. Teringat pada ibunya, seorang perempuan saleh dan penuh dedikasi. Pada ayahnya, seorang aktivis yang amat hirau dengan pendidikan dan pemberdayaan masyarakatnya. Sebagai anak sulung, Pram juga kangen pada adik-adiknya tersayang dan merasa bertanggung jawab terhadap masa depan mereka kelak.
***

Rupanya bagi seorang Pram, satu-satunya nominator peraih Nobel Sastra dari negeri ini sampai sekarang, kenangan sebuah sungai atau kali sangat jauh terendap dalam alam bawah sadarnya. Ahmad Syafii Maarif, Guru Besar Sejarah UNY dan mantan Ketua PP. Muhammadiyah, adalah salah seorang dari tokoh nasional negeri ini yang juga sangat akrab dengan sungai atau kali, yang di kampungnya di sebut batang. Dalam otobiografinya yang inspiratif, Titik-titik Kisar di Perjalananku, Buya Syafii—begitu beliau akrab disapa—dengan amat gamblang dan detailnya memaparkan betapa karib dirinya dan masyarakatnya dengan sungai. Di banyak tempat Buya Syafii menyebut-nyebut Batang Sumpur, Batang Sinamar dan Batang Ombilin. Keberadaan ketiga batang tersebut tak sebatas tempat mandi atau arena menyalurkan hobi memancing bagi penduduk Sumpur Kudus dan masyarakat Sijunjung pada umumnya. Ketiga sungai tersebut juga berfungsi sebagai jalur transfortasi bagi pedagang karet dan beras menggunakan rakit dan perahu. Juga jalan pintas menuju daerah Riau bagian hilir.

Bagi Pram, Kali Lusi bukan semata-mata sebagai sesuatu yang ril dan benar adanya. Yang melingkari sebagian kota Blora seperti ular yang membelit pohon. Kali Lusi bagaikan oase di tengah takdir alam sekitarnya yang tandus dan tanah kapur. Bagi orang Blora—tentu juga bagi Pram sendiri—Kali Lusi tak sebatas salah satu arena bermain yang asyik dan tempat belajar berenang di kala kanak-kanak. Dari cerita Pram, Kali Lusi merupakan tapal batas yang memisahkan pasukan putih dan merah atau pasukan republik dan penjajah pada masa perjuangan dan pergerakan menuju Indonesia merdeka. Kali Lusi telah menjadi bagian inheren dan identitas bagi Blora. Sehingga tak heran, Kali Lusi dibumbuhi dengan berbagai “keistimewaan” dan mitos tertentu, seperti halnya Sungai Gangga di India.

Hal ini dapat diinderai dari cerita Pram tentang Kali Lusi yang pernah merendam kota Blora. Alun-alun merupakan satu-satunya tempat yang terbebas dari banjir bandang tersebut. Ke sanalah orang Blora berduyun-duyun mengungsi seraya membawa keluarga dan perbendaharaan lainnya yang sempat dan mungkin disertakan mengungsi. Namun berkat sebilah cemeti yang telah dimanterai oleh Ndoro Kanjeng Said, Bupati Blora waktu itu, air Kali Lusi jadi surut. Ini merupakan salah satu cerita favorit Pram dari Bundanya disamping cerita mengenai pahlawan perang dari Asia Dekat, yang menurut pengakuannya sendiri telah didengarnya duapuluh lima kali dengan antusiasme yang penuh.

Seperti yang sama-sama dimaklumi, air merupakan barang langka bagi masyarakat Blora dan sekitarnya. Dengan begitu, secara sosiologis, ekonomis, ekologis dan psikologis Kali Lusi mendapat tempat tersendiri di dalam sanubari tiap orang Blora. Tak terkecuali bagi Pram sendiri. Hingga tak mengherankan bila kemudian Blora dengan Kali Lusinya dijadikan Pram sebagai sumber atau sumur inspirasi karya-karyanya yang menakjubkan dan dikagumi banyak orang. Juga menjadi latar dari cerita-cerita para tokoh yang dikarang Pram.

Perubahan yang dialami Kali Lusi, pasang surutnya, jernih keruhnya, dijadikan Pram sebagai metafor dan cermin dari hidup manusia yang senantiasa berubah. Ketika Pram menulis, “dalam hidup ini kadang-kadang aliran yang deras akan menyeret tubuh dan nasib manusia”, sesungguhnya Pram tengah bercerita tentang banjir yang membuat seseorang kehilangan sebagian penting dari hidupnya. Pasangnya air Kali Lusi memberi pertanda bahwa manusia tidak bisa menghadap perubahan atau melawan hukum alam. Juga memberi isyarat agar manusia senantiasa bersahabat dengan air. Senantiasa menjaga kebersihan dan kelestariannya. Bukannya menguasai apalagi sampai mengeksploitasinya. Dalam hal ini, Romo Mangunwijaya dengan “proyek” Kali Codenya di Jogjakarta, salah seorang sosok yang patut diteladani.
***

Meluapnya sungai Bengawan Solo—sebuah sungai yang diabadikan Gesang dalam sebuah lagunya—yang merendam sebagian besar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Membuat penduduk Solo, Sragen, Ngawi, Madiun, Kudus, Lamongan, Bojonegoro mengungsi dan kehilangan banyak hal. Blora dengan Kali Lusinya, kampung halaman sang maestro, termasuk yang parah kena banjir.

Saya—mungkin juga anda—seakan-akan diingatkan dengan protes dan keluh kesah Pram setengah abad silam, “Tapi semua itu sudah hilang kini. Semua itu telah lenyap seperti tebing dan rumpun-rumpun bambu yang disereti oleh air pasang Kali Lusi. Dan aku tak kuasa menahan arus besar itu….”

Sayang tak ada lagi Ndoro Kanjeng Said, Bupati panutan itu, yang dengan cemeti mandragunanya mengusir air kembali ke Kali Lusi.