Jumat, 09 Januari 2009

Orde Baru Dalam Sorotan Media Massa

Judul : Pemikiran Sosial dan Politik Indonesia Periode 1965-1999
Editor : David Bourchier dan Vedi R. Hadis
Pengantar : Prof. Dr. Taufik Abdullah
Penerbit : Freedom Institute dan Grafiti Press, Jakarta
Tebal : xliv+432 hlm (termasuk indeks)
Cetakan : I, Oktober 2006

Yusriandi Pagarah

Orde Baru dengan aktor utamanya Soeharto yang didukung militer telah jadi ladang subur bagi para akademisi dan peneliti dari dalam dan luar negeri untuk ditilik dengan berbagai persfektif. Namun membaca situasi sosial dan politik pada masa Orde Baru yang bersumber dari tulisan-tulisan tersiar, pamflet mahasiswa, manifesto serikat buruh, selebaran gelap dan dokumen-dokumen pidato politik pejabat teras negara, langka dilakukan. Salah satu kerja-kerja intelektual yang termasuk langka tersebut adalah apa yang dilakukan David Bourchier, Ketua Asian Studies University of Western Australia, bersama koleganya Vedi R. Hadis dari Departement of Sosiology National University of Singapore dan fellow Asian Research Centre, Murdoch University, Australia.

Buku yang mencoba menggeledah batang tubuh Orde Baru dari masa awal lahirnya hingga masa kejatuhannya ini dibagi ke dalam empat bagian. Bagian pertama (1965-1973) memotret silang-sengketa dalam mencari format politik orde yang baru lahir. Di dalamnya terlihat pergulatan tiga mainstream utama. Pertama, kubu organis yang menginginkan format politik yang mengakomodir kemajemukan masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau, etnis, bahasa, budaya dan agama yang berbeda. Kubu ini mengusung ideologi Pancasila sebagai jalan tengah. Peran militer yang diwakili Soeharto, Ali Moertopo dan Abdulkadir Besar, tampak dominan (hlm. 41-67).

Kubu kedua mengusung pluralisme modern sebagai ideologi negara karena sesuai dengan era modern. Dimotori ilmuan sosial yang aktif menulis di Mahasiswa Indonesia, Abadi, Berita Yudha dan Kompas. Diantaranya Soelaiman Soemardi, A. Rahman Tolleng, Soemarno dan Arief Budiman. Mereka sangat kritis terhadap kebijakan Orde Baru dan mengkritik dwifungsi ABRI (hlm. 79-103). Kontestan terakhir berasal dari kubu Islam yang merasa berjasa menganyang komunis dan menurunkan rezim Soekarno tetapi dipinggirkan Orde Baru. Idham Chalid, Buya Hamka, Nurcholish Madjid dan M.S. Mintareja, kerap menyuarakan aspirasi umat Islam melalui tulisan mereka di Harian Kami, Panjimas, Tempo dan lain sebagainya. Dengan dalih stabilitas dan transisi serta dikuatkan Supersemar dan hegemoni ABRI, kubu organis keluar sebagai kampiun (hlm. 113-123).

Bagian kedua memaparkan masa keemasan Orde Baru (1973-1988). Berbekal kemenangan legitimasi politik dan institusional, kubu organis mampu mengendalikan situasi yang bergejolak hingga mencapai kejayaan. Pada masa tersebut Orde Baru kian menancapkan kuku-kuku kekuasaannya di bumi pertiwi dengan cara menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara, membuat undang-undang tentang keormasan, menyulap partai politik dalam tiga fusi, penataran P4 dan peraturan pemerintah yang bias lainnya (hlm. 132-1550). Pada masa ini telah muncul benih-benih mosi ketidakpercayaan terhadap pemerintah. Dari kalangan pluralis lahirlah buku putih mahasiswa ITB, Petisi 1950, dan kritik YLBHI pada pemerintah yang memasukan LSM/ NGO ke dalam ormas. Sementara tokoh-tokoh teras umat Islam seperti Hasbullah Bakry, Sjafruddin Prawiranegara dan Abdurrahman Wahid, dan organisasi kemahasiswaan semisal HMI, menarik dukungannya terhadap Orde Baru. Bahkan ada yang melawan Orde Baru seperti Amir Biki (hlm. 168-207).

Bagian ketiga mengulas aneka tema media di ujung kekuasaan Orde Baru (1990-1997). Sebagai titik balik dari kebijakan Orde Baru yang hegemonik-refresif, lahirlah berbagai LSM, serikat buruh dan gerakan mahasiswa. Beriringan dengan kritisisme para politisi dan akademisi, kritikus sosial dan PRD, yang menghendaki adanya perubahan sosial. Pada masa ini berkembanglah wacana keterbukaan politik, demokratisasi, otonomi daerah, dan agenda reformasi sosio-politik tanah air. Intervensi negara dan hegemoni militer dikritik, kebebasan berpendapat, penegakan hukum dan HAM ditagih. Tulisan-tulisan visioner Gus Dur, Dawam Rahardjo, Romo Mangun bahu membahu dengan lagu heroik Iwan Fals, puisi protes Rendra dan Wiji Thukul dalam menyuarakan timpangnya realitas sosial dan bengis penguasa.

Bagian keempat menguraikan krisis politik Orde Baru dan era reformasi. Didalamnya menyigi tulisan-tulisan Amien Rais di seputar isu suksesi 1998, pemulihan martabat bangsa yang digagas LIPI, mengakhiri kedikatoran yang diusung PRD, proposal pembentukan komite rakyat Indonesia oleh mahasiswa se-Jabodetabek, reformasi total Emil Salim, awal yang baru B.J. Habibie, paradigma baru militer yang diapungkan Agus Wirahadikusumah (hlm. 371-406).

Dilihat dari sisi mana saja, buku ini patut dipertimbangkan dan layak dibaca siapa saja, untuk menilai dan mengevaluasi sepak terjang rezim Orde Baru selama tiga puluh dua tahun memegang tampuk simpul kekuasaan. Apalagi buku ini menawarkan persfektif media massa dalam menggeledah batang tubuh Orde Baru.***

Ikhtiyar Menyebar Gagasan Yang Berserak

Judul : Napak Tilas Reformasi Politik Indonesia
Pengarang : Denny J.A., Ph. D.
Penyunting : Agus Sudibyo
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Cetakan I : Agustus 2006
Tebal : xiv-387 hlm (termasuk indeks)


Yusriandi Pagarah*

Banyak pihak yang pesimis terhadap proses demokratisasi politik di Indonesia. Apalagi menjelang pelaksanaan pemilihan presiden lansung untuk pertama kalinya digelar pada tahun 2004 silam. Keraguan tersebut bukannya tak beralasan. Banyaknya persoalan politik masa lalu yang belum tuntas dan bahkan belum tersentuh sama sekali, tantangan hari ini dan prediksi masa depan yang kian suram dan rumit, membuat berbagai kalangan semakin apatis. Kentalnya politik aliran, proses politik dan pendidikan politik yang belum dewasa, mengandalkan modal politik kharismatik, dan pemilih yang belum mandiri, merupakan sisi-sisi negatif lain dan bom waktu yang siap meledakan wajah Indonesia.

Tapi rakyat Indonesia menjawab semua keraguan tersebut dengan penyelenggaraan pemilu yang demokratis dan nyaris sempurna. Tak banyak insiden yang meminta korban berdarah dan tak banyak peristiwa pilu yang mencederai proses demokrasi. Semua elemen bangsa dan dunia internasional berdecak kagum. Mereka yang pernah pesimis pun ikut bergembira. Singkat kata, Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Yusuf Kalla dikukuhkan sebagai presiden dan wakil presiden RI pertama dalam pemilihan presiden langsung.

Denny J.A., pemegang 7 rekor MURI di bidang akademis, jurnalisme dan konsultan politik, serta doktor comparatic politics dari Ohio State University Amerika Serikat ini, dengan amat baiknya mencoba merekam perjalanan berliku menjelang pemilihan presiden lansung di Indonesia tahun 2004 silam. Sekali pun kumpulan tulisan ini merupakan transkrip dialog interaktif setiap Rabu pagi di Radio Delta F.M., namun dengan kapasitas Denny J.A. sebagai host dalam talkshow tersebut mampu memperkaya persfektif kita dalam membaca dan menganalisa berbagai fenomena politik mutakhir negeri ini. Menghadirkan narasumber yang berkompeten di bidangnya.

Buku ini menyuguhkan banyak hal kepada kita perihal jalan-jalan berliku menjelang pemilihan presiden lansung, yang barangkali belum seutuhnya terakomodasi dalam televisi dan media cetak. Buku yang terdiri dari enam bab ini dibuka dengan topik “Mahkamah Konstitusi: Sebuah Monster Baru”. Menghadirkan narasumber Sultoni dari Konsorsium Reformasi Hukum Nasional tersebut sangat cemas dengan wewenangan MK yang begitu luas. Sebagai lembaga yang lahir dari spirit reformasi untuk melakukan check and balance roda pemerintahan, namun dengan kekuasaan MK yang begitu luas berpotensi menyulut konflik bersambung. MK dapat membatalkan undang-undang, membubarkan partai politik, membatalkan hasil pemilu dan menurunkan presiden dan wakil presiden terpilih. Hingga tepat sekali mengukuhkan MK sebagai “monster baru” dalam perpolitikan Indonesia (hlm.5).

Di tempat lain dicatat bahwa momentum reformasi berhasrat membatasi kewenangan DPR dan sekaligus berhasrat mengoptimalkan fungsinya sebagai lembaga eksekutif. Sebagai lembaga eksekutif yang bertugas mengontrol kinerja pemerintah dan melakukan legislasi undang-undang. Namun siapakah yang berhak mengawasi kinerja eksekutif? Telah jadi rahasia umum bahwa lembaga DPR bersama lembaga kepresidenan merupakan lahan gambut bagi persemaian berbagai tumpangan kepentingan. Para anggota dewan pun terkenal suka imbas-imbis, seperti sering bolos rapat, calo anggaran dan santernya isu KKN. Untuk meminimalisir hal tersebut maka dibuatlah undang-undang tentang susunan dan kedudukan DPR atau UU Susduk DPR. Bahkan ada pihak yang mengusulkan pembentukan lembaga recalling—suatu mekanisme yang memberikan hak untuk memecat anggota DPR sebelum berakhir masa jabatannya. Recalling bisa saja berasal dari internal parpol sendiri dan bisa juga oleh Badan Kehormatan DPR (hlm. 19 dan 23).

Persoalan darah biru politik juga disorot secara menarik dalam buku ini. Yaitu mengenai pertarungan tiga putri Bung Karno jelang pemilu tahun 2004 lalu—Megawati dengan PDIP, Rahmawati dengan Partai Pelopor dan Sukmawati dengan PNI Marhaen. Menurut diskusi dan hasil polling SMS, ketiga putri Bung Karno tersebut lebih mengedepankan nama besar Bung Karno ketimbang mewakili anasir pikiran prisma Bung Karno sendiri (hlm. 67).

Calon presiden dari kalangan militer, konversi calon presiden dari partai Golkar, presiden versi SMS, good governance, dan kembalinya politikus hitam. Konflik internal partai politik jelang pemilu, konflik internal partai calon anggota DPR, konflik internal partai politik dalam penyaringan kepala daerah, serta potensi konflik kerusuhan dalam pemilu juga didedah secara kritis dan dari berbagai perspektif. Persoalan disintegrasi dan rekonsiliasi bangsa di Aceh, Poso, Papua serta konflik horizontal pada pelbagai daerah juga disorot dengan amat baiknya. Isu terorisme dan konflik global juga tak luput disorot (hlm. 159-204).

Bila selama ini intelektual kita diramaikan dengan terbitnya catatan harian seperti catatan harian Ahmad Wahib dan catatan harian Soe Hok Gie yang fenomenal. Bahkan yang disebut terakhir telah pula diangkat ke layar lebar. Kemudian diiringi dengan penerbitan surat-surat pribadi, semisal surat-surat politik Cak Nur dengan Mohammad Roem. Diikuti penerbitan ceramah-ceramah di kampus Jalaluddin Rachmat dan komentar-komentar Cak Nur mengenai berbagai persoalan aktual bangsa setelah shalat Jumat di Paramadina. Denny J.A. telah mempublikasikan dua buku hasil thalkshow-nya di Metro TV yang diterbitkan Pustaka Sinar Harapan Jakarta, masing-masing berlabel Election Wacth dan Parliament Wacth.

Penulis produktif ini kembali mempublikasikan dua buku sekaligus hasil dialog interaktif yang dipandunya di Radio Delta F.M. dan diterbitkan oleh LKiS Yogyakarta. Ditilik dari sisi mana saja, terobosan ini layak diapresiasi. Disamping sebagai bentuk penyatuan beragam gagasan berharga yang berserak, penerbitan dialog-dialog interaktif di radio ini juga merupakan ikhtiyar untuk mendokumentasikan dan memasifkan ide-ide bernas yang bersifat lisan ke dalam tradisi tulisan.[]

*Penikmat buku, bergiat pada Forum Kajiam Lereng Merapi (For Kalem) Yogyakarta.

Pak Koes, Buku Yang Selalu Terbuka…

Judul : Menebar Budi Menuai Sahabat: Mozaik Obituari Prof. Dr.
Koesnadi Hardjasoemantri, S.H., M.L.
Penulis : Emil Salim, dkk.
Editor : M. Nasruddin Anshory Ch & Ana Nadya Abrar
Penerbit : Yayasan Koesnadi Hardjasoemantri (YKH), Jakarta
Cetakan : I, Juli 2007
Tebal : xxxiv + 301 hlm.


Yusriandi Pagarah*

Pada pagi Rabu yang cerah tanggal 7 Maret 2007 silam, masyarakat Yogyakarta dan Indonesia dikejutkan dengan berita jatuhnya pesawat terbang Garuda, Boeing 737/400 dengan nomor penerbangan GA-200 rute Jakarta-Yogyakarta pada pukul 06.57 WIB. Peristiwa tersebut terjadi di kebun kacang, 300 meter di sisi timur landasan pacu Bandara Adisucipto Yogyakarta. Pesawat naas tersebut memuat 140 penumpang dengan rincian 133 penumpang, 5 awak kabin, ditambah seorang pilot dan seorang kopilot. Sebanyak 21 penumpang dipastikan tewas dalam musibah itu. Prof. Koesnadi Hardjasoemantri atau akrab dipanggil Pak Koes, dipastikan salah satu dari 21 korban yang hangus terbakar. Kepastian tersebut didapat sekitar pukul 23.30 WIB jelang tengah malam oleh Tim Forensik Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta melalui gigi yang dicocokkan dengan dokter gigi yang biasa merawatnya.

Pak Koes adalah pahlawan sejati. Kiprahnya dimulai sejak masa kolonial. Pak Koes muda telah mengangkat senjata dan bergerilya keluar-masuk hutan di sejumlah tempat di pedalaman Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah. Karena yakin dengan jalur pendidikan, pasca kemerdekaan Pak Koes muda meninggalkan barak tentara dan memilih melanjutkan studi hukum ke UGM. Sebagai orang yang berpikiran maju, ia tak malu menuntut ilmu ke Universitas Leiden Belanda, negeri penjajah yang pernah membuyarkan mimpi masa kecilnya. Di negeri Robin van Persie, bintang muda Arsenal FC itu, Pak Koes menyelesaikan magister dan doktor spesialisasi hukum lingkungan.

Di Kota Revolusi Yogyakarta, Pak Koes muda melahirkan ide cemerlang dan terorobosan alternatif untuk masa depan bangsa, akibat dicabik-cabik bangsa kolonial. Pada tahun 1951, Pak Koes muda mencetuskan ide tentang Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) sebagai duta perguruan tinggi. Proyek PTM ini kemudian hari berganti nama menjadi Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diadopsi seluruh perguruan tinggi di Indonesia, dan pernah dipimpinnya sampai tahun 1962. Karena kian surutnya jumlah mahasiswa daerah yang kuliah di PTN pulau Jawa, baik karena kalah bersaing, tidak punya biaya atau akses, Pak Koes mencetuskan program Penelusuran Bibit Unggul Daerah (PBUD). Hal ini mencerminkan bahwa pemerataan pendidikan itu perlu. Lebih dari itu, sesungguhnya Pak Koes ingin mengatakan bahwa “orang daerah” itu juga cerdas.

Pak Koes adalah humanis par exellent. Di manapun ia ditempatkan, tak pernah ia memangkas harapan siapapun, apalagi sampai meremehkan potensi seseorang. Sewaktu menjabat Kepala Direktorat Pendidikan Tinggi, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI di Den Haag, atau Sekretaris Menteri Lingkungan Hidup, banyak pihak yang terbantu karena kebaikan hatinya. Kala menjadi Rektor UGM, ia tak malu kampus yang megah itu dijejali pedagang kaki lima. Ia tak segan menemani mahasiswa berdemo, apalagi di zaman di mana orang pelat merah tabu turun ke jalan. Kantor dan juga rumahnya, selalu terbuka bagi siapa saja, asalkan lampu terasnya masih menyala. Ia bukan tipe birokrat berkomitmen aneh, selagi bisa dipersulit mengapa dipermudah. Ia jadi rebutan mahasiswa sebagai pembimbing skripsi, tesis, dan disertasi.

Benar, Pak Koes adalah sebuah buku yang selalu terbuka. Bahkan lebih dari itu, ia adalah sebuah diskursus. Selalu terbuka untuk ditafsir ulang dan dikembangkan. Prisma pemikiran cemerlangnya yang merentang dalam berbagai aspek dan dalam berbagai forum, perlu diimplementasikan. Betul, Akang Uus kebanggaan keluarga. Betul Prof. Koes kepunyaan UGM. Tapi sebagai buku yang selalu terbuka atau sebagai diskursus, Pak Koes adalah kepunyaan dan kebanggaan siapa saja. Disaat sentimen antar perguruan tinggi memuncak, sebagai orang UGM, ia tak “malu” mengelola magister hukum UI atau membimbing disertasi di UIN Yogyakarta. Ia pun bersedia mengelola Universitas Pancasila dan Institut Sains dan Teknologi Nasional Ckini Jakarta. Baginya membangun perguruan tinggi di daerah tandus dan miskin, seperti Universitas Gunung Kidul, tak jadi soal dan malahan perlu.

Kini, kenangan bersama “sang lumrah” bagi sesiapa saja yang bersimpati pada “dia” yang lahir pada tanggal 9 Desember 1929 di Manonjaya Tasikmalaya Jawa Barat ini, akan disimpan rapi dalam etalase memori. Mungkin usia 80 tahun serasa singkat bagi seorang Pak Koes. Karena itu sepanjang hidupnya tak ada celah yang terbuang sia-sia, apalagi jadi aib diri. Sebagai sebuah diskursus, meski telah berkubur di Sawitsari, prisma pemikiran Pak Koes layak dipertimbangkan dan dikutip. Sebagai sebuah buku yang selalu terbuka, penerbitan obituari dari kerabat, kolega, dan mantan mahasiswa untuk mengenang pencetak “sang diktator” ini, patut disyukuri. Karena sosoknya adalah teladan yang jarang dijumpai, apalagi sekat-sekat arogansi intelektual, sentimen kelompok, dan tekanan spesialisasi sedang memuncak. Dan, akan lebih baik lagi bila prisma pemikirannya diterapkan demi masa depan bangsa ini.

*Kulturalis, bergiat pada Forum Kajian Lereng Merapi (For KaLeM) Jogjakarta

Gagasan Masyarakat Kitab

Yusriandi Pagarah*

Belakangan ini kita “dimanjakan” oleh berbagai tindak kekerasan dan praktik anarkisme di berbagai lini dengan beraneka motif dan modus operandi. Seakan-akan berbagai laku kriminalitas di negeri ini ada berkarung-karung dan berlapis-lapis.

Pengamalan agama atau tafsiran kitab suci yang bias diklaim sebagai pemicu beragam komplik itu. Agama dijadikan “tersangka”, dan dalam hitungan menit sebagai “terdakwa” akibat ulah pembelanya yang berwawasan sempit dan ingin benar sendiri.

Pluralisme sebagai Keniscayaan

Adalah suatu kenyataan historis yang tidak dapat disangkal bahwa bumi manusia hanya satu, sementara penghuninya terkotakan dalam berbagai suku, agama, ras, bangsa, profesi, golongan dan budaya. Membayangkan agar dalam kehidupan ini hanya terdapat satu agama, tampaknya hanya ilusi semata. Yang dibutuhkan manusia bukanlah menjadi satu dan sama dalam hal agama, tapi bagaimana menyikapi pluralitas agama dan keyakinan secara dewasa dan cerdas. Mengakui pluralisme berbanding lurus dengan sikap inklusivisme. Memandang penganut agama lain sebagai teman atau tetangga, bahkan sebagai saudara. Dari sini akan tampil interaksi sosial antaragama, keyakinan dan ideologi yang harmonis. (Ruslani, 2000: 20-21)

Dialog sangat dibutuhkan di tengah pluralisme. Dalam konteks pluralisme agama, pluralisme berkait-kelindan dengan keragaman kebertuhanan dan keyakinan, dengan menampilkan pluralisme budaya sebagai latar belakang yang menjadi basis pemahaman. (M.W. Nafis, 1998: 92). Dialog yang dialogis akan meumbuhlkan sikap terbuka dalam beragama, ramah dalam perbedaan. Juga akan mengikis mentalitas ingin benar sendiri dan bersigegas menghakimi orang lain.

Menarik sesungguhnya metafor “pintu-pintu menuju Tuhan” yang digagas almarhum Cak Nur. Sesungguhnya kita berasal dan menuju tempat yang sama, yaitu Tuhan. Jalan dan cara ke sana yang membedakan kita. Dalam persfektif filsafat ilmu Imrẻ Lakatos, Tuhan adalah hard care yang sama, sedangkan jalan dan cara mencari Tuhan yang berbeda-beda sebagai protective belt-nya.

Menuju Masyarakat Kitab

Definisi kawan dan lawan tampaknya ada dalam tradisi setiap agama, dan biasanya ditentukan secara etis, bahkan politis. Dalam agama Islam misalnya, banyak istilah teknis yang dipakai untuk mengidentifikasi diri dan orang lain dalam oposisi biner yang harus dievaluasi, seperti islam-kafir, iman-murtad, ahl al-zimmi-ahl al-harb. Dalam konteks dialog antaragama, istilah Ahl Al-Kitab sering dijadikan titik berangkat sekaligus titik fokus.

Ada beberapa masalah dalam membahas Ahl Al-Kitab sebagai kelompok agama kontemporer yang dianggap sama dengan yang dimaksud al-Qur’an. Posisi al-Qur’an terhadap Ahl Al-Kitab, bahkan pengertian siapa yang dimaksud dengan term tersebut, berkembang dalam beberapa fase. Memang ada kesepakatan bahwa istilah ini selalu ditujukan kepada kaum Yahudi dan Nasrani yang ditemui Nabi selama misi kenabiannya. Al-Qur’an pada dasarnya hanya menyinggung keyakinan dan prilaku kaum Ahl Al-Kitab yang benar-benar mengalami kontak sosial dengan Muslim awal. Sementara itu, menyamakan begitu saja kategori al-Qur’an tentang Ahl Al-Kitab dengan kaum Yahudi dan Nasrani dalam masyarakat kontemporer berarti mengabaikan realitas historis masyarakat Madinah, serta perbedaan teologis antara kaum Yahudi dan Nasrani dulu dan sekarang. (F. Esack, 2000: 198)

Namun pada dasarnya, bila ditelusuri lebih jauh lagi, pembicaraan al-Qur’an tentang Ahl Al-Kitab sangat apresiatif. Bahkan peringatan dan kecaman kepada mereka masih mengindikasikan adanya uluran tangan. Permusuhan bukan karena faktor agama, tapi lebih pada sikap eksklusif, gugusan ekonomi, dan kepentingan politik praktis. (M. Ghalib, 1998: 188-9)

Sementara itu, Mohammed Arkoun—pemikir Islam terkemuka kelahiran Aljazair yang menjadi guru besar di Universitas Sarbone Prancis—memberi pemaknaan yang lebih segar tentang term Ahl Al-Kitab, yaitu Masyarakat Kitab. Arkoun (1994) ingin keluar dari polemis dan belitan teologis yang bias. Juga ingin melampaui, passing over, pembacaan konvensional untuk mengintegrasikan berbagai aspek tradisi, tingkat realitas, metode analisis, dan cakrawala pengetahuan yang dipengaruhi paham positivisme dan terkurung oleh nalar modern yang rasis.

Ketika membicarakan Masyarakat Kitab, Arkoun menggunakan metode historis dan antropologis mengenai wahyu yang memunculkan tiga tradisi agama Semit atau Abrahamic Religions, Yahudi, Kristen dan Islam. Kedua metode itu melahirkan pemahaman baru tentang setting sejarah munculnya kitab suci dalam agama-agama wahyu. Bagi Arkoun, agama berada di tengah masyarakat dan dalam sejarah manusia, bukan di atasnya. (Ruslani, 2000: 121) Lebih jauh pembacaan Arkoun tentang Ahl Al-Kitab berimplikasi untuk mengakui komunitas agama non-Semitik Suatu tawaran yang tidak hanya bernas dan relevan dengan perkembangan zaman, tapi juga harus dikembangkan dalam tataran praksis. Agar pesan damai dan fungsi agama untuk menenangkan hati dan pikiran manusia benar-benar hadir di tengah-tengah realitas sosial masyarakat.

*Kulturalis, bergiat pada Komunitas Perairan Wacana Jogjakarta.

Opini, Bali Pos, Desember 2005

Perihal Kejahatan Menurut Durkheim

Yusriandi Pagarah*

Emile Durkheim (1858-1917), sosiolog kenamaan berkebangsaan Prancis, tentu sangat familiar di kalangan teorikus sosial dan peminat studi kebudayaan. Bahkan di antara pakar sosial dan kebudayaan, ada yang menganut mazhab Durkheimian ketika melakukan penilaian terhadap berbagai gejala sosial yang mencuat di tengah masyarakat. Kontribusi Durkheim pada ranah pengetahuan bukan sekadar karena di tangannya sosiologi menjadi sebuah disiplin ilmu yang otonom.

Seturut Tom Campbell (1994: 14, 164), sebagai teorikus masyarakat, setidaknya ada dua sumbangsih utama Durkheim. Pertama, sebagaimana halnya Thomas Hobbes, Durkheim tidak semata-mata melukiskan kehidupan sosial atau menceritakan sejarah perkembangan sosial demi kehidupan sosial atau sejarah perkembangan sosial itu sendiri. Tetapi lebih pada sumbangan teoritisnya yang memandu bagaimana kita melihat dan kemudian menilai relasi-relasi sosial di tengah masyarakat. Membaca karya-karya Durkheim tidak semata kaya dengan informasi atau penyajian bahan mentah, tetapi lebih karena ia mempersenjatai kita dengan pemahaman yang hujam mengenai fenomena sosial.

Kedua, Durkheim meyakinkan semua orang bahwa sebuah ilmu pengetahuan mengenai masyarakat dapat membantu kita dalam memecahkan pelbagai persoalan moral dan intelektual masyarakat. Ia memperkaya khazanah lokus dan habitus pengetahuan kita dalam memilah dan memilih pelbagai persoalan sosial yang ada di masyarakat. Tingkah laku dan sepak terjang manusia tidak lagi ditetak dari satu sudut pandang normatif-etis semata, yang berbuhul pada moralitas agama, norma tradisi, atau etika teologi, tetapi dapat juga diurai dari sudut pandang ilmiah.

Dua hal tersebut dapat kita inderai dari publikasi-publikasi karya teoritis Durkheim, seperti The Division of Labour (1893) yang membahas hakikat solidaritas masyarakat, Suicide (1879) yang mengulas sebab-sebab sosial seseorang melakukan bunuh diri, dan The Elementary Form of Religious Life (1912) yang memaparkan secara bernas fungsi agama pada masyarakat primitif. Kritik pedasnya terhadap para teoretikus sosial yang melakukan distansiasi tanpa prasangka pada realitas sosial laiknya seorang ilmuan, dapat dibaca dalam Rules of Sociological Method (1895).

Perihal kejahatan

Salah satu ancangan khas mantan guru besar ilmu sosial Universitas Bordeux dan profesor sosiologi Universitas Sorbonne Paris tersebut adalah teorinya tentang kejahatan. Teorinya tersebut tidak saja membuat geger kaum moralis, tetapi juga membuat para penguasa gerah bagai orang kebakaran jenggot. Durkheim mencoba membalikkan asumsi mengenai kejahatan yang dirancang teoretikus sosial atau anggapan umum yang tertanam di tengah masyarakat selama ini.

Durkheim mempertanyakan, apakah kejahatan merupakan tingkah laku menyimpang dari norma-norma masyarakat, ataukah suatu bentuk tingkah laku yang muncul sebagai produk yang dihasilkan masyarakatnya? Apakah perbuatan adalah jahat sehingga masyarakat mengutuknya, atau suatu perbuatan menjadi jahat karena masyarakat terus-menerus mengutuknya? Dengan lain perkataan, apakah masyarakat memang menjadi korban dari seseorang yang dianggap kriminal, ataukah sebaliknya, seorang kriminal adalah korban perlakuan dan sikap masyarakatnya yang memandangnya sebagai penjahat?

Intisari teori dan logika terbalik Durkheim yang relatif sederhana ini, sangat relevan dan dapat membantu kita untuk menganalisis berbagai tingkah laku menyimpang (deviant behavior) yang tak putus-putusnya dilakukan masyarakat Indonesia dewasa ini. Mengikuti logika atau alur pikir teori ini, dapat dipertanyakan juga hubungan antara tingkah laku masyarakat dengan tingkah laku para pemimpinnya. Apakah suatu kejahatan harus dilihat sebagai penyelewengan dari keinginan normatif para pemimpin, ataukah sebagai hasil sosialisasi tingkah laku empiris para pemimpinnya?

Dampak hipokrisi penguasa ini melahirkan ekses negatif yang begitu panjang dan berbahaya di tengah-tengah masyarakat. Aksi kapak merah di lampu merah adalah cermin dari penguasa yang menggarong uang negara tanpa ada proses hukum yang jelas. Lemahnya etos kerja masyarakat berbanding lurus dengan mental anggota dewan yang sering bolos dari gedung DPR atau mendekur ketika rapat tentang masayarakat yang notabene konstituennya. Maraknya illegal loging menggambarkan betapa lemahnya koordinasi antar aparat terkait atau lembaga berwenang dan begitu leluasanya praktik suap berkembang biak. Beredarnya video mesum pelajar dan mahasiswa cermin gagalnya lembaga pendidikan menjalankan fungsi profetisnya untuk mencerdaskan bangsa.

Aksi mogok buruh dan demo anarkis pekerja dipicu oleh ulah pengusaha yang ingin menang sendiri dan pemilik kapital yang abai pada kesejahteraan karyawannya. Sinisme pemeluk agama dan kelompok keagamaan belakangan ini dampak dari sibuknya pemimpin agama memikirkan dirinya sendiri atau tergoda dunia politik. Pergaulan bebas remaja yang kebablasan akibat dari gagalnya orang tua memberi teladan yang baik kepada anaknya. Maraknya tempat-tempat mesum akibat dari lemahnya kontrol sosial dari masyarakat sekitarnya (Ignas Kleden, 1999: 197).

Tesis Durkheim ini sesungguhnya juga berkoreferensi dengan—untuk tidak mengatakan menjustifikasi—hasil penelitian Unicef tentang tindak kekerasan di tiga daerah, yaitu Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan yang dirilis di penghujung tahun lalu. Dalam laporannya, lembaga internasional tersebut menunjuk orang tua dan guru yang paling banyak melakukan tindakan kekerasan. Dengan lain perkataan, tindak kekerasan di negeri ini diturunkan dari atas. Prilaku masyarakat merupakan cermin dari prilaku penguasa. Air cucuran atap jatuhnya tidak jauh dari belanga. Guru kencing berdiri murid kencing berlari.

Bila lingkaran setan ini tidak segera dipungkasi, akan melahirkan praktik-praktik penyimpangan yang akan memakan ongkos sosial yang lebih mahal. Juga akan melahirkan berbagai efek negatif yang meresahkan masyarakat. Suatu hal yang sesungguhnya telah menjadi kegelisahan Durkheim dalam karya-karya teoritisnya yang kini terbilang klasik itu. Namun tetap relevan dirujuk untuk menyigi aneka fenomena sosial akut saat ini.***

*Kulturalis, bergiat pada Komunitas Perairan Wacana Jogjakarta

Opini,Sinar Harapan, 2006

Gigil Desember

Yusriandi Pagarah


hujan tutup tahun melumat
koran-koran alas sajadah
tenggelamkan situs-situs sejarah
idul adha tertambat di pepokok aur
belakang kontrakan


hujan tutup tahun menghapus
sisa amis darah penderma
raib bersama gigil desember
yang gugup dengan wajahnya sendiri


hujan tutup tahun mengganas
memeras tiap tetes yang bersisa
sedang aku bagai hewan qurban
yang gagal dijegal
karena influenza


//Gg. Gading-Sapen, 311306, 09:56 am

Waktu Berpahat Kelu Batu

Yusriandi Pagarah


I

Sisa bara siang dibasuh angin sore yang kelu. Bayang-bayang pasi bergelantungan di dahan-dahan ranggas akasia. Senja yang pikun berpendar membiakkan pekat malam. Ah, serasa tambah panjang saja malam berderai ini. Serasa makin lebar saja retak cermin meja rias itu.

Genit ingatan berbalik ke bilik lama yang sempat terekam:
Ia hantarkan salam bersama debaran jantung bergemuruh. Ia kuatkan nyali mengetuk pintu. Hingga tiga kali. Sambil ditirakatinya pelan sebuah nama. Langkah berat terdengar diseret ke daun pintu penuh kenangan. “Cari siapa, Dik”, tanya lelaki itu tanpa basa-basi.

Tapi perempuan itu malahan kabur melewati perpustakaan yang sepi pengunjung. Tak pernah lagi ia menoleh ke belakang. Sepeninggalnya, lelaki itu terus mengumpat dalam hati, “ada-ada saja yang menganggu lelapku”. Sambil bersungut-sungut ia rekat kembali sepotong mimpi yang terbengkalai. Waktu itu matahari baru sepenggalah. Sore hari terbesit berita: rupanya perempuan itu dikerjain kakak kelasnya.

Pertemuan pertama yang tak bernama!

II

Kala itu ufuk barat ditemani cahaya langit sore keemasan. Pijar musim kemarau membias ke danau-danau yang mulai kerontang. Juga tasik-tasik yang jarang disiang. Retak-retak tanah membuat cemas rerombongan semut menyeberangi perlintasan. Daun-daun berguguran mengerumuni pepokoknya. Kuartet debu dan kabut jumpalitan menyerbu kerongkongan. Ah, makin sempit saja ruang. Makin jauh saja tanah harapan.

Genit ingatan berbalik ke bilik lama yang sempat terekam:
Laki-laki itu masuk dari arah gerbang. Bergegas menemui ranjang derit masa remaja. Kangen pada kasur berkepinding. Juga bantal tak bersarung berhias peta-peta dunia. Sebelum langkah kaki menjangkau teras, sebelum tangan merengkuh pintu kenangan, perempuan bersuara sopran memanggilnya. Bersama temannya yang berkacamata berlomba mengabitkan tangan ke lelaki itu.

Dua perempuan itu lantas memberondongnya dengan beragam pertanyaan. Pertanyaan yang tak sempat dipikirkannya. Juga tak pernah ia jawab. Dua perempuan itu terus menodongnya dengan beragam pertanyaan. Sampai lelaki itu menyerah. Sampai sariawan. Lalu dibuat kesepakatan hitam di atas putih: lelaki itu akan menemui sahabat kedua perempuan itu malam itu juga.

Seisi langit mencibir gelagat lelaki itu:
“Tumben ia jantan berikrar menyelesaikan kusut persoalan. Tak biasanya ia tertarik dengan ihwal remeh-temeh itu. Jangan-jangan ada cacing dalam perutnya.”

III

Saat malam berselimut kelam. Saat waktu belum larut dalam pelukan liar malam. Ia temui perempuan yang tak sempurna disimpannya dalam etalase memori. Mereka bertemu di ruangan sesak meja dan kursi: ruangan dimana ia pernah diadili dua kali di masa puber. Karena mendapat kiriman surat romantis dan photo seksi perempuan.

Ia pandangi perempuan itu sejenak. Wajah perempuan itu bersemu merah dalam balutan mukena. Lelaki itu memulai pembicaraan. Berbasa-basi. Tapi di tengah perjalanan perempuan itu mengambil kendali. Lelaki itu berusaha menjadi pendengar yang baik saja.

Sesekali lelaki itu mencoba mengutuk waktu. “Tak adil” rutuknya.
Di lain detik diam-diam ia takar perempuan di hadapannya. Berbekal pengetahuan yang dipungutnya di sepanjang perjalanan.
“Oh, ini pas menilainya dengan teori Jung!”
“Kalau yang ini cocok dengan ancangan Freud!”
“Salah, yang benar dengan paham Sartre!”
“Sesuai dengan pandangan Kierkergard ‘lah!”
“Dengan Niezche, tahu!”
Semua pustaka pengetahuan dibentangnya.
Tapi tetap saja gagal menamainya sebagai apa!?

IV

Ada saatnya lelaki itu berbinar. Mengeja huruf demi huruf surat dari perempuan itu. Ia geli sendiri melihat tanda kutip dan tanda petik yang ditaruh serampangan. Juga selingan bahasa asing yang bising. Kadang lelaki itu suka usil dengan imajinasinya sendiri. Membayangkan bagaimana susahnya perempuan itu menata hati dan merangkai kata. Juga berapa kertas yang habis disobeknya supaya terlihat sempurna. Tulisan tangan imut-imut penulisnya dan cita-cita seindah pelangi ciptaan Tuhan, paling sering dikenangnya.

Surat kedua dan ketiga dari perempuan itu diterima lelaki itu sebelum senja mengurung kota. Betapa riangnya lelaki itu menerima potret perempuan itu. Lalu potret perempuan itu dipajang di meja belajar. Di samping potret pujaan hati dan potret adik perempuan semata wayangnya.

Setelah puas membaca surat perempuan itu, sebuah ihwal membuatnya tercenung:
“Masih ada orang yang resah dirinya disimpan seseorang.”

V

Suatu senja tanpa terang bulan dan kerdipan gemintang. Udara sesak seperti hendak turun hujan. Mengenang hujan, lelaki itu langsung riang. Sudah lama ia tak menikmati hujan. Sering lelaki itu berang pada langit tanah seberang. Bedebah, apa tanah di sini tidak kangen dibelai hujan! Tapi langit tak kunjung mengejan hujan. Lelaki itu pun mengalah. Mengancing jendela dan menutup tambo pengharapan.

Lalu lelaki itu menulis surat kepada empunya malam:
“Ada waktu untuk merenda dan ada waktu untuk merobek. Namun apa yang harus direnda dan apa yang harus dirobek. Toh tidak ada yang harus direnda karena tidak ada yang robek. Juga tak ada yang mesti dirobek karena memang tak ada yang pernah direnda.”

Waktu pun berpahat di kelu batu.

//Tamansari-Ngampilan, 08 Desember 2006