Rabu, 07 Januari 2009

Surat Terbuka Untuk Perantau Minang

Yusriandi Pagarah*


Keratau madang di hulu, berbuah berbunga belum
Meranrau bujang dahulu, di kampung berguna belum

Demikian bunyi sebuah pantun yang menjadi dasar konsep merantau bagi orang Minang. Kata merantau pada mulanya berarti keluar dari luhak, asal tempat orang tua, sanak saudara dan kampung halaman menuju daerah pesisir dengan kota Padang sebagai tujuan utama perantauan. Seiring dengan perkembangan zaman dan pertukaran musim, konsep merantau juga mengalami evolusi. Merantau tidak lagi berkisar dari satu nagari ke nagari lain atau dari satu luhak ke luhak lainnya dalam lingkup bumi Minang---merantau lokal, tapi juga meninggalkan ranah Minang sendiri. (M..D. Mansur, 1970: 6-7)

Terjadinya evolusi dari merantau lokal menjadi merantau nasional dan bahkan merantau regional—andai boleh disebut demikian—seperti yang ditulis oleh sejumlah ahli, karena terdapatnya daya dorong dan daya tarik. Ranah Minang sebagai kampung halaman memiliki keterbatasan di segala bidang. Sebagai ranah Bundo yang berpegang pada konsep matrilinial, ranah Minang hanya menyediakan bekal diri sebaga modal untuk merantau. Karena keterbatasan tersebut, mendorong orang Minang untuk merantau mencari ranah yang lebih luas. Sedangkan daya tarik “pulau seberang” adalah kemajuannya dengan segala plus dan minusnya.

Konsep merantau ini pula yang menjadikan Minang sebagai daerah penghasil tokoh-tokoh yang memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, yang jumlahnya melebihi proporsi wilayah dan populasinya dibandingkan dengan daerah-daerah atau suku bangsa-suku bangsa lain di Indonesia. Dalam rentang sejarah, ranah Minang telah melahirkan tokoh-tokoh politik, budaya, sastra, wartawan, diplomat dan pengusaha yang tak sedikit kontribusinya untuk kemajuan bangsa Indonesia. (Bakri Siregar, 1982: 76)

Kontur tragik

Dalam tulisan “Konstuksi Negatif yang Terus Dijalankan Orang-orang Minang dalam Sastra Indonesia”, Afrizal Malna (2005) memaparkan dengan begitu baik dan detailnya persoalan krusial orang Minang yang membutuhkan penyelesaian yang lekas dan bernas. Khazanah sastra sebagai salah satu tempat berkaca diri yang absah, sebagamana yang sampai sekarang masih diyakini oleh orang Minang dan terbukti terus bemunculannya penulis-penulis sastra berbakat dari ranah ini.

Afrizal mencoba melihat bagaimana geliat dan sepak tejang orang Minang dewasa ini melalui karya yang ditulis oleh sastrawan asal Minang sendiri. Pendulum kritik tersebut diarahkan kepada masyarakat Minang, terutama kepada para perantau. Hasil pembacaan Afrizal yang reflektif dan kitis terhadap sastra orang Minang tersebut sangat mengejutkan. Karena hasilnya berbanding terbalik dengan anggapan orang Minang sendiri dan berseberangan dengan pendapat orang tentang orang Minang selama ini, terutama terhadap perantaunya.

Dalam cerpen Kereta Itu Terus Memanjang karya Raudal Tanjuang Banua, Afrizal melihat bagaimana sesungguhnya orang Minang dilamun ombak dan dilibas tanpa ampun oleh tanah rantaunya. Adakalanya karena tidak punya pertahanan diri yang kuat berupa iman dan keyakinan yang teguh dari godaan tanah rantau yang memanng genit, dan adakalanya tidak punya modal memadai, baik modal finansial maupun modal skill. Sehingga di rantau hanya menjad penonton yang cemburu karena tidak mampu membeli “tiket pertandingan”. Kereta yang terus memanjang merupakan personifikasi dari pencarian yang tak kunjung didapat di perantauan.

Novel Abrar Yusra, Tanah Ombak, merurut Afrizal memberi isyarat bahwa tanah rantau telah tumbuh di tanah Minang sendiri. Apa yang tidak dapat dilihat di kampung halaman atau hal-hal “tabu” yang hanya dapat dinikmati di perantauan yang notabene tanah seberang saat ini telah tumbuh diam-diam di ranah Minang. Bahkan perkembanganya sangat signifikan dari waktu ke waktu. Abrar Yusra menunjuk nighclub sebagai representasi dari tanah rantau. Saat ini, meski secara sembunyi-sembunyi, telah tumbuh beberapa tempat hiburan dan permainan yang selama ini hanya terdapat di rantau.

Novel Tanah Ombak mengingatkan penulis pada cerita teman, seorang pengusaha photo copy di Pekalongan. Teman ini beroleh kabar bahwa di kampungnya yang masih tergolong udik dan terisolir itu telah dijumpai juga pergaulan bebas seperti di rantau. Apa yang dapat dibeli di rantau dapat juga dibeli di kampungnya, seperti ganja dan jajan perempuan. Pelakunya bukan saja anak muda tapi juga orang yang telah berkeluarga dan bahkan orang terkemuka seperti datuk dan ninik mamak. Sementara pelakunya ada yang berasal dari nagarinya sendiri dan ada juga yang didatangkan dari kampung sebelah. Tinggal SMS saja. Pengusaha muda ini beropini, barangkali karena itulah kakaknya tidak mau lagi balik ke Pekalongan karena apa yang ada di rantau sudah tersedia di kampung.

Dari investigasi Afrizal di atas dan juga dari cerita pengusaha muda tersebut, banyak hal sebenarnya yang patut direnungkankan dan dipertimbangkan. Afrizal menemukan—berdasarkan pembacaan terhadap karya sastra yang ditulis oleh sastrawan Minang sendiri—bahwa rantau dengan segala derivasi dan polanya telah beralih haluan. Sayangnya perubahan itu mengarah pada sesuatu yang tragis, sebagai Malinkundang-malinkundang baru. Itulah peta rantau dan situasi mutakhir perantau Minang.

Awong Surya Saluang (2007: 18-19) mencoba merinci apa yang telah dipantik oleh Afrizal. Sebagaimana yang diketahui, sastra sarat dengan dunia simbol, perlambang, petanda dan ikon. Hal ini berkoreferensi dengan dunia kontemporer yang digadang-gadang orang sebagai perang gerilya semiosis, sebagaimana yang dipancangkan oleh Umberto Eco (2004). Dunia ikon memegang kata kunci dalam percaturan dan pertarungan budaya dewasa ini. Ada beberapa ikon yang sering muncul dari dalam bilik rumah sastra orang Minang berkenaan dengan rantau, yaitu bis, truk, kereta, ombak, terminal dan pasar. Seirama dengan hal tersebut adalah teriakan, kebisingan, resiko, terik mentari, debu, puntung rokok dan pinggiran.

Berdasarkan hal itu perantau Minang hari ini ternyata tidak berada pada posisi atas dan terhormat. Bis, truk, kereta, pasar, terminal identik dengan kesumpekan, ketidaknyamanan, kekerasan, kriminal dan keterpinggilan. Sementara teriakan, terik mentari, debu, puntung rokok identik dengan kaum pinggiran dan orang yang yang kalah. Bukan tipikal orang terdidik dan berperadaban. Usaha photo copy identik dengan penjiplakan dan duplikat. Jauh dari kesan intelek apalagi sebagai penulis. Usaha rumah makan akrab dengan memenuhi urusan untuk perut daripada urusan untuk kepala. Sedangkan Pedagang Kaki Lima (PKL) menjadi bulan-bulanan aparat tantib dan satpol PP, yang menjadi musuh pemerintah di seluruh kota di Indonesia dengan dalih keindahan kota.

Hingga tak mengherankan perantau Minang jarang yang muncul ke permukaan sebagai tokoh nasional yang disegani. Karena kalah bersaing, banyak yang pulang kampung memperebutkan tanah ulayat yang kian sedikit dan gelar datuk yang banyak diobral. Lebih banyak lagi yang memutuskan menetap dan melarutkan diri di rantau berbekal petuah “daripada malu di bawa pulang lebih baik rantau diperjauh”. Sehingga misi merantau untuk modernisasi diri dan pengayaan tanah asal hanya mimpi di siang bolong. Karenanya, sudah sepatutnya perantau Minang menata ulang pola rantaunya agar pantun yang dikutip di awal tulisan ini benar-benar dapat dibuktikan.

*Yusriandi Pagarah, Kulturalis, bergiat pada Komunitas Perairan Wacana Jogjakarta.

Opini, Kedaulatan Rakyat, 12 November 2007

Lengangnya Forum Diskusi Kami

Yusriandi Pagarah

Menarik, kalau bukannya menantang, menggeledah batang-tubuh yang bernama mahasiswa atau intelektual muda, berupa hilangnya tradisi diskusi. Karena sejatinya diskusi bagian integral dan proses yang tidak bisa dikesampingkan untuk mencetak generasi masa depan yang kritis-responsif. Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan berawal dari komunitas-komunitas marjinal dan dari kelompok-kelompok diskusi terbatas yang berada di luar arus mainstream. Forum diskusi Limited Group Yogyakarta yang dinahkodai almarhum Prof. A. Mukti Ali dan Klub Kajian Agama (KKA) Paramadina Jakarta yang dipimpin almarhum Prof. Nurcholish Madjid—untuk sekedar menyebut contohnya—akan dicatat dengan tinta emas dalam sejarah intelektual negeri ini.

Telah banyak ditulis orang perihal lamurnya tradisi diskusi tersebut. Namun kebanyakan tulisan tersebut baru sebatas cetusan-cetusan ide awal yang berasal dari sebuah keprihatinan atau kesadaran intelektual, yang merasa terganggu dengan “tenang tapi tidak menghanyutkan” lingkungan sekitarnya. Masih tersisa “lubang menganga” yang barangkali terlupakan, yaitu menelusuri penyebab dan ke mana perginya para intelektual muda tersebut hingga melengangkan ruang-ruang diskusi.

Beralihnya citra seorang intelektual

Lengangnya ruang diskusi di kampus-kampus atau di tempat-tempat yang biasanya dijadikan mahasiswa sebagai tempat untuk menghilir-mudikkan wacana terkini dan “menggilir” isu-isu mutakhir, seperti kantor Senat, UKM dan basecamp organisasi ekstra. Perubahan tersebut karena beralihnya citra seorang intelektual: dari lihai beretorika di forum-forum diskusi dan piawai berorasi di depan khalayak umum menjadi orang yang pandai merangkai kata di media massa. Perubahan citra seorang intelektual ini tentunya seiring dengan semakin terbukanya kanal-kanal baru yang strategis bagi mahasiswa dan intelektual muda yang diberikan oleh media massa.

Peran media massa—untuk tidak mengatakan politik media massa—jelas signifikan memutar haluan tersebut. Pasca tumbangnya Orde Baru lahirlah beragam media massa dengan beragam orientasi dan bidikan segmen pasarnya. Tentu juga dengan beragam nasib yang dialaminya kemudian. Media yang telah almarhum tampil kembali bersama media-media baru yang hampir setiap saat melakukan “penampakkan-penampakkan” bersaing dengan media yang telah ada. Mau tidak mau “orang-orang dalam” media mencari celah untuk menggait pelanggan. Salah satunya dengan melakukan “kontak jodoh” dengan mengakomodir berbagai kepentingan masyarakat sebagai sasaran pasarnya. Berbagai rubrik dan kolom baru pun diciptakan.

Mahasiswa, atau para akademisi pada umumnya, adalah segmen pasar strategis bagi media massa. Maka media mencoba merespons “dunia mahasiswa” dan “dunia intelektual” dengan cara memuat berita-berita aktual dan menarik bagi mahasiswa seperti pustakaloka, berita di sekitar kampus, atau dengan cara menjalin kerjasama dengan ikon dan petinggi kampus. Atau dengan jalan menyediakan berbagai rubrik dan kolom yang dapat menampung berbagai aspirasi mahasiswa yang gelisah. Dari pihak mahasiswa, terbuka luasnya kanal ini merupakan momentum yang tidak ingin dilewatkan begitu saja. Bagi sebagian mahasiswa inilah saatnya untuk membuktikan diri sebagai seorang intelektual yang tidak hanya dikenal “kondang” di kampus, tapi juga dikagumi publik dari tulisan-tulisan cantiknya di media. Lagu baru pun dirilis: berhentilah mengonggong, mari kita makan daging!

Dengan begitu ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan (mutual simbiosis) antara pihak media di satu sisi dengan pihak mahasiswa di satu sisinya lagi. Bagi media, mahasiswa—atau kaum terpelajar pada umumnya—merupakan segmen pasar terbesar yang dapat menaikkan tiras penjualan dan mempertebal omzet. Sedangkan bagi pihak mahasiswa, media massa cetak dijadikan sumber untuk memperbaiki gizi periuk yang acap kerontang, disamping untuk mengangkat popularitas dan prestise. Bahkan untuk kolom atau rubrik tertentu, seorang mahasiswa dapat mengeruk keuntungan berlipat. Sambil menyelam minum susu. Misalnya mengisi rubrik resensi atau tinjauan buku yang disediakan hampir oleh semua media cetak. Dari mengisi rubrik tersebut seorang penulis mendapatkan honorium dari media yang memuat tulisannya. Sedangkan dari penerbit buku yang diresensi ia akan mendapatkan hadiah dua buku, yaitu buku yang diresensi dan buku terbaru dari pihak penerbit. Walau pun tidak sedikit pula penerbit yang mangkir menunaikan kewajibannya kepada peresensi dengan berbagai alasan.

Di samping itu, penerbit seperti Mizan Bandung dan LKiS Yogyakarta setiap tahunnya mengadakan penilaian untuk menetapkan resensor terbaiknya. Bahkan pihak perguruan tinggi—seperti Universitas Sanata Dharma Yogyakarta—memberikan penghargaan atau honorium langsung tunai (HLT) kepada para mahasiswanya setiapkali tulisan mahasiswa tersebut dimuat. Beberapa perguruan tinggi lain—seperti UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta—setiap beberapa bulan sekali rutin memberikan penghargaan kepada “si perangkai kata” ini dengan cara mengumpulkan tulisan para mahasiswanya yang tersebar di berbagai media. Kemudian tulisan tersebut dikelompokkan berdasarkan kategori yang sudah dikenal luas, seperti kategori karya ilmiah murni, karya terjemahan, artikel populer, opini, surat pembaca, resensi, novel, cerpen dan puisi. Kemudian dinilai oleh tim khusus (timsus) untuk dicarikan pemenangnya dari urutan pertama sampai tiga dalam setiap kategori, untuk kemudian diberi hadiah.

Kepiawaian merangkai kata di media massa akan memberi banyak kemudahan bagi seseorang dalam mencari kerja, terutama kerja-kerja yang menghajatkan pelamarnya terbukti akrab dengan dunia kepenulisan, seperti dunia penerbitan. Dosen muda atau tenaga pengajar pada umumnya, tidak lagi dirisaukan oleh kurangnya kum sebagai salah satu syarat kenaikkan pangkat. Karena kekurangan tersebut dapat diatasi dengan baik dan cepat dengan menulis di media. Padahal pikuknya forum diskusi selama ini berasal dari joke-joke yang dilontarkan dosen muda tersebut.

Terpesona pentas bertabur bintang

Semaraknya berbagai acara—terutama acara yang ditayangkan televisi-televisi swasta belakangan ini—yang dalam hitungan detik, mampu menyulap seorang menjadi orang terkenal juga berhasil melengangkan forum-forum diskusi milik mahasiswa. Terlepas dari klaim positif atau negatifnya acara-acara tersebut, sedikit-banyaknya libido mahasiswa atau intelektual muda ikut terkuras. Mahasiswa yang punya potensi dan memiliki kapasitas seperti yang diinginkan pihak yang punya hajat akan banyak menghabiskan waktunya untuk mengasah kemampuannya beradu kebolehan menuju puncak sukses. Apalagi acara tersebut dapat dijangkau dengan biaya murah, bahkan ada yang gratis. Sedangkan yang “tereliminasi” terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk mendukung para idola atau grup favoritnya dengan mendatangi langsung lokasi acara digelar atau dengan memberi dukungan melalui pesan singkat (SMS) dengan iming-iming bonus besar.

Menjadi anak band atau menguasai alat musik merupakan jalan paling aman dan cara paling cepat untuk menuju tangga bertabur bintang. Mahasiswa dan kawula muda lebih banyak menghabiskan waktu untuk latihan band atau mengikuti berbagai les musik: dari les piano sampai les gitar, dari les vokal sampai les menabuh drum. Sedangkan pikirannya terkuras untuk memikirkan bagaimana caranya dalam waktu yang tidak terlalu lama dapat menguasai alat musik dan membentuk grup band yang solid. Atau, bila memungkinkan secepatnya mengeluarkan demo album atau video klip untuk dikirim ke Jakarta. Sementara itu di sisi lain, bayangan-bayangan menjadi pujaan dan dielu-elukan orang banyak selalu melintas setiap inci kegiatan mahasiswa.

Kepungan budaya konsumerisme

Lebih dari itu, dunia konsumerisme-pragmatisme yang mengepung mahasiswa dan dampak dari himpitan beban ekonomi yang tak tertahankan, juga mengendorkan gairah mahasiswa untuk berdiskusi. Sikap pragmatisme yang menjangkiti mahasiswa atau intelektual muda di satu sisi sangat disayangkan karena berpotensi mengikis idealisme yang selama ini jadi kebanggaan mereka. Namun di sisi lain keputusan tersebut merupakan jalan paling aman, win-win solution, agar tetap survive kuliah dengan konsekuensi mengorbankan idealisme. Apalagi dengan tuntutan gaya hidup yang menguras banyak biaya dan himpitan beban ekonomi, baik karena biaya kuliah yang mahal ataupun karena biaya hidup yang melonjak naik, membuat konsentrasi mahasiswa terbelah.

Tidak mengherankan sekarang ini waktu dan tenaga mahasiswa banyak dihabiskan untuk kerja-kerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibatnya banyak mahasiswa banting stir dari man in campus menjadi man in market. Bagi mereka yang memiliki keahlian di bidang keagamaan menyelamatkan masa depannya menjadi pria masjid (primas) atau pria mushala (primus). Bahkan belakangan ini di kalangan segelintir mahasiswa populer man in street, yaitu mahasiswa yang menggantungkan hidupnya di jalanan dengan cara mengamen, menjual koran atau menjual voucher di pinggir jalan yang akhir-akhir ini tumbuh bak cendawan di musim hujan.

Saat ini amat langka menemukan yang namanya man in campus apalagi man in intellectuality. Karena yang banyak dijumpai adalah orang yang berkerja sambil kuliah, bukannya orang yang kuliah sambil kerja. Bagi yang berasal dari keluarga mapan terlalu banyak menghabiskan waktunya di café dan internet.

Dengan begitu, lengangnya forum diskusi atau pudarnya tradisi diskusi di kalangan mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari perubahan yang sedang pasang di sekitarnya. Citra intelektual perangkai kata dengan segala keuntungannya secara lamat-lamat mampu menggeser citra intelektual orator atau demonstran garang hingga melengangkan forum-forum diskusi. Keberadaan forum diskusi di kalangan mahasiswa saat ini tak lebih sebagai penonton yang cemburu, apologis dan sekedar mengukuhkan eksistensi kelompoknya. Tikar diskusi serasa kian jauh dari mahasiswa disebabkan kesibukkan mereka dengan urusan-urusan untuk menjadi “seleb”. Dan yang paling berpengaruh adalah batang-tubuh mahasiswa diserbu budaya konsumerisme-pragmatisme, yang tentu saja tidak bisa mempersalahkan intelektual muda sepenuhnya.

Opini, Media Indonesia, 2006

Intelektual Muda Minang, Gerilya Melawan Klise

Yusriandi Pagarah

“…Dan sebagai warganegara yang terpelajar, yang tahu menimbang buruk dan baik, yang tahu menguji benar dan salah dengan pendapat yang beralasan, tanggung jawabnya…adalah intelektuil dan moril. Intelektuil karena mereka dianggap golongan yang mengetahui; moril karena masalah ini mengenai keselamatan masyarakat, sekarang dan kemudian.”
--Mohammad Hatta

Dalam kata pengantar untuk disertasi Andrew Kahin dalam edisi Indonesia yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia tahun 2005 silam, sejarawan garda depan Indonesia, Prof. Taufik Abdullah, menyertakan komentar temannya berkaitan dengan terbitnya disertasi Kahin tersebut: Disertasi Kahin tersebut kian mengukuhkan bahwa sejarah tentang Sumatera Barat memang sejarah tentang kesedihan yang berkepanjangan, it is a sad history.

Kita pun dapat menderetkan potret a sad history tersebut dengam amat panjangnya pada peristiwa demi peristiwa mutakhir yang memilukan hati yang datang silih berganti menimpa masyarakat Minang yang pernah disematkan padanya sejumlah atribut keunggulan hingga membuatnya besar kepala dan membusungkan dada. Belum terobati trauma psikologis dicap sebagai pemberontak karena pernah menentang praktik kebijakan Jakarta yang tidak adil dekade 1950-an, beberapa waktu lalu orang Minang dibuat malu dengan praktik “korupsi berjamaah” yang dilakukan oleh wakil rakyat daerahnya yang rata-rata berstatus dai kondang dan bergelar datuk.

Bukan kuantitas dan takaran matematisnya yang dipersoalkan orang, karena kalau hal itu yang mengganjal—hemat penulis—masih di bawah dan belum seberapa bila dibandingkan dengan korupsi yang dilakukan, misalnya, oleh anggota DPRD Jawa Tengah yang mengantongi milyaran rupiah atau oleh koruptor BLBI yang mencapai triliunan. Praktik “korupsi berjamaah” mencerminkan betapa rendah dan bobroknya tanggung jawab moral yang dimiliki wakil rakyat daerah Sumatera Barat.

Lantas kebanggaan apalagi yang bersisa dari cerita panjang tentang a sad history yang beruntun menimpa masyarakat Minang? Dan apakah yang bisa disumbangkan oleh intelektual muda Minang untuk daerahnya?

Penyeimbang

Secara sui generis, Minangkabau menganut asas demokrasi dan terbuka. Hal ini dapat diinderai dari pepatah-petitih yang dipraktikan hampir dalam setiap situasi dan tempat, atau dengan mengakses langsung pada cerita-cerita tambo yang dijadikan rujukan dalam aturan-aturan yang menyangkut hal-ihwal kehidupan bermasyarakat. Ambil contohnya yang paling populer duduak samo randah tagak samo tinggi, sebagai bentuk penerimaan sekaligus pengakuan terhadap persamaan derajat. Atau pada pepatah-petitih, nan cadiak kawan baretong, nan binguang disuruah-suruah, nan buto paambuih tungku, nan bisu pangajuik ayam, nan pakak palapeh badiah dan nan lumpuah panghuni rumah, yang menggambarkan bahwa setiap orang diakui eksistensinya dan memiliki fungsi masing-masing sesuai dengan kapasitasnya.

Dalam kutub ini peran dan sumbangsih intelektual muda Minang adalah membuka selubung—atau bahasa intelektualnya mendekonstruksi—secara santun perihal bahasa-bahasa eufemisme dan banyak basa-basi yang dianut oleh mayoritas orang Minang. Disadari atau tidak, kecenderungan menggunakan eufemisme dalam berbahasa dan banyak basa-basi secara lamat-lamat telah mengkeroposkan dinding ontologis kebudayaan Minang. Keroposnya dinding ontologis ini menjadikan masyarakat Minang banyak yang lancang melanggar normativitas budayanya. Tragisnya lagi, banyak yang mengambil keuntungan dengan keroposnya dinding ontologis tersebut dengan dalih yang juga dideduksi dari aturan yang sama.

Kita tidak bermaksud menafikan atau meragukan sama sekali kontribusi yang telah diberikan oleh bahasa eufemisme dan banyak basa-basi dalam upaya pembentukan tipikal masyarakat Minang yang khas. Yang dipersoalkan adalah penempatan bahasa eufemisme dan basa-basi yang tidak pada tempatnya. Akibatnya kritik dan perbedaan pendapat sebagai turunan lansung dari demokrasi yang amat digadang-gadang secara normatif oleh ranah ini, malahan dikebiri dan ditabukan justeru oleh mereka yang dalam perkataannya sebentar-bentar mengutip Hatta dan sedikit-dikit menyebut Hamka.

Penyakit yang terbilang kronis ini terlihat, misalnya, pada artikel atau berita media lokal, atau pada jurnal-jurnal atau buletin-buletin berlabel Minang di rantau yang seolah-olah tak pernah letih bertutur panjang lebar tentang kesuksesan yang dicapai leluhurnya atau keagungan budayanya sejak kereta api masih beratap ijuk. Sedikit sekali persentasenya—untuk tidak mengatakan tidak ada—berita atau artikel yang kritis menyoroti sisi lain dari keminangkabauan. Bukti ketidakjujuran dan ketidakterbukaan orang Minang dalam menerima kenyataan dapat ditelusuri dari beberapa kasus. Misalnya berita busung lapar dan isu kristenisasi yang gencar dilansir oleh sejumlah media massa beberapa waktu lalu.

Dalam kasus busung lapar, sejumlah pejabat teras menolak mentah-mentah adanya kasus busung lapar di daerahnya. Bahkan orang Minang yang sukses di Jakarta—barangkali karena malu—ikut-ikutan menampik kasus tersebut. Padahal menurut logika komunikasi, semakin seseorang berapi-api menolak dan menampik, semakin kuat kebenaran dugaan tersebut. Akhir cerita, kasus busung lapar benar adanya di banyak tempat di Sumatera Barat. Begitu juga dengan banyaknya siswa-siswi SLTA yang tidak lulus beberapa tahun lalu. Para pejabat pun tidak terima kenyataan tersebut dengan hati lapang. Bahkan kesan yang diapungkan ke permukaan bukannya mengakuinya, tapi beralibi dengan menderetkan sejumlah nama beken dari Sumatera Barat yang telah almarhum, seperti Bung Hatta, Buya Hamka, Tan Malaka dan Sutan Syahrir—untuk menyebut beberapa nama saja. Pada kasus ini, terbukti sikap menduanya (split of personality) masyarakat Sumatera Barat.

Metode yang digunakan para pejabat dan tokoh teras asal Sumatera Barat untuk menampik pandangan minor di atas adalah metode ignaratio elenchi, yaitu menjawab dengan cara bertanya balik kepada penanya atau pengkritik agar mereka yang bertanya atau yang mengkritik merasa kagum atau kaget. Metode lain yang populer adalah metode petitio principii, yaitu mencari jawaban dengan cara mencari pembenaran yang bersifat mistis, metafisis atau cenderung mengkultuskan individu. Di satu sisi mereka amat berang dengan kritik jujur “diam yang memekakkan” yang dilontarkan Gus Dur, namun di sisi lain orang Sumatera Barat malahan mempercayai guyonan Gus Dur yang lebih percaya pada orang mati daripada orang yang hidup. Hingga terkesan orang Minang lebih suka dipuji padahal bohong semuanya daripada dikritik padahal benar adanya.

Bukan bebek kaget

Saat ini masyarakat Minang kembali menerapkan pemerintahan nagari karena sistem pemerintahan desa dirasa tidak cocok dengan bangunan kultural masyarakatnya. Keinginan tersebut berbanding lurus dengan menghidupkan kembali tradisi lama dan institusi ninik-mamak digadang lagi. Maka otonomi daerah di Sumatera Barat dirayakan dengan menggelar alek nagari sesering mungkin dan tanduknisasi semua gedung pemerintahan dan fasilitas umum. Padahal penghuninya nihil dan asing dari pemahaman, apalagi penerapan nilai-nilai keminangkabauan.

Di tengah-tengah masyarakat Minang saat ini orang sibuk menghitung tanah ulayat dan membuat ranji keturunan. Tidak jarang terjadi pergesekan dalam membagi tanah ulayat dan memperebutkan gelar adat. Banyak sekali kita jumpai yang menyandang gelar datuk tidak sesuai dengan kapasitasnya—nir-qualified. Tragisnya lagi, ada juga di antara segelintir orang Minang—biasanya dengan motif kompensasi kapital—dengan amat mudahnya melelang gelar datuk kepada siapa saja yang berminat. Seorang teman menyebut acara melelang gelar datuk tersebut dengan fenomena datuak honoris causa.

Padahal sejatinya spirit yang dibawa otonomi daerah adalah kemandirian daerah membiayai dirinya sendiri dan kesiapan untuk berkompetisi secara terbuka. Barangkali Prof. Taufik Abdullah benar, dalam salah satu artikelnya di jurnal almarhum Genta Budaya, bahwa yang tepat untuk Sumatera Barat “bukan mambangkik batang tarandam”. Karena bila bersikukuh dengan yang telah berlalu, dengan kebanggaan masa silam, sama saja dengan mundur ke belakang. Kita boleh saja menengok ke belakang karena semua orang punya kenangan masa lalu yang sulit dihapus begitu saja. Namun perlu juga disadari bahwa orang yang berjalan sambil menengok ke belakang adalah tipikal orang penakut dan pengecut.

Self-critic society

Sebagaimana pendapat Bung Hatta yang dikutip di awal tulisan ini bahwa sebagai seorang yang terpelajar tugasnya adalah tanggung jawab intelektual dan tanggung jawab moral. Sebagai intelektual muda yang berasal dari daerah yang masyarakatnya dirundung a sad history berkepanjangan amatlah berat. Apalagi a sad history tersebut berkait-kelindan dengan kebanggaan pada kejayaan masa lalu. Bayangan masa lalu yang gemilang dan masa sekarang yang sial membias silih berganti di setiap pelupuk mata orang Minang. Suatu paradoksal yang ambigu.

Sebagai intelektual muda Minang tentunya tidak ingin mengalami situasi paradoksal sebagaimana yang dialami para pendahulunya. Sebagai intelektual tentunya ia juga tidak akan membiarkan masyarakatnya larut dalam masa lalu: apakah itu yang membanggakan atau pun yang menyedihkan. Selain himbauan moral dan sikap kritis, adakah yang lebih mungkin dilakukan oleh seorang intelektual muda Minang? Menyikapi perubahan yang sedang pasang tersebut, intelektual muda Minang dapat memainkan perannya. Pertama, mengikis secara perlahan sikap tertutup yang merugikan atau meminimalisir bahasa eufemisme. Berbagai kasus seperti busung lapar, isu kristenisasi dan banyaknya siswa-siswi yang tidak lulus, sesungguhnya dapat dijadikan bahan pertimbangan dan perenungan untuk merekonstruksi dan merancang (social engineering) masa depan masyarakat Minang yang lebih baik. Bukannya ditanggapi dengan senjatanya orang-orang yang kalah—meminjam istilah James Scott. Karena kita tidak boleh menjawab masa lalu untuk persoalan hari ini.

Kedua, mengkritisi setiap kebijakan yang digulirkan pemerintah daerah atau fenomena yang ganjil di tengah masyarakatnya. Fenomena otonomi daerah yang di Sumatera Barat diejawantahkan dengan mengusung paket baliak ka nagari. Di satu sisi diakui, bahwa baliak ka nagari sedikit-banyaknya dapat mengobati harapan yang telah punah akibat kepungan potret a sad history. Namun di sisi yang satunya lagi, paket baliak ka nagari telah membuat masyarakat Sumatera Barat salah dalam mengartikan otonomi daerah. Yang tertanam di benak setiap orang Sumatera Barat bahwa kehidupan yang ideal adalah kehidupan seperti yang telah dipraktikan oleh pendahulunya.

Kita tidak menampik sistem pemerintahan nagari mampu dan berhasil membawa masyarakat Minang tradisional mencapai yang dicitakannya. Namun dengan situasi dan tantangan yang berbeda, apa mungkin kita menerapkan sistem pemerintahan nagari seperti yang dulu itu tanpa adanya inovasi-inovasi cerdas di sana-sini. Tugas intelektual muda Minang adalah mengkritisi sisi lain atau ekses negatif dari praktik otonomi daerah yang salah tafsir, seperti hidupnya kembali imperium ninik-mamak yang tak kalah kejamnya dari politik penyeragaman yang dilakukan rezim Orde Baru.

Ketiga, mengawal perubahan dengan cerdas. Intelektual muda Minang harus membuat advokasi tandingan untuk mengimbangi kecenderungan membanggakan kejayaan masa lalu leluhurnya dengan menunjukan bahwa orang Minang dulu banyak “mamacik” karena mereka mengambil dari kemajuan apinya dan bukan abunya. Mengambil dari modernitas spiritnya, dan bukan menenggak residunya. Di samping cerdas membaca perubahan yang sedang pasang, intelektual Minang masa lalu punya komitmen moral yang aduhai agungnya, disamping kapasitas intelektualnya yang tidak diragukan lagi. Tarulah kita bangga dengan Bung Hatta karena beliau representasi dari orang Minang yang sukses secara intelektual dan politik. Salah satu sikap Bung Hatta yang pantas dan relevan untuk diteladani adalah kecintaan beliau pada buku yang belum ada tandingannya. Lalu bagaimana dengan kita yang mengaku dan amat membanggakan beliau: sejauh mana kecintaan kita pada buku dan ilmu pengetahuan?

Kegagalan intelektual muda Minang melakukan provokasi atau advokasi yang bernuansa self-critic society, tidak tertutup kemungkinan potret a sad history akan berulang lagi di Sumatera Barat dengan banyak wajah dan mungkin lebih suram. Padahal kita tidak ingin menjadi generasi kerdil seperti yang selalu jadi kegundahan Bung Hatta sedari mudanya. Kegagalan melakukan counter attack atau melawan klise, barangkali sebentuk pengkianatan intelektual, la trahison des clerc—meminjam istilah Julien Benda, sekali pun dalam bentuknya yang minimalis. Intelektual muda Minang harus cerdas membaca arus pengkeroposan ontologis budaya Minang dari dalam yang dapat diringkas dalam satu tarikan napas: adat yang tidak lapuk oleh hujan dan tidak lekang oleh panas, tapi tandeh dek pitih…

Opini, Serambi Minang, Juni 2006

Gadis Kalinongko Lor

Yusriandi Pagarah


Rembulan masih tegak tali di petala langit. Semilir angin dinihari mengalirkan dingin ke tulang sungsum. Kumpulan burung malam berarak bersigegas pulang ke sarang. Tak lama antaranya, kokok ayam jantan terdengar bersahut-sahutan. Iramanya merdu bak teatrikal ritual balas pantun menyambut datang pagi.

Lamat-lamat dari ufuk timur terpampang pemandangan dinihari yang aduhai. Fajar pagi mempertontonkan keindahan alam yang tak pernah lusuh dikudap waktu. Pusung di tangan kanan penduduk yang akan melakukan perjalanan ke kampung yang jauh tampak berkelip-kelipan diusik nakal angin pagi. Azan Subuh pemuda tanggung dari Masjid Al-Ikhlas mendakik parau menambah riuhnya suasana pagi.

Samar-samar puncak gunung Mintorogo di selatan dusun mulai kelihatan aib tubuhnya. Selimut tebal kabut pagi pelan-pelan lenyap entah menepi ke mana. Hanya menitipkan ruyak tukak pada perut dan tengkuk gunung melepuh. Perlahan seanteran kaki gunung memamerkan wajah aslinya yang tak asri. Sekujur badannya terlihat penuh tempelan tak rapi.

Saban pagi sepanjang kaki bukit Prambanan ini memamerkan panorama rerantingan meranggas dan keramas pagi dedaunan dari sisa tetes embun semalam. Karena mengharap hujan tidak lagi mungkin di siklus musim yang telah beralih haluan. Lengkap dengan tebaran debunya yang mengganjal pernapasan.

Sungai Kalinongko yang membelah dua dusun tidak sanggup lagi menghanyutkan diri. Dendang gemericik air sungai bak gelak berderai gadis kasmaran telah lama hilang dari gendang telinga seisi dusun. Sungai di utara dusun yang melewati desa Kerten kabupaten Klaten juga kepayahan menghilirkan badan. Hanya membujur kaku di hadapan deraan musim kerontang yang belum tertebak tapal perhentiannya.

Penduduk Kalinongko Lor telah sedari sore merancang langkah esok hari. Bangun di saat tidur belum pulas. Saat mimpi semalam masih saja terbengkalai. Matahari belum berhasil menembus pagar betis deretan kayu jati dan mahoni, pengawal dusun yang baru beberapa tahun ini mulai tumbuh cabang-cabang kurusnya. Tapi penduduk dusun telah berangkat menjalankan guratan tangan masing-masing. Saban pagi jalan aspal yang tidak terlalu mulus dan tidak terlalu lebar itu sangat ramai. Rerumputan liar di kiri dan kanan jalan keperakan disepuh matahari pagi.

Iring-iringan penduduk turun dari kaki bebukitan tumpah-blek di satu tempat. Arak-arakan mereka seperti kumpulan orang yang terbuang dari kampung halaman sendiri. Jelas terbias di wajah mereka aura harap cemas meraraukan sesuatu. Rerombongan anak berseragam sekolah bersepeda ontel berbaur dengan barisan panjang ibu-ibu yang membawa bakul ke pasar tradisional Menggah yang ramai hingga matahari sepenggalah.

Ke pasar ini sebagian besar hasil bumi yang cocok dengan kondisi alam yang tandus dibawa penduduk. Kemudian diganti dengan kebutuhan penduduk sehari-hari. Di pasar ini setiap hari tersedia colt penumpang dengan trayek dari dan ke kota kecamatan yang beroperasi jelang Ashar. Juga terdapat pangkalan ojek yang melayani segala penjuru sampai ke kampung-kampung tersuruk di kaki bebukitan.

Siang hari suasana dusun ditikam sepi. Suasana pagi yang pikuk amat kontras dengan suasana siang yang lengang tak berpenghuni. Sayup-sayup dari jejauhan terdengar gelak riang murid sekolah dasar yang sedang jeda istirahat. Atau deru mesin gilingan padi yang amat hampir jaraknya dengan bantaran sungai. Sejauh pandangan ditukikkan ke hamparan petak sawah tampak petani sedang bercengkrama dengan tanaman yang nanar disengat matahari. Bila mata diarahkan ke bebukitan menjulang akan silau berhadapan dengan pantulan matahari siang yang tumpah di bukit tandus. Hembusan pelan angin bebukitan menggugurkan dedaunan kering. Juga sejukkan kulit yang dibalut debu dibakar terik matahari.

Suasana berangsur pulih seiring laku matahari yang condong ke barat. Jalanan mulai ramai dengan hilir-mudiknya penduduk sepulang kerja atau sehabis berpergian. Petani pulang membawa hasil ladang atau sawah untuk dijual esok pagi. Tidak lupa membawa rumput untuk pakan ternak yang sepanjang waktu dikebat di kandang. Lapangan tak seberapa depa kurang terurus di samping makam, satu-satunya tempat yang dimiliki dusun untuk melakukan semua kegiatan. Tempat main voli pemuda setiap sore, acara tujuh belasan dan pertunjukan layar tancap. Bahkan puncak acara nyadran atau bersih dusun sekali setahun juga dipusatkan di lapangan itu.

Azan Magrib sebagai tanda bagi penduduk dusun untuk menghentikan semua pekerjaan. Sunyi kembali menyelimuti dusun yang tiap tahun mendapat giliran musim kering ini.

****

Suasana seperti itulah yang kurasakan selama dua bulan menghabiskan waktu liburan semester di dusun Kalinongko Lor. Aku ditawari teman berlibur di kampungnya. Riyadi Basuki namanya, dipanggil Peyek di kampungnya. Anak seorang carik desa yang cukup disegani. Aku sendiri telah sedari lama sejatinya memimpikan berdiam diri sejenak di pedalaman desa Jawa. Ingin merasakan hidup berbaur dengan masyarakat yang latar kehidupannya berbeda sama sekali denganku. Rindu bercengkrama dengan penduduk dusun yang hidup bersahaja. Yang memasrahkan hidupnya pada kemauan alam.

Awalnya aku canggung sekali berada di tengah keluarga baruku ini. Maklum aku orangnya pemalu dan kurang pandai bergaul. Bertampang serius dan kikir senyuman. Ditambah pelit bicara. Sulit sekali bagiku berbicara dengan penduduk dusun. Apalagi dengan yang tua-tua. Aku mengambil jalan aman dengan banyak mengangguk dan menebar senyuman ketika bergaul dengan penduduk Kalinongko Lor.

Banyak kenangan indah yang akan kusimpan dalam lekuk ingatan. Salah satunya tentang pertemuanku dengan gadis kembar tiga di dusun tersebut. Tri Sumarni, Tri Sulastri dan Tri Suratmi, namanya. Anak pertama dari pasangan suami-istri Pak Wugimin dengan Bu Sutinem. Hampir setiap pagi dan sore hari aku bersirobok dengan gadis kembar tiga ini di sumur Pak Lamto Suwito, salah seorang tetua kampung.

Terkadang aku bertemu dengan salah seorang di antara mereka. Di lain waktu bertemu dengan dua orang di antara mereka. Kalau beruntung aku bertemu dengan ketiga kembar itu. Uniknya kami sering bertemu di waktu yang sama dan juga di tempat yang sama. Kalau bukan jelang mentari datang, ya jelang mentari mau pergi lagi. Jarang sekali kami bertemu di suasana lain. Paling bertemu sekali waktu pada pengajian rutin lapanan di masjid setiap malam Ahad Pon. Atau pada acara arisan pemuda kampung sekali sebulan di rumah Mas Sugiono.

Sumur Pak Lamto satu-satunya sumber air bersih bagi penduduk dusun Kalinongko Lor. Tidak jarang tetangga sekitar dusun juga memanfaatkan air dari sumur ini untuk kebutuhan mereka. Menimba dan mengangkut air ke rumah masing-masing sudah menjadi pekerjaan rutin penduduk disamping bercocok tanam dan memelihara sapi. Tidak laki-laki-laki dan tidak perempuan. Tua dan muda.

Rasa simpatiku pada gadis kembar tiga ini berawal dari pekerjaan mengangkut air yang terbilang jauh dari sumber air. Beban yang dipikul terlalu berat untuk ukuran gadis seusianya. Aku sendiri iman tidak akan sanggup melakukan hal serupa. Panorama seperti ini tidak pernah kujumpai di kampungku yang terbilang swasembada air. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan ini menimpa gadis-gadis di kampungku yang seusia dengan gadis kembar tiga itu. Aku juga tidak tahu bagaimana komentar adik perempuan semata wayangku, andai tinggal di dusun tandus ini.

Dua orang di antara gadis kembar tiga itu berbagi tugas mengisi dua bak mandi dua kali sehari secara bergiliran. Setiap pagi dan sore hari. Satu orang mengisi bak mandi di rumah mereka. Dan satu lagi mengisi bak mandi Mbah Suminten yang ditinggal anaknya yang ikut program transmigrasi ke Kalimantan. Kembar yang satunya lagi bertugas memasak, mencuci piring dan membersihkan rumah. Bapak Wugimin terlalu letih mengurus tanaman dan sapi. Sedangkan Bu Sutinem sibuk mengurus ketiga anaknya yang masih kecil-kecil.

Agaknya pertemuan demi pertemuan di sumur Pak Lamto semakin mengakrabkan kami. Aku dengan gadis kembar tiga itu. Aku mulai memberanikan diri bertanya banyak hal pada mereka. Bercerita panjang lebar tentang apa saja sambil sesekali menggoda mereka. Lama antaranya baru aku sadari salah seorang di antara gadis kembar tiga itu ada yang kurang bersahabat denganku. Tatapannya sinis mengakari jantung. Sering bersungut-sungut yang tak menenteramkan perasaan.

Persisnya yang mana, aku juga tidak yakin dengan ketepatan tebakkanku sendiri. Terlalu payah bagiku untuk mampu membedakannya disebabkan miripnya gadis kembar tiga itu. Karena tak ingin terlalu bersusah payah, aku namai saja ia pendekar bermata jahat.

Aku sendiri amat mafhum alam yang gersang mendidik mereka keras. Tapi aku juga percaya alam yang gersang akan melatih mereka memiliki kesabaran yang menghujam kedalaman zaman.

****

Keberadaanku di Kalinongko Lor sudah di ujung sumbu waktu. Tinggal menggantang menit. Sebelum meninggalkan dusun aku berpamitan pada para tetangga. Ada perasaan lain yang kurasakan waktu berjabat salam dengan penduduk dan entah kapan lagi akan kurasakan hal serupa. Wajah sedih jelas mengelantungiku sore itu. Aku titip salam untuk gadis kembar tiga pada Bu Sutinem.

Jelang Magrib entah mengapa kusempatkan juga menengok sumur Pak Lamto untuk yang terakhir kalinya. Pikirku, karena waktu masih saja milikku seutuhnya. Siapa tahu sejumput wajah yang tak kunjung sempurna kutata di palung hati kujumpai di sana. Siapa tahu ia berbaik hati memberikan seulas senyuman yang tak pernah ia berikan padaku sebelumnya. Setidaknya menikmati tatapan mata tajamnya. Sebagai kenang-kenangan perjalanan.

Namun aku hanya mendapati gelantungan sepi di sumur Pak Lamto. Trang-trang. Ah, lembab juga mata yang tak lagi tertarik dengan ragam kesedihan itu.

Keesokan paginya keluarga Riyadi mengantarku sampai pertigaan sendang Sriningsih, pintu masuk ke dusun yang waktu kutinggalkan baru dapat suplai air dari pemerintah kabupaten Sleman. Aku baru tahu dapat titipan surat dari gadis kembar tiga, ketika bersalaman dengan keluarga tempat tinggalku selama liburan. Adik Riyadi, Narti Ika Pertiwi, yang memberikannya padaku. Surat dari gadis kembar tiga itu kubaca di atas bis Prambanan-Yogyakarta. Hati-hati sekali kubuka amplopnya. Ringkas sekali surat itu ditulis.

“Maafkan kami musafir. Kemaren sore kami mencari air ke kampung yang jauh. Sebab sumur Pak Lamto sudah mengering. Salam yang kamu titipkan pada Ibu telah kami pancangkan di tandus tanah dusun. Selamat jalan musafir. Sampai jumpa lagi di musim langit tiris.”

Aku hanya mampu mendekap surat itu dengan mata terpejam. Kupeluk sepuas batin sambil menggigit bibir sekuat nyali. Untuk terakhir kalinya kuhadapkan muka ke celah-celah dedahanan pohon jati meradang. Samar-samar tampak Gunung Mintorogo melambaikan tangan letihnya padaku. Lalu detak jantungku mengeja salam perpisahan. Pelan sekali.

“Selamat menunggu kuyup hujan gadis tangguh
Tegarmu membuat seisi langit lelehkan asamu
Bila kelak tak diizinkan berenang di bening lubukmu
Aku sudah puas memujamu dari kedalaman waktu.”

Kalinongko Lor-Kalijaga Wetan, Maret 2005

Investasi Untuk Generasi Mendatang

Yusriandi Pagarah

Dalam sebuah seminar tentang cyber crime dan cyber porn beberapa waktu lalu di Semarang, yang disponsori BPHN (Badan Pembinaan Hukum Nasional) bekerjasama dengan Magister Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Diponegoro, ada hal menarik yang tetap tersimpan rapi dalam etalase memori. Berkesan bukan karena penuturan Prof. Barda Nawawi Arief yang memikat, makalah Bung Yasraf Amir Piliang yang berbobot atau gaya Mas Roy Suryo yang bikin decak kagum. Bukan juga karena temanya berkoreferensi dengan RUU APP yang lagi hangat-hangatnya diperdebatkan masyarakat negeri ini. Sama sekali bukan.

Waktu break pada hari pertama, saya duduk berdekatan dengan seorang anak muda. Karena tergolong “pendatang ilegal” dalam seminar tersebut, saya hanya diam. Dasar “pengkhayal tingkat tinggi” atau karena kurang kerjaan, saya mencoba menebak siapa gerangan anak muda ini? Sebagai apa dalam seminar ini? Saya pun larut melamunkan anak muda tersebut. Dilihat dari tampilan dan gerak tubuhnya, tak mungkin ia peserta biasa. Apalagi “pendatang ilegal” sebagaimana ihwalnya saya, yang datang tidak diundang dan pergi tidak diantar. Berkelebatlah aneka khayalan tentang sosok anak muda keren tersebut. Dasar!

Singkat cerita, pada hari kedua seminar, saya datang telat. Karena ban mobil orang yang membawa saya ikut seminar—seorang dosen hukum pidana dari sebuah perguruan tinggi swasta di Magelang—kempes. Kala saya hadapkan wajah pada pembicara di depan, pandangan saya bersirobok dengan anak muda yang duduk di samping saya kemaren. Lho! Terbukti kan bahwa ia bukan orang sembarangan? Jadi, tidak terlalu salah menerka-nerka siapa gerangan dirinya dan sebagai apa dalam seminar ini? Ketika mendapat makalah dari panitia, saya langsung membalik-balik makalah tersebut. Berharap menemukan identitas anak muda itu. Ups, usia 31 tahun, belum menikah, memperoleh LL.B, MCL dan Ph.D. di luar negeri dan dosen di luar negeri. Dalam hati penulis langsung memproklamirkan akan memberanikan diri mengenal anak muda di depan itu. Tentu saja waktu break makan siang jelang sesi kedua nanti.

Akibat salah urus

Berkat pembicaraan yang serba sedikit dan pertemuan sepintas lalu tersebut, ada dua hal menarik yang—hemat penulis—relevan untuk diperbincangkan lebih jauh dari sosok anak muda tersebut. Pertama, sekalipun masih muda telah menyelesaikan pendidikan doktornya sebelum menginjak usia kepala tiga, bahkan dari universitas luar negeri dan mengajar di luar negeri. Dalam konteks ini, nama Irwan Abdullah dari UGM dan Effendi Ghazali dari UI, patut disebut. Sosok Yusril Ihza Mahendra—disertai catatan pendamping—layak juga dipertimbangkan. Di masa lalu, Bung Hatta adalah sosok patriot-nasionalis, yang bertekad tidak menikah sebelum Indonesia merdeka. Keadaan tersebut berbanding terbalik dengan mayoritas anak muda saat ini. Tidak energik, kurang produktif dan malu-maluin. Kalau bukan hobi kawin dan gonta-ganti pacar mengandalkan beasiswa orang tua, kerjanya bikin peta-peta baru di sarung bantal atau jadi pak ogah.

Kedua, cerita anak muda itu tentang bagaimana gesit dan genitnya petinggi pendidikan Malaysia merayu orang-orang Indonesia yang berprestasi di luar negeri untuk berkarir di sana. Orang Indonesia yang sukses di bidang pendidikan di Jepang, Rusia, Jerman, Amerika, Inggris, diiming-imingi dengan posisi strategis dan fasilitas mutakhir. Hemat saya, bukan Malaysia saja yang melakukannya, negara-negara lain juga melakukan hal serupa. Singkat kata, sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang berkualitas disabotase oleh negara lain. Yang tidak lolos seleksi di luar negeri inilah yang kemudian mengelola Indonesia. Tidak heran bila negara ini terus saja dirundung berbagai masalah. Belum tuntas satu masalah, kasus berikutnya telah menguntit. Karena diurus oleh mereka yang tidak berkompeten di bidangnya.

Memang sangat mengherankan, sewaktu muda banyak anak-anak bangsa ini yang berprestasi di tingkat internasional pada berbagai bidang, seperti fisika, kimia, biologi, matematika, teknologi, dan olahraga. Melihat segepok prestasi di atas, tak berlebihan kiranya ada yang bermimpi menjadikan Indonesia sebagai “industri otak”. Namun selang beberapa tahun, jejak mereka tidak ditemukan lagi. Sebagian hilang dikilau rantau dan larut di negeri seberang karena memperoleh kompensasi kapital yang setimpal. Tapi mayoritas penghuni jalanan, trotoar dan terminal dengan mengandalkan “otot”. Mereka yang dulu imut dan ngangenin, sekarang bertampang sangar dan nyebelin.

Bila persoalan yang pertama merupakan pilihan-pilihan hidup yang bersifat personal, taruhlah demikian, yang tidak menemukan tokoh-tokoh yang layak untuk diteladani, bahkan di tengah keluarganya sendiri. Akibatnya, generasi muda kehilangan figur panutan dan disorientasi masa depan. Sementara yang kedua merupakan ekses dari kebijakan pemegang kekuasaan yang tidak memikirkan kepentingan umum dan masa depan masyarakat Indonesia yang makmur dan berkeadaban, seperti cita-cita para pendiri bangsa ini.

Pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok. Sedangkan dunia pendidikan adalah ruang dimana suatu persoalan dapat mencari jalan keluarnya dengan berbagai perspektif dan beragam pilihan. Maka sudah saatnya kita pikirkan sedari detik ini secara matang dan hati lapang tentang masa depan calon pemimpin masa depan bangsa ini.


*Yusriandi Pagarah, penulis, bergiat pada Forum Kajian Lereng Merapi (For KaLeM) Jogjakarta (E-mail: yinqo_asyiqo@yahoo.com)

Tekanan Jiwa dan Fisik pada Pekerja

Yusriandi Pagarah

BELAKANGAN ini berbagai media baik cetak maupun elektronik marak sekali mengangkat berita tentang banyaknya para pekerja yang mengalami gangguan jiwa dan cacat fisik. Pergi sehat, pulang mentalnya sudah terganggu. Berangkat dari rumah fisiknya lengkap, dan balik sudah ada yang cacat. Bahkan tak sedikit yang meninggal dunia.

Pada Bangsal Sakura RSUD Banyumas, misalnya, pascalebaran lalu terjadi peningkatan yang sangat signifikan pasien ganggaun jiwa yang mondok di RS tersebut. Isi bangsal yang khusus untuk pasien gangguan jiwa itu, melebihi kapasitas daya tampungnya, dari yang semestinya 74 pasien menjadi 119 pasien.

Pasien yang masuk berasal dari Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen (Jateng), dan Ciamis (Jabar). Mereka berusia antara 17 tahun sampai 40 tahun, yang notabene berada pada kisaran usia produktif dalam bekerja.

Kebanyakan pasien merupakan perantau yang baru pulang dari luar daerah atau tenaga kerja yang baru pulang dari luar negeri. Pemicu terjadinya gangguan jiwa pasien di antaranya karena korban kecanduan narkoba, serta tenaga kerja wanita dan perantau yang tidak tahan dengan budaya dan prilaku masyarakat/negara tempatnya bekerja.

Menurut saya, tentu banyak lagi rumah sakit lain -terutama rumah sakit jiwa- di daerah lain yang mengalami konsisi serupa, dan bahkan tidak menutup kemungkinan mengalami kendala dan problema yang lebih kompleks lagi.

Karena fenomena tersebut bagaikan fenomena gunung es, puncaknya saja yang kelihatan, sementara yang berada di bawahnya lebih dahsyat lagi. Pasien yang tidak dibawa ke rumah sakit juga tak terhitung jumlahnya. Ada yang dirantai keluarganya, ada juga yang tidak dihiraukan keluarganya sehingga berkeliaran di kampung-kampung dan kota-kota. Pertanda apakah semua itu?

Dampak Organisasi

Reportase tersebut sedikit banyak memberi petunjuk bahwa pekerja saja masih mengalami gangguan jiwa akibat tidak kondusifnya suasana di tempat kerja, apalagi para pengangguran yang merupakan komunitas mayoritas yang terlupakan di negeri ini. Pekerja yang terganggu jiwanya bukan hanya monopoli pekerja kasar (the blue collar) yang berpayung matahari dan bergaji kecil, tapi juga dialami pekerja kantoran (the white collar) yang dimanjakan dengan aneka fasilitas luks.

Para pekerja tipe pertama dalam bekerja mengalami rasa keterpinggiran, terjerat, tertekan di lingkungan tempatnya bekerja, dan bingung dengan perasaan tak berarti. Hal itu diperburuk dengan keterampilan yang tidak memadai, kecakapan mental yang belum sempurna, serta pelatihan dan magang kerja yang minim.

Gaji yang tidak sebanding dengan kerja dan tuntutan hidup yang tak tertahankan, membuat mereka iri dan malu bercampur marah. Dari percampuran tiga sifat itu, terjadilah kejadian dramatis. Kebencian berujung kepada depresi adalah reaksi terhadap frustrasi akan pengharapan-pengharapan mereka.

Kondisi itu berimbas pada ketidakhadiran, keterlambatan, kelambanan produksi, alkoholik, dan bahkan penyalahgunaan obat-obat terlarang. Ketika gagal, mereka akan mencerca siapa saja, khususnya para eksekutif dan majikan yang dianggap sebagai penghalang cita-cita. Hingga benarlah tesis FJ Braceland dan M Stock dalam Modern Psychiatry, bahwa "banyaknya risiko dan aktivitas dunia industrial modern bukan terletak pada mesin-mesin atau lingkungan yang penuh limbah, melainkan pada orang-orang yang mengoperasikan mesin dan efek dari sikap-sikap psikologis yang mengandung racun (toxi-psychology)."

Belitan Masalah

Sementara itu tipe pekerja kedua, di antaranya guru, dosen, jurnalis, sipil, militer, dan eksekutif, mengidap penyakit akut bernama white collar complex. Mereka diikat oleh belitan masalah perusahaan, sekat kode etik organisasi, dan prosedural birokrasi yang bagai lingkaran setan.

Hal itu memicu terjadinya konflik-konflik laten yang tak berkesudahan antara individu dengan keinginan-keinginannya serta dengan peranan yang ia mainkan. Tipe pekerja tersebut sering kali menyembunyikan pikiran-pikiran mereka dengan cara melontarkan omelan dan ocehan yang tak berarti. Tak henti-hentinya dijerat lingkaran kekalahan sendiri. Pengidap penyakit itu mudah sekali menjadi sekawanan yang dikendalikan oleh pemikir yang bebal (J Maurus, 2005: 46-48).

Humanis Erich Fromm dalam karyanya To Have or To Be menunjuk organisasi industrial sebagai biangnya. Menurutnya, "Organisasi itu mereduksi kerja mesin, diatur oleh irama dan permintaan. Ia mentransformasikan dirinya ke dalam homo consumen, yang tujuannya semata-mata memiliki (have) lebih banyak dan menggunakan (use) lebih banyak. Masyarakat itu banyak menciptakan hal yang sia-sia, dan pada level yang sama banyak orang yang tidak berguna."

Pendapat tersebut memiliki garis singgung dengan kritik Edward W Said (1995) tentang mental kaum profesional yang kaku, yang menganggap kerja profesional sebagai pekerjaan yang dilakukan untuk penghidupan yang berdurasi antara pukul sembilan pagi sampai pukul lima sore, dengan sebelah mata tertuju pada jam dan sebelahnya lagi melirik pada apa yang dianggap pantas atau profesional.

Karena itu, tak mengherankan jika amat langka ditemukan birokrat yang kreatif dalam situasi kerja seperti tersebut.

Jalan Keluar

Orang bijak selalu berkhotbah agar seseorang tidak sampai terjerembab pada lubang yang sama untuk kali kedua, karena fenomena pekerja yang mengalami gangguan jiwa juga cacat fisik dan bahkan ada yang meninggal bagaikan fenomena gunung es yang amat kompleks.

Suasana yang tidak nyaman yang dialami pekerja, ada yang berasal dari diri pekerja sendiri (internal) dan ada pula yang berasal dari luar dirinya (eksternal).
Dari dalam diri pekerja sendiri, misalnya tidak terampil, kurang berpengalaman karena minimnya pelatihan, magang yang tidak memadai, dan pendidikan yang terbatas. Hal itu dapat diatasi dengan adanya pelatihan prakerja yang disediakan pemerintah.

Sementara itu yang eksternal, dipicu oleh pekerjaan dan loyalitas yang tidak setimpal dengan gaji dan tunjangan yang diberikan. Kondisi tersebut dapat ditanggulangi dengan adanya aturan regulasi yang jelas tentang hak-hak pekerja yang harus diberikan oleh pemilik perusahaan atau lembaga.

Bagi yang melanggar, diberikan sanksi tegas dengan cara dicabut izin usahanya. Bagi yang bekerja di luar negeri harus diikuti dengan jaminan keamanan dan kesejahteraan yang jelas hitam di atas putihnya dari pihak pengontrak.

Pekerjaan bagi manusia tidak sebatas untuk menyambung hidup dan meraih cita-cita, lebih dari itu bekerja sesungguhnya adalah untuk meningkatkan martabat dan harga diri. Bila tidak tersedia di daerah sendiri, pergi merantau ke daerah lain. Bila tidak tersedia di dalam negeri, negeri asing tak berpeta pun akan dijalani.

Karenanya, bila pemerintah gagal merealisasikan tiga item tersebut, negeri ini akan tetap memproduksi para pekerja yang bernasib buntung, yang masa depannya dipasung oleh keluarganya, masuk rumah sakit jiwa, cacat tubuhnya seumur hidup, atau lebih tragis lagi bunuh diri.(68)

--- Yusriandi Pagarah, kulturalis, bergiat pada Komunitas Perairan Wacana Yogyakarta.

Wacana, Suara Merdeka, Kamis, 22 November 2007

Selasa, 06 Januari 2009

Sekaten, Ritual Kolektif, dan Bisnis Pertunjukan Budaya

Yusriandi Pagarah

Pada tahun 1939 Saka atau bertepatan dengan tahun 1477 Masehi, Raden Patah selaku Adipati Kabupaten Demak Bintara dengan dukungan para wali, menggelar kegiatan syiar Islam secara terus-menerus selama tujuh hari menjelang tanggal kelahiran Nabi Muhammad Saw. Agar menarik perhatian rakyat, dibunyikanlah dua gamelan buah karya Sunan Giri membawakan gending-gending ciptaan para wali, terutama karya Sunan Kalijaga.

Setelah melakukan kegiatan tersebut, masyarakat yang ingin memeluk Islam dituntun untuk mengucapkan dua kalimat syahadat atau syahadatain. Dari kata syahadatain inilah kemudian lahir istilah sekaten akibat perubahan pengucapan, sebagaimana yang juga dialami oleh suku bangsa dan komunitas lainnya di dunia.

Seiring beralihnya Demak menjadi sebuah kerajaan Islam. Demikian juga pada saat bergesernya kerajaan Islam ke ranah Mataram, serta ketika terbaginya kerajaan Islam Mataram kepada Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta, Sekaten tetap digelar sebagai warisan budaya Islam yang senantiasa berkembang dari tahun ke tahun.

Ritual Kolektif

Adalah almarhum Fazlur Rahman (1995), Bapak Neo-Modernisme Islam berkebangsaan Indo Pakistan dan berkubur di tanah pengabdian Amerika, memberi seperangkat metode bagaimana caranya membaca sebuah teks lama atau memaknai sebuah peristiwa masa lalu agar senantiasa relevan untuk masyarakat yang hidup pada miliu kontemporer. Rahman, menawarkan formula gerak ganda atau double movement dalam melakukan analisis terhadap teks lama atau peristiwa masa lalu. Dalam operasionalnya, gerak ganda masuk ke bilik-nilik masa silam, setelah dapat menggamit spiritnya, kemudian kembali ke masa sekarang untuk ditata cara pengaktulisasikannya yang sesuai dengan kondisi masyarakat sekarang.

Lantas bagaimana menafsirkan perayaan Sekaten yang relevan dengan realitas aktual kehidupan masyarakat sekarang? Mengikuti alur pemikiran Rahman, perayaan Sekaten juga dapat dimaknsai menggunakan formula gerak ganda. Sebagaimana yang terdapat di awal tulisan ini, yang mencoba memaparkan serba sekilas-sepintas tentang geneologi perayaan Sekaten, terlihat bahwa perayaan Sekaten merupakan sebuah peristiwa yang sarat makna dan berkait erat dengan konteks awalnya. Sekaligus sebuah peristiwa sosio-kultural yang sesak dengan simbol-simbol yang saling berkelindan. Berbicara tentang konteks, tentu saja tidak bisa dipisahkan dari membicarakan tentang waktu dan ruang, karena keduanya merupakan saripati dari konteks. (Piotr Sztompka, 2002: 48-51)

Mengikuti operasional gerak ganda Rahman, harus ditelusuri terlebih dahulu mengapa perayaan Sekaten digelar. Bila dicermati, perayaan Sekaten pada awalnya diadakan untuk memperingati dan memuliakan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Untuk menarik hati masyarakat luas dan supaya tidak monoton diadakan juga atraksi kesenian. Kecuali itu, hal lain yang sangat urgen adalah tersedianya ruang bagi masyarakat luas yang ingin dituntun memeluk agama Islam.

Lebih jauh, terdapatnya ruang untuk menuntun mengucapkan dua kalimat syahadat dapat dimaknai dengan tersedianya ruang yang luas bagi masyarakat untuk melakukan kolsultasi dan pengaduan berbagai persoalan kepada pemimpin atau pemerintah di lokasi tersebut. Seyogyanya di setiap perayaan Sekaten dibangun komitmen bersama untuk menghimpun dana yang dialokasikan untuk memberdayakan dan membantu rakyat miskin, tidak semata-mata sibuk berapat dan mengorganisir uang sewa tempat, uang parkir atau uang keamanan. Hal ini berbanding lurus dengan spirit yang dibawa agama Islam dan misi risalah Nabi Muhammad Saw. sendiri untuk memberikan pencerahan kepada umat manusia. Dimensi-dimensi kemanusian inilah yang sering terabaikan oleh segenap pemrakarsa dan panitia perayaan Sekaten selama ini, yang banyak mendapat hujan kritik dari berbagai kalangan.

Bisnis Pertunjukan Budaya

Hal lain yang sering mendapat kritik keras dari perayaan Sekaten—dan tentu juga dari perayaan-perayaan lainnya—adalah penonjolan aspek komersial dan kental dengan nuansa kapitalistik. Sebagaimana yang dilontarkan Umberto Eco, seorang penulis buku laris dan peminat kebudayaan yang disegani, bahwa bismis pertunjukan budaya atau kultur sebagai bisnis pertunjukan (cultur as show bisnis) lahir dari rahim dan merupakan produk masyarakat teatrikal (treatical society). Sebagai eksesnya, pertunjukan-pertunjukan kebudayaan kehilangan daya pikat dan daya pukaunya, semata-mata demi dan untuk kesenangan, serta membosankan. Hal tersebut dipantik oleh hilangnya kreativitas dan raibnya spontanitas dari para aktornya. Tidak adanya inovasi dan partisipasi warga, serta ditambah dengan ikut campurnya pengambil kebijakan yang berorientasi pada pengumpulan pundi-pundi kapital, kian menggeruskan apa yang selama ini digadang-gadang orang sebagai budaya tinggi atau budaya adiluhung. (Eco, 2004: 207-214)

Karenanya, sudah tiba waktunya para pemimpin memikirkan secara arif dan terkonsep dengan baik untuk menata ulang berbagai atraksi kesenian yang ditampilkan pada perayaan Sekaten. Menyuguhkan aneka pertunjukan, yang tidak semata-mata menghibur, tapi juga atraksi yang mencerahkan dan mencerdaskan masyarakat, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Sehingga, perayaan Sekaten sebagai sebuah peristiwa kebudayaan benar-benar bermutu dan layak dikenang. Sekaligus mencerminkan Yogyakarta sebagai kota budaya.

Sebagai pesta rakyat, perayaan Sekaten jangan jatuh sebatas slogan hampa. Sebagai ritual kolektif tahunan, perayaan Sekaten seharusnya mampu merengkuh dan direngkuh siapa saja, apalagi akhir-akhir ini warga kota ini terpecah-pecah ke dalam berbagai kekompok kepentingan dan berbagai peristiwa yang mengusik kenyamanan warga kota yang berhati nyaman ini. Tidak terkesan sebagai pertunjukan yang mengkultuskan individu atau menguntungkan segelintir orang.