Siapa yang tidak mengenal Napoleon Bonaparte, seorang Jendral dan Kaisar Prancis yang tenar kelahiran Ajaccio, Corsica 1769. Namanya terdapat dalam urutan ke-34 dari Seratus Tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah yang ditulis oleh Michael H. Hart.
Sebagai seorang yang berkuasa dan berdaulat penuh terhadap negara Prancis sejak Agustus 1793, seharusnya ia merasa puas dengan segala apa yang telah diperolehnya itu.
Tapi rupanya kemegahan dunia belum bisa memuaskan batinnya, agama yang dianutnya waktu itu ternyata tidak bisa membuat Napoleon Bonaparte merasa tenang dan damai.
Akhirnya pada tanggal 02 Juli 1798, 23 tahun sebelum kematiannya ditahun 1821, Napoleon Bonaparte menyatakan ke-Islamannya dihadapan dunia Internasional.
Apa yang membuat Napoleon ini lebih memilih Islam daripada agama lamanya, Kristen?
Berikut penuturannya sendiri yang pernah dimuat dimajalah Genuine Islam, edisi Oktober 1936 terbitan Singapura.
“I read the Bible; Moses was an able man, the Jews are villains, cowardly and cruel. Is there anything more horrible than the story of Lot and his daughters ?”
“The science which proves to us that the earth is not the centre of the celestial movements has struck a great blow at religion. Joshua stops the sun ! One shall see the stars falling into the sea… I say that of all the suns and planets,…”
“Saya membaca Bible; Musa adalah orang yang cakap, sedang orang Yahudi adalah bangsat, pengecut dan jahat. Adakah sesuatu yang lebih dahsyat daripada kisah Lut beserta kedua puterinya ?” (Lihat Kejadian 19:30-38)
“Sains telah menunjukkan bukti kepada kita, bahwa bumi bukanlah pusat tata surya, dan ini merupakan pukulan hebat terhadap agama Kristen. Yosua menghentikan matahari (Yosua 10: 12-13). Orang akan melihat bintang-bintang berjatuhan kedalam laut…. saya katakan, semua matahari dan planet-planet ….”
Selanjutnya Napoleon Bonaparte berkata:
“Religions are always based on miracles, on such things than nobody listens to like Trinity. Yesus called himself the son of God and he was a descendant of David. I prefer the religion of Muhammad. It has less ridiculous things than ours; the turks also call us idolaters.”
“Agama-agama itu selalu didasarkan pada hal-hal yang ajaib, seperti halnya Trinitas yang sulit dipahami. Yesus memanggil dirinya sebagai anak Tuhan, padahal ia keturunan Daud. Saya lebih meyakini agama yang dibawa oleh Muhammad. Islam terhindar jauh dari kelucuan-kelucuan ritual seperti yang terdapat didalam agama kita (Kristen); Bangsa Turki juga menyebut kita sebagai orang-orang penyembah berhala dan dewa.”
Selanjutnya:
“Surely, I have told you on different occations and I have intimated to you by various discourses that I am a Unitarian Musselman and I glorify the prophet Muhammad and that I love the Musselmans.”
“Dengan penuh kepastian saya telah mengatakan kepada anda semua pada kesempatan yang berbeda, dan saya harus memperjelas lagi kepada anda disetiap ceramah, bahwa saya adalah seorang Muslim, dan saya memuliakan nabi Muhammad serta mencintai orang-orang Islam.”
Akhirnya ia berkata:
“In the name of God the Merciful, the Compassionate. There is no god but God, He has no son and He reigns without a partner.”
“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tiada Tuhan selain Allah. Ia tidak beranak dan Ia mengatur segala makhlukNya tanpa pendamping.”
Napoleon Bonaparte mengagumi AlQuran setelah membandingkan dengan kitab sucinya, Alkitab (Injil). Akhirnya ia menemukan keunggulan-keunggulan Al-Quran daripada Alkitab (Injil), juga semua cerita yang melatar belakanginya.
Referensi:
1. Memoirs of Napoleon Bonaparte by Louis Antoine Fauvelet de Bourrienne edited by R.W. Phipps. Vol. 1 (New York: Charles Scribner’s Sons, 1889) p. 168-169.
http://chnm.gmu.edu/revolution/d/612/
2. ‘Napoleon And Islam’ by C. Cherfils. ISBN: 967-61-0898-7
http://www.shef.ac.uk/~ics/whatis/articles/napoleon.htm
3. Satanic Voices - Ancient and Modern by David M. Pidcock, (1992 ISBN: 1-81012-03-1), it states on page 61, that the then official French Newspaper, Le Moniteur, carried the accounts of his conversion to Islam, in 1798 C.E
source : http://www.kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=56
Sabtu, 10 Januari 2009
Pengantar Dari Penerbit
Imajinasi seorang penyair seringkali berangkat dari sebuah kontemplasi yang hujam, pengalaman yang berbekas, percintaan yang pupus, atau kondisi yang sama sekali absurd. Kemudian, latar yang beragam itu—menurut pendapat para pengamat sastra—diracik sang penyair ke dalam jalinan cerita yang menjadikan bahasa sebagai bahan bakunya. Bahasa dijadikan medium penyampai berbagai pesan, gagasan, pendapat, dan protes dari seorang penyair.
Tanah Airku Melayu, kumpulan puisi tunggal kedua Bung Fakhrunnas MA Jabbar ini, kian mengukuhkan tesis di atas. Namun bagi penyair ini, cintanya yang begitu mendalam pada Tanah Melayu, tak perlu sampai taraf “cinta buta” yang menganulir akal sehat. Tragedi-tragedi memilukan di tanah kelahirannya, tak sedikit pun membuatnya terpancing ikut melakukan tindakan-tindakan tak beradab, demi menegakkan marwah dan tuah Tanah Melayu. Malahan, tragedi demi tragedi yang menimpa “rumah tempat rindunya berpaut” itu, kian memompanya untuk lebih produktif lagi menciptakan karya-karya sastra berlatar Tanah Melayu.
Kumpulan puisi Tanah Airku Melayu, dibagi ke dalam tiga bagian. Pertama, tentang pengabdian diri. Puisi Rimba Beton, Kusukai Sakaiku, Doa Orang-orang Bendungan, dan Selamat Pagi, Tuan Takagawa, merupakan protes sang penyair pada pihak-pihak yang tidak tulus membhaktikan dirinya, sehingga korban banyak berjatuhan.
Bagian kedua merupakan perenungan penyair terhadap berbagai fenomena ganjil yang melanda tanah kelahirannya. Penyair ini tidak ragu-ragu menunjuk pencemaran laut dan penebangan hutan sebagai biang kerok dari semua itu. Hal ini terbaca dalam puisi Ketika Banjir Menyapa, Bapakku Hutan, Ibuku Laut yang Kini Terluka, Kering, dan Dalam Kabut.
Ketiga, penyerahan jiwa. Bila pada bagian sebelumnya lebih pada tema-tema universal dan humanity, maka pada bagian ketiga ini lebih kental nuansa religiusitasnya. Hal ini, misalnya, dapat dibaca dalam puisi Sepotong Daging, Dari Alif Ba Ta ke Tahajjud, Walau Maut Menjemput, Ramadhan in Manila, Purnama Jatuh di Nabawi, dan Lelaki yang Berputar di Pelataran Ka’bah.
Dengan lain perkataan, dalam kumpulan puisi Bung Fakhrunnas MA Jabbar ini, terdapat sebuah benang merah betapa pentingnya manusia menjaga keseimbangan tiga hal untuk mencapai harmoni dalam hidupnya, yaitu menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, hidup selaras dengan alam, dan beribadah kepada Tuhan.
Akhir kata, terima kasih kepada Bung Fakhrunnas MA Jabbar, yang telah mempercayakan penerbitan kumpulan puisi tunggal keduanya ini kepada Penerbit AdiCita Karya Nusa Yogyakarta. Kepada segenap pembaca, kami ucapkan selamat membaca. Semoga kumpulan puisi ini dapat menjadi inspirasi dan teladan dalam mengekspresikan cinta kepada tanah asal.
Yogyakarta, 19 Maret 2008
Yusriandi Pagarah
*Pengantar dari penerbit untuk Buku Puisi Tanah Airku Melayu karangan Fahrunnas M.A. Jabbar
Tanah Airku Melayu, kumpulan puisi tunggal kedua Bung Fakhrunnas MA Jabbar ini, kian mengukuhkan tesis di atas. Namun bagi penyair ini, cintanya yang begitu mendalam pada Tanah Melayu, tak perlu sampai taraf “cinta buta” yang menganulir akal sehat. Tragedi-tragedi memilukan di tanah kelahirannya, tak sedikit pun membuatnya terpancing ikut melakukan tindakan-tindakan tak beradab, demi menegakkan marwah dan tuah Tanah Melayu. Malahan, tragedi demi tragedi yang menimpa “rumah tempat rindunya berpaut” itu, kian memompanya untuk lebih produktif lagi menciptakan karya-karya sastra berlatar Tanah Melayu.
Kumpulan puisi Tanah Airku Melayu, dibagi ke dalam tiga bagian. Pertama, tentang pengabdian diri. Puisi Rimba Beton, Kusukai Sakaiku, Doa Orang-orang Bendungan, dan Selamat Pagi, Tuan Takagawa, merupakan protes sang penyair pada pihak-pihak yang tidak tulus membhaktikan dirinya, sehingga korban banyak berjatuhan.
Bagian kedua merupakan perenungan penyair terhadap berbagai fenomena ganjil yang melanda tanah kelahirannya. Penyair ini tidak ragu-ragu menunjuk pencemaran laut dan penebangan hutan sebagai biang kerok dari semua itu. Hal ini terbaca dalam puisi Ketika Banjir Menyapa, Bapakku Hutan, Ibuku Laut yang Kini Terluka, Kering, dan Dalam Kabut.
Ketiga, penyerahan jiwa. Bila pada bagian sebelumnya lebih pada tema-tema universal dan humanity, maka pada bagian ketiga ini lebih kental nuansa religiusitasnya. Hal ini, misalnya, dapat dibaca dalam puisi Sepotong Daging, Dari Alif Ba Ta ke Tahajjud, Walau Maut Menjemput, Ramadhan in Manila, Purnama Jatuh di Nabawi, dan Lelaki yang Berputar di Pelataran Ka’bah.
Dengan lain perkataan, dalam kumpulan puisi Bung Fakhrunnas MA Jabbar ini, terdapat sebuah benang merah betapa pentingnya manusia menjaga keseimbangan tiga hal untuk mencapai harmoni dalam hidupnya, yaitu menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, hidup selaras dengan alam, dan beribadah kepada Tuhan.
Akhir kata, terima kasih kepada Bung Fakhrunnas MA Jabbar, yang telah mempercayakan penerbitan kumpulan puisi tunggal keduanya ini kepada Penerbit AdiCita Karya Nusa Yogyakarta. Kepada segenap pembaca, kami ucapkan selamat membaca. Semoga kumpulan puisi ini dapat menjadi inspirasi dan teladan dalam mengekspresikan cinta kepada tanah asal.
Yogyakarta, 19 Maret 2008
Yusriandi Pagarah
*Pengantar dari penerbit untuk Buku Puisi Tanah Airku Melayu karangan Fahrunnas M.A. Jabbar
Muhammad dalam Sastra Goethe
Taufik Munir*
Adakah kata-kata yang lebih mengabadi selain syair atau puisi? Banyak kata yang dimuntahkan filsuf, pemikir atau nabi, namun —setelah kitab suci— syair selalu menjadi media komunikasi antargenerasi yang paling efektif. Ini dibuktikan oleh pencipta syair, yang meskipun mereka sudah tiada namun karyanya tetap berbicara, senandungnya senantiasa mendengung, kepak sayap syairnya selalu mendarat di telinga pendengarnya.
Van Goethe, penyair Jerman terkemuka abad-18 yang karyanya mengabadi hingga kini, berhasil merekam kemunculan Muhammad yang dianggapnya sebagai ‘seorang promotor revolusi sosial yang membawa nilai keadilan dan persaudaraan’. Kata-kata Muhammad begitu bertuah, siapa mendengarnya berbicara, kawan dan lawan akan tunduk membenarkan. Muhammad melebihi semua penyair dan raja yang mendahuluinya. Ketika Muhammad mengibarkan panji Quran, Goethe dengan lantang mengakui: "Kitab ini akan tetap mendapat tempat melampaui seluruh masa dan mempunyai pengaruh yang kuat."
Goethe sendiri terpengaruh. Bukan hanya pada seorang Muhammad, tapi juga pada sastra timur yang dikaguminya itu. Akhirnya pada 1771 dan 1772, ia berinteraksi langsung pada Alquran dan mulai fasih berbicara dengan Islam dan Muhammad. Sampai-sampai sebagian pemikir Jerman menganggapnya benar-benar masuk Islam, karena tulisannya yang banyak memuja nabi umat Islam itu. Tak aneh jika lantas mereka menuduh Goethe ‘punya hubungan khusus’, lebih dari sekadar hubungan pribadi dengan Muhammad.
Terbukti pada tahun yang sama, Alquran berhasil diterjemahkan oleh Frederich Megerlin ke dalam bahasa Jerman dan untuk pertama kalinya terbit. Reaksinya begitu cepat, salah satu halaman edisi ‘kritikus sastra Frankfurt’ memuat kritik tematis terhadap pusat penerjemahan Alquran itu. Dilihat dari gaya bahasa dan cara pengungkapannya, penulis yang protes itu ternyata Goethe.
Protes gencar tersebut membuktikan, Goethe secara eksplisit mengikrarkan diri pada kekecewaannya terhadap penerjemahan yang serampangan itu. Barangkali karena Goethe punya persepsi lain tentang Alquran, jauh lebih banyak dari gambaran yang diungkapkan penerjemah itu. Terlebih lagi Megerlin menulis tentang Alquran dan Nabi tidak dengan sebenarnya.
Goethe begitu intens mempelajari bahasa dan sastra Arab, baik yang tertulis dalam antologi karya sastranya atau buku ilmiah yang ia tulis. Salah satu bukunya West-Ostlicher Divan yang berarti Sastra Timur Oleh Pengarang Barat, sebagai contoh. Selain ditulis dalam bahasa Jerman, juga ditulis teks Arabnya Al-Diwan Al-Sharq Li Al-Mu’allif Al-Gharbi. Demikian juga dengan judul puisi yang ia tulis, hampir semuanya berbahasa Arab. Maka tak heran hampir di tiap karya Goethe akan ditemukan judul seperti: Moganni Nameh yang berarti Al-Mughanni (Sang Penyanyi), Uschk Name yang berarti kitab Al-’Usyq (bab cinta), Tefkir Nameh yang asalnya kitab al-Tafkir (bab perenungan), dan ratusan judul yang berbau Arab lainnya.
Penulis mencoba menulis apa yang dikatakan Goethe dalam semua karyanya itu. Dalam salah satu pasal khusus berjudul Mohammad berbentuk prosa, Goethe memulai ceritanya tentang kemunculan seorang nabi akhir zaman: "Saat kita berkontemplasi, kita terbiasa melihat sesuatu dengan pola pandang sastra, atau --setidaknya— kita merujuk ke sana. Namun yang juga relevan dengan tujuan kita sejak pertama adalah memberi pengkabaran tentang tokoh yang luar biasa itu --seperti yang ia umumkan sendiri dan menegaskan dengan pasti— bahwa ia hanyalah seorang Nabi, dan ini berarti, Goethe tidak merasa puas dengan menyebutkan keagungan dan kekuatan pribadi Muhammad pada syair dalam antologi itu. Bahkan ia seolah ingin menegaskan keyakinannya pada keagungan pribadi Sang Nabi, tanpa harus diletakkan pada tabir fantasisme syair atau dialogisme drama.
Untuk penegasannya itu, dalam halaman yang lain, Goethe menjelaskan lebih jauh tentang perbedaan antara Nabi dan Penyair. Kata Goethe: "Kalau kita ingin memberi batas pembeda antara seorang penyair dan Nabi, jelas kita akan jawab bahwa keduanya inspirasi Tuhan dan dalam perlindungan Nya."
Seorang penyair pasti dihibahkan Tuhan dengan rasa nikmat tiada tara dan berupaya mengekspresikan ekstasisme syair itu sedemkian rupa, sehingga berhasil menjadi suatu keindahan yang berlipat-lipat dan itu berarti akan mengenyampingkan motivasi lain.
Sementara, seorang nabi tidak demikian. Ia tidak akan pernah melihat kecuali pada suatu posisi mata bidikan tertentu, selalu menggunakan segala fasilitas untuk mencapai tujuannya dengan cara termudah. Nabi selalu ingin menunjukkan suatu keyakinan tertentu, mengorganisasi semua bangsa di sekitarnya, seolah bermimpi tengah menggenggam dunia dalam satu panji. Untuk tujuan ini, seorang nabi ingin dunia rela bahwa ia seakan tengah menjejaki langkah dalam satu nada. (West-Ostclicher Divan).
Jika kita mencoba untuk meninggalkan antologi Goethe barang sejenak, kemudian beralih pada sebagian karya Goethe yang lain, serta merata kita akan menemukan keberanian langka yang dimiliki Goethe saat ia menyatakan: "Bagaimana pun saya tidak akan pernah mampu melihat bahwa Muhammad seorang penipu." —Gesammelte Werke (Dichtung und Wahreit) 6/600.
Terlebih lagi ada berbagai macam saksi yang menunjukkan, di balik keyakinan Goethe terdapat akar masa silam yang menyemburat dalam benaknya, membentang dari empat puluh tahun perjalanan hidupnya saat ia merintis karya tulis tentang ‘Muhammad’ untuk teater yang tak pernah rampung hingga 1773.
Upaya menulis karya teater itu disebutkan dalam sebuah buku hariannya: "Sebelumnya aku sudah membaca kehidupan Nabi dari Timur itu dalam waktu singkat dan kupelajari dengan hati-hati, karena itu aku merasa siap ketika ide itu muncul". Dari pengakuannya ini, berarti tokoh ini telah membentuk keyakinan terhadap Nabi umat Islam itu sejak sekitar 1772, yaitu sebelum ia mulai menulis karya teater, dan ternyata berkelanjutan terus hingga buku Dichtung und Wahreit itu diterbitkan antara 1811-1814.
Dengan kata lain, cetakan kedua buku tersebut dimulai beberapa saat sebelum ia meninggal dunia, justru terbit setelah ia meninggal yaitu pada 1831-1833 tanpa perubahan sedikit pun dari yang ditulisnya tentang Nabi mulia itu. Dengan analisis tambahan ini dapat kita simpulkan: keyakinannya pada kenabian Muhammad terus berlanjut sekitar 60 tahun hingga ia meninggal pada 1832.
Untaian kalimat indah dari sang Nabi: "Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan para Nabi sebelumku bagaikan seorang laki-laki yang membangun sebuah rumah. Ia memperbagus dan mempercantik rumah itu kecuali satu tempat batu bata di sebelah pojok. Rumah itu membuat orang-orang takjub dan berputar mengelilingi dan memujanya. Lantas mereka berkata: Mengata tidak engkau letakkan batu bata ini?"
Jawab Muhammad: "Akulah batu bata itu. Dan akulah penutup segala Nabi." (Ibnu Hajar Al-Asqalani: 43/14).
*Mahasiswa Filsafat Universitas Al-Azhar, Kairo (E-mail: religiusta@softhome.net)
Sumber: http://www.rumahdunia.net/wmview.php?ArtID=404&page=2
Adakah kata-kata yang lebih mengabadi selain syair atau puisi? Banyak kata yang dimuntahkan filsuf, pemikir atau nabi, namun —setelah kitab suci— syair selalu menjadi media komunikasi antargenerasi yang paling efektif. Ini dibuktikan oleh pencipta syair, yang meskipun mereka sudah tiada namun karyanya tetap berbicara, senandungnya senantiasa mendengung, kepak sayap syairnya selalu mendarat di telinga pendengarnya.
Van Goethe, penyair Jerman terkemuka abad-18 yang karyanya mengabadi hingga kini, berhasil merekam kemunculan Muhammad yang dianggapnya sebagai ‘seorang promotor revolusi sosial yang membawa nilai keadilan dan persaudaraan’. Kata-kata Muhammad begitu bertuah, siapa mendengarnya berbicara, kawan dan lawan akan tunduk membenarkan. Muhammad melebihi semua penyair dan raja yang mendahuluinya. Ketika Muhammad mengibarkan panji Quran, Goethe dengan lantang mengakui: "Kitab ini akan tetap mendapat tempat melampaui seluruh masa dan mempunyai pengaruh yang kuat."
Goethe sendiri terpengaruh. Bukan hanya pada seorang Muhammad, tapi juga pada sastra timur yang dikaguminya itu. Akhirnya pada 1771 dan 1772, ia berinteraksi langsung pada Alquran dan mulai fasih berbicara dengan Islam dan Muhammad. Sampai-sampai sebagian pemikir Jerman menganggapnya benar-benar masuk Islam, karena tulisannya yang banyak memuja nabi umat Islam itu. Tak aneh jika lantas mereka menuduh Goethe ‘punya hubungan khusus’, lebih dari sekadar hubungan pribadi dengan Muhammad.
Terbukti pada tahun yang sama, Alquran berhasil diterjemahkan oleh Frederich Megerlin ke dalam bahasa Jerman dan untuk pertama kalinya terbit. Reaksinya begitu cepat, salah satu halaman edisi ‘kritikus sastra Frankfurt’ memuat kritik tematis terhadap pusat penerjemahan Alquran itu. Dilihat dari gaya bahasa dan cara pengungkapannya, penulis yang protes itu ternyata Goethe.
Protes gencar tersebut membuktikan, Goethe secara eksplisit mengikrarkan diri pada kekecewaannya terhadap penerjemahan yang serampangan itu. Barangkali karena Goethe punya persepsi lain tentang Alquran, jauh lebih banyak dari gambaran yang diungkapkan penerjemah itu. Terlebih lagi Megerlin menulis tentang Alquran dan Nabi tidak dengan sebenarnya.
Goethe begitu intens mempelajari bahasa dan sastra Arab, baik yang tertulis dalam antologi karya sastranya atau buku ilmiah yang ia tulis. Salah satu bukunya West-Ostlicher Divan yang berarti Sastra Timur Oleh Pengarang Barat, sebagai contoh. Selain ditulis dalam bahasa Jerman, juga ditulis teks Arabnya Al-Diwan Al-Sharq Li Al-Mu’allif Al-Gharbi. Demikian juga dengan judul puisi yang ia tulis, hampir semuanya berbahasa Arab. Maka tak heran hampir di tiap karya Goethe akan ditemukan judul seperti: Moganni Nameh yang berarti Al-Mughanni (Sang Penyanyi), Uschk Name yang berarti kitab Al-’Usyq (bab cinta), Tefkir Nameh yang asalnya kitab al-Tafkir (bab perenungan), dan ratusan judul yang berbau Arab lainnya.
Penulis mencoba menulis apa yang dikatakan Goethe dalam semua karyanya itu. Dalam salah satu pasal khusus berjudul Mohammad berbentuk prosa, Goethe memulai ceritanya tentang kemunculan seorang nabi akhir zaman: "Saat kita berkontemplasi, kita terbiasa melihat sesuatu dengan pola pandang sastra, atau --setidaknya— kita merujuk ke sana. Namun yang juga relevan dengan tujuan kita sejak pertama adalah memberi pengkabaran tentang tokoh yang luar biasa itu --seperti yang ia umumkan sendiri dan menegaskan dengan pasti— bahwa ia hanyalah seorang Nabi, dan ini berarti, Goethe tidak merasa puas dengan menyebutkan keagungan dan kekuatan pribadi Muhammad pada syair dalam antologi itu. Bahkan ia seolah ingin menegaskan keyakinannya pada keagungan pribadi Sang Nabi, tanpa harus diletakkan pada tabir fantasisme syair atau dialogisme drama.
Untuk penegasannya itu, dalam halaman yang lain, Goethe menjelaskan lebih jauh tentang perbedaan antara Nabi dan Penyair. Kata Goethe: "Kalau kita ingin memberi batas pembeda antara seorang penyair dan Nabi, jelas kita akan jawab bahwa keduanya inspirasi Tuhan dan dalam perlindungan Nya."
Seorang penyair pasti dihibahkan Tuhan dengan rasa nikmat tiada tara dan berupaya mengekspresikan ekstasisme syair itu sedemkian rupa, sehingga berhasil menjadi suatu keindahan yang berlipat-lipat dan itu berarti akan mengenyampingkan motivasi lain.
Sementara, seorang nabi tidak demikian. Ia tidak akan pernah melihat kecuali pada suatu posisi mata bidikan tertentu, selalu menggunakan segala fasilitas untuk mencapai tujuannya dengan cara termudah. Nabi selalu ingin menunjukkan suatu keyakinan tertentu, mengorganisasi semua bangsa di sekitarnya, seolah bermimpi tengah menggenggam dunia dalam satu panji. Untuk tujuan ini, seorang nabi ingin dunia rela bahwa ia seakan tengah menjejaki langkah dalam satu nada. (West-Ostclicher Divan).
Jika kita mencoba untuk meninggalkan antologi Goethe barang sejenak, kemudian beralih pada sebagian karya Goethe yang lain, serta merata kita akan menemukan keberanian langka yang dimiliki Goethe saat ia menyatakan: "Bagaimana pun saya tidak akan pernah mampu melihat bahwa Muhammad seorang penipu." —Gesammelte Werke (Dichtung und Wahreit) 6/600.
Terlebih lagi ada berbagai macam saksi yang menunjukkan, di balik keyakinan Goethe terdapat akar masa silam yang menyemburat dalam benaknya, membentang dari empat puluh tahun perjalanan hidupnya saat ia merintis karya tulis tentang ‘Muhammad’ untuk teater yang tak pernah rampung hingga 1773.
Upaya menulis karya teater itu disebutkan dalam sebuah buku hariannya: "Sebelumnya aku sudah membaca kehidupan Nabi dari Timur itu dalam waktu singkat dan kupelajari dengan hati-hati, karena itu aku merasa siap ketika ide itu muncul". Dari pengakuannya ini, berarti tokoh ini telah membentuk keyakinan terhadap Nabi umat Islam itu sejak sekitar 1772, yaitu sebelum ia mulai menulis karya teater, dan ternyata berkelanjutan terus hingga buku Dichtung und Wahreit itu diterbitkan antara 1811-1814.
Dengan kata lain, cetakan kedua buku tersebut dimulai beberapa saat sebelum ia meninggal dunia, justru terbit setelah ia meninggal yaitu pada 1831-1833 tanpa perubahan sedikit pun dari yang ditulisnya tentang Nabi mulia itu. Dengan analisis tambahan ini dapat kita simpulkan: keyakinannya pada kenabian Muhammad terus berlanjut sekitar 60 tahun hingga ia meninggal pada 1832.
Untaian kalimat indah dari sang Nabi: "Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan para Nabi sebelumku bagaikan seorang laki-laki yang membangun sebuah rumah. Ia memperbagus dan mempercantik rumah itu kecuali satu tempat batu bata di sebelah pojok. Rumah itu membuat orang-orang takjub dan berputar mengelilingi dan memujanya. Lantas mereka berkata: Mengata tidak engkau letakkan batu bata ini?"
Jawab Muhammad: "Akulah batu bata itu. Dan akulah penutup segala Nabi." (Ibnu Hajar Al-Asqalani: 43/14).
*Mahasiswa Filsafat Universitas Al-Azhar, Kairo (E-mail: religiusta@softhome.net)
Sumber: http://www.rumahdunia.net/wmview.php?ArtID=404&page=2
Jumat, 09 Januari 2009
Orde Baru Dalam Sorotan Media Massa
Judul : Pemikiran Sosial dan Politik Indonesia Periode 1965-1999
Editor : David Bourchier dan Vedi R. Hadis
Pengantar : Prof. Dr. Taufik Abdullah
Penerbit : Freedom Institute dan Grafiti Press, Jakarta
Tebal : xliv+432 hlm (termasuk indeks)
Cetakan : I, Oktober 2006
Yusriandi Pagarah
Orde Baru dengan aktor utamanya Soeharto yang didukung militer telah jadi ladang subur bagi para akademisi dan peneliti dari dalam dan luar negeri untuk ditilik dengan berbagai persfektif. Namun membaca situasi sosial dan politik pada masa Orde Baru yang bersumber dari tulisan-tulisan tersiar, pamflet mahasiswa, manifesto serikat buruh, selebaran gelap dan dokumen-dokumen pidato politik pejabat teras negara, langka dilakukan. Salah satu kerja-kerja intelektual yang termasuk langka tersebut adalah apa yang dilakukan David Bourchier, Ketua Asian Studies University of Western Australia, bersama koleganya Vedi R. Hadis dari Departement of Sosiology National University of Singapore dan fellow Asian Research Centre, Murdoch University, Australia.
Buku yang mencoba menggeledah batang tubuh Orde Baru dari masa awal lahirnya hingga masa kejatuhannya ini dibagi ke dalam empat bagian. Bagian pertama (1965-1973) memotret silang-sengketa dalam mencari format politik orde yang baru lahir. Di dalamnya terlihat pergulatan tiga mainstream utama. Pertama, kubu organis yang menginginkan format politik yang mengakomodir kemajemukan masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau, etnis, bahasa, budaya dan agama yang berbeda. Kubu ini mengusung ideologi Pancasila sebagai jalan tengah. Peran militer yang diwakili Soeharto, Ali Moertopo dan Abdulkadir Besar, tampak dominan (hlm. 41-67).
Kubu kedua mengusung pluralisme modern sebagai ideologi negara karena sesuai dengan era modern. Dimotori ilmuan sosial yang aktif menulis di Mahasiswa Indonesia, Abadi, Berita Yudha dan Kompas. Diantaranya Soelaiman Soemardi, A. Rahman Tolleng, Soemarno dan Arief Budiman. Mereka sangat kritis terhadap kebijakan Orde Baru dan mengkritik dwifungsi ABRI (hlm. 79-103). Kontestan terakhir berasal dari kubu Islam yang merasa berjasa menganyang komunis dan menurunkan rezim Soekarno tetapi dipinggirkan Orde Baru. Idham Chalid, Buya Hamka, Nurcholish Madjid dan M.S. Mintareja, kerap menyuarakan aspirasi umat Islam melalui tulisan mereka di Harian Kami, Panjimas, Tempo dan lain sebagainya. Dengan dalih stabilitas dan transisi serta dikuatkan Supersemar dan hegemoni ABRI, kubu organis keluar sebagai kampiun (hlm. 113-123).
Bagian kedua memaparkan masa keemasan Orde Baru (1973-1988). Berbekal kemenangan legitimasi politik dan institusional, kubu organis mampu mengendalikan situasi yang bergejolak hingga mencapai kejayaan. Pada masa tersebut Orde Baru kian menancapkan kuku-kuku kekuasaannya di bumi pertiwi dengan cara menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara, membuat undang-undang tentang keormasan, menyulap partai politik dalam tiga fusi, penataran P4 dan peraturan pemerintah yang bias lainnya (hlm. 132-1550). Pada masa ini telah muncul benih-benih mosi ketidakpercayaan terhadap pemerintah. Dari kalangan pluralis lahirlah buku putih mahasiswa ITB, Petisi 1950, dan kritik YLBHI pada pemerintah yang memasukan LSM/ NGO ke dalam ormas. Sementara tokoh-tokoh teras umat Islam seperti Hasbullah Bakry, Sjafruddin Prawiranegara dan Abdurrahman Wahid, dan organisasi kemahasiswaan semisal HMI, menarik dukungannya terhadap Orde Baru. Bahkan ada yang melawan Orde Baru seperti Amir Biki (hlm. 168-207).
Bagian ketiga mengulas aneka tema media di ujung kekuasaan Orde Baru (1990-1997). Sebagai titik balik dari kebijakan Orde Baru yang hegemonik-refresif, lahirlah berbagai LSM, serikat buruh dan gerakan mahasiswa. Beriringan dengan kritisisme para politisi dan akademisi, kritikus sosial dan PRD, yang menghendaki adanya perubahan sosial. Pada masa ini berkembanglah wacana keterbukaan politik, demokratisasi, otonomi daerah, dan agenda reformasi sosio-politik tanah air. Intervensi negara dan hegemoni militer dikritik, kebebasan berpendapat, penegakan hukum dan HAM ditagih. Tulisan-tulisan visioner Gus Dur, Dawam Rahardjo, Romo Mangun bahu membahu dengan lagu heroik Iwan Fals, puisi protes Rendra dan Wiji Thukul dalam menyuarakan timpangnya realitas sosial dan bengis penguasa.
Bagian keempat menguraikan krisis politik Orde Baru dan era reformasi. Didalamnya menyigi tulisan-tulisan Amien Rais di seputar isu suksesi 1998, pemulihan martabat bangsa yang digagas LIPI, mengakhiri kedikatoran yang diusung PRD, proposal pembentukan komite rakyat Indonesia oleh mahasiswa se-Jabodetabek, reformasi total Emil Salim, awal yang baru B.J. Habibie, paradigma baru militer yang diapungkan Agus Wirahadikusumah (hlm. 371-406).
Dilihat dari sisi mana saja, buku ini patut dipertimbangkan dan layak dibaca siapa saja, untuk menilai dan mengevaluasi sepak terjang rezim Orde Baru selama tiga puluh dua tahun memegang tampuk simpul kekuasaan. Apalagi buku ini menawarkan persfektif media massa dalam menggeledah batang tubuh Orde Baru.***
Editor : David Bourchier dan Vedi R. Hadis
Pengantar : Prof. Dr. Taufik Abdullah
Penerbit : Freedom Institute dan Grafiti Press, Jakarta
Tebal : xliv+432 hlm (termasuk indeks)
Cetakan : I, Oktober 2006
Yusriandi Pagarah
Orde Baru dengan aktor utamanya Soeharto yang didukung militer telah jadi ladang subur bagi para akademisi dan peneliti dari dalam dan luar negeri untuk ditilik dengan berbagai persfektif. Namun membaca situasi sosial dan politik pada masa Orde Baru yang bersumber dari tulisan-tulisan tersiar, pamflet mahasiswa, manifesto serikat buruh, selebaran gelap dan dokumen-dokumen pidato politik pejabat teras negara, langka dilakukan. Salah satu kerja-kerja intelektual yang termasuk langka tersebut adalah apa yang dilakukan David Bourchier, Ketua Asian Studies University of Western Australia, bersama koleganya Vedi R. Hadis dari Departement of Sosiology National University of Singapore dan fellow Asian Research Centre, Murdoch University, Australia.
Buku yang mencoba menggeledah batang tubuh Orde Baru dari masa awal lahirnya hingga masa kejatuhannya ini dibagi ke dalam empat bagian. Bagian pertama (1965-1973) memotret silang-sengketa dalam mencari format politik orde yang baru lahir. Di dalamnya terlihat pergulatan tiga mainstream utama. Pertama, kubu organis yang menginginkan format politik yang mengakomodir kemajemukan masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau, etnis, bahasa, budaya dan agama yang berbeda. Kubu ini mengusung ideologi Pancasila sebagai jalan tengah. Peran militer yang diwakili Soeharto, Ali Moertopo dan Abdulkadir Besar, tampak dominan (hlm. 41-67).
Kubu kedua mengusung pluralisme modern sebagai ideologi negara karena sesuai dengan era modern. Dimotori ilmuan sosial yang aktif menulis di Mahasiswa Indonesia, Abadi, Berita Yudha dan Kompas. Diantaranya Soelaiman Soemardi, A. Rahman Tolleng, Soemarno dan Arief Budiman. Mereka sangat kritis terhadap kebijakan Orde Baru dan mengkritik dwifungsi ABRI (hlm. 79-103). Kontestan terakhir berasal dari kubu Islam yang merasa berjasa menganyang komunis dan menurunkan rezim Soekarno tetapi dipinggirkan Orde Baru. Idham Chalid, Buya Hamka, Nurcholish Madjid dan M.S. Mintareja, kerap menyuarakan aspirasi umat Islam melalui tulisan mereka di Harian Kami, Panjimas, Tempo dan lain sebagainya. Dengan dalih stabilitas dan transisi serta dikuatkan Supersemar dan hegemoni ABRI, kubu organis keluar sebagai kampiun (hlm. 113-123).
Bagian kedua memaparkan masa keemasan Orde Baru (1973-1988). Berbekal kemenangan legitimasi politik dan institusional, kubu organis mampu mengendalikan situasi yang bergejolak hingga mencapai kejayaan. Pada masa tersebut Orde Baru kian menancapkan kuku-kuku kekuasaannya di bumi pertiwi dengan cara menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara, membuat undang-undang tentang keormasan, menyulap partai politik dalam tiga fusi, penataran P4 dan peraturan pemerintah yang bias lainnya (hlm. 132-1550). Pada masa ini telah muncul benih-benih mosi ketidakpercayaan terhadap pemerintah. Dari kalangan pluralis lahirlah buku putih mahasiswa ITB, Petisi 1950, dan kritik YLBHI pada pemerintah yang memasukan LSM/ NGO ke dalam ormas. Sementara tokoh-tokoh teras umat Islam seperti Hasbullah Bakry, Sjafruddin Prawiranegara dan Abdurrahman Wahid, dan organisasi kemahasiswaan semisal HMI, menarik dukungannya terhadap Orde Baru. Bahkan ada yang melawan Orde Baru seperti Amir Biki (hlm. 168-207).
Bagian ketiga mengulas aneka tema media di ujung kekuasaan Orde Baru (1990-1997). Sebagai titik balik dari kebijakan Orde Baru yang hegemonik-refresif, lahirlah berbagai LSM, serikat buruh dan gerakan mahasiswa. Beriringan dengan kritisisme para politisi dan akademisi, kritikus sosial dan PRD, yang menghendaki adanya perubahan sosial. Pada masa ini berkembanglah wacana keterbukaan politik, demokratisasi, otonomi daerah, dan agenda reformasi sosio-politik tanah air. Intervensi negara dan hegemoni militer dikritik, kebebasan berpendapat, penegakan hukum dan HAM ditagih. Tulisan-tulisan visioner Gus Dur, Dawam Rahardjo, Romo Mangun bahu membahu dengan lagu heroik Iwan Fals, puisi protes Rendra dan Wiji Thukul dalam menyuarakan timpangnya realitas sosial dan bengis penguasa.
Bagian keempat menguraikan krisis politik Orde Baru dan era reformasi. Didalamnya menyigi tulisan-tulisan Amien Rais di seputar isu suksesi 1998, pemulihan martabat bangsa yang digagas LIPI, mengakhiri kedikatoran yang diusung PRD, proposal pembentukan komite rakyat Indonesia oleh mahasiswa se-Jabodetabek, reformasi total Emil Salim, awal yang baru B.J. Habibie, paradigma baru militer yang diapungkan Agus Wirahadikusumah (hlm. 371-406).
Dilihat dari sisi mana saja, buku ini patut dipertimbangkan dan layak dibaca siapa saja, untuk menilai dan mengevaluasi sepak terjang rezim Orde Baru selama tiga puluh dua tahun memegang tampuk simpul kekuasaan. Apalagi buku ini menawarkan persfektif media massa dalam menggeledah batang tubuh Orde Baru.***
Ikhtiyar Menyebar Gagasan Yang Berserak
Judul : Napak Tilas Reformasi Politik Indonesia
Pengarang : Denny J.A., Ph. D.
Penyunting : Agus Sudibyo
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Cetakan I : Agustus 2006
Tebal : xiv-387 hlm (termasuk indeks)
Yusriandi Pagarah*
Banyak pihak yang pesimis terhadap proses demokratisasi politik di Indonesia. Apalagi menjelang pelaksanaan pemilihan presiden lansung untuk pertama kalinya digelar pada tahun 2004 silam. Keraguan tersebut bukannya tak beralasan. Banyaknya persoalan politik masa lalu yang belum tuntas dan bahkan belum tersentuh sama sekali, tantangan hari ini dan prediksi masa depan yang kian suram dan rumit, membuat berbagai kalangan semakin apatis. Kentalnya politik aliran, proses politik dan pendidikan politik yang belum dewasa, mengandalkan modal politik kharismatik, dan pemilih yang belum mandiri, merupakan sisi-sisi negatif lain dan bom waktu yang siap meledakan wajah Indonesia.
Tapi rakyat Indonesia menjawab semua keraguan tersebut dengan penyelenggaraan pemilu yang demokratis dan nyaris sempurna. Tak banyak insiden yang meminta korban berdarah dan tak banyak peristiwa pilu yang mencederai proses demokrasi. Semua elemen bangsa dan dunia internasional berdecak kagum. Mereka yang pernah pesimis pun ikut bergembira. Singkat kata, Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Yusuf Kalla dikukuhkan sebagai presiden dan wakil presiden RI pertama dalam pemilihan presiden langsung.
Denny J.A., pemegang 7 rekor MURI di bidang akademis, jurnalisme dan konsultan politik, serta doktor comparatic politics dari Ohio State University Amerika Serikat ini, dengan amat baiknya mencoba merekam perjalanan berliku menjelang pemilihan presiden lansung di Indonesia tahun 2004 silam. Sekali pun kumpulan tulisan ini merupakan transkrip dialog interaktif setiap Rabu pagi di Radio Delta F.M., namun dengan kapasitas Denny J.A. sebagai host dalam talkshow tersebut mampu memperkaya persfektif kita dalam membaca dan menganalisa berbagai fenomena politik mutakhir negeri ini. Menghadirkan narasumber yang berkompeten di bidangnya.
Buku ini menyuguhkan banyak hal kepada kita perihal jalan-jalan berliku menjelang pemilihan presiden lansung, yang barangkali belum seutuhnya terakomodasi dalam televisi dan media cetak. Buku yang terdiri dari enam bab ini dibuka dengan topik “Mahkamah Konstitusi: Sebuah Monster Baru”. Menghadirkan narasumber Sultoni dari Konsorsium Reformasi Hukum Nasional tersebut sangat cemas dengan wewenangan MK yang begitu luas. Sebagai lembaga yang lahir dari spirit reformasi untuk melakukan check and balance roda pemerintahan, namun dengan kekuasaan MK yang begitu luas berpotensi menyulut konflik bersambung. MK dapat membatalkan undang-undang, membubarkan partai politik, membatalkan hasil pemilu dan menurunkan presiden dan wakil presiden terpilih. Hingga tepat sekali mengukuhkan MK sebagai “monster baru” dalam perpolitikan Indonesia (hlm.5).
Di tempat lain dicatat bahwa momentum reformasi berhasrat membatasi kewenangan DPR dan sekaligus berhasrat mengoptimalkan fungsinya sebagai lembaga eksekutif. Sebagai lembaga eksekutif yang bertugas mengontrol kinerja pemerintah dan melakukan legislasi undang-undang. Namun siapakah yang berhak mengawasi kinerja eksekutif? Telah jadi rahasia umum bahwa lembaga DPR bersama lembaga kepresidenan merupakan lahan gambut bagi persemaian berbagai tumpangan kepentingan. Para anggota dewan pun terkenal suka imbas-imbis, seperti sering bolos rapat, calo anggaran dan santernya isu KKN. Untuk meminimalisir hal tersebut maka dibuatlah undang-undang tentang susunan dan kedudukan DPR atau UU Susduk DPR. Bahkan ada pihak yang mengusulkan pembentukan lembaga recalling—suatu mekanisme yang memberikan hak untuk memecat anggota DPR sebelum berakhir masa jabatannya. Recalling bisa saja berasal dari internal parpol sendiri dan bisa juga oleh Badan Kehormatan DPR (hlm. 19 dan 23).
Persoalan darah biru politik juga disorot secara menarik dalam buku ini. Yaitu mengenai pertarungan tiga putri Bung Karno jelang pemilu tahun 2004 lalu—Megawati dengan PDIP, Rahmawati dengan Partai Pelopor dan Sukmawati dengan PNI Marhaen. Menurut diskusi dan hasil polling SMS, ketiga putri Bung Karno tersebut lebih mengedepankan nama besar Bung Karno ketimbang mewakili anasir pikiran prisma Bung Karno sendiri (hlm. 67).
Calon presiden dari kalangan militer, konversi calon presiden dari partai Golkar, presiden versi SMS, good governance, dan kembalinya politikus hitam. Konflik internal partai politik jelang pemilu, konflik internal partai calon anggota DPR, konflik internal partai politik dalam penyaringan kepala daerah, serta potensi konflik kerusuhan dalam pemilu juga didedah secara kritis dan dari berbagai perspektif. Persoalan disintegrasi dan rekonsiliasi bangsa di Aceh, Poso, Papua serta konflik horizontal pada pelbagai daerah juga disorot dengan amat baiknya. Isu terorisme dan konflik global juga tak luput disorot (hlm. 159-204).
Bila selama ini intelektual kita diramaikan dengan terbitnya catatan harian seperti catatan harian Ahmad Wahib dan catatan harian Soe Hok Gie yang fenomenal. Bahkan yang disebut terakhir telah pula diangkat ke layar lebar. Kemudian diiringi dengan penerbitan surat-surat pribadi, semisal surat-surat politik Cak Nur dengan Mohammad Roem. Diikuti penerbitan ceramah-ceramah di kampus Jalaluddin Rachmat dan komentar-komentar Cak Nur mengenai berbagai persoalan aktual bangsa setelah shalat Jumat di Paramadina. Denny J.A. telah mempublikasikan dua buku hasil thalkshow-nya di Metro TV yang diterbitkan Pustaka Sinar Harapan Jakarta, masing-masing berlabel Election Wacth dan Parliament Wacth.
Penulis produktif ini kembali mempublikasikan dua buku sekaligus hasil dialog interaktif yang dipandunya di Radio Delta F.M. dan diterbitkan oleh LKiS Yogyakarta. Ditilik dari sisi mana saja, terobosan ini layak diapresiasi. Disamping sebagai bentuk penyatuan beragam gagasan berharga yang berserak, penerbitan dialog-dialog interaktif di radio ini juga merupakan ikhtiyar untuk mendokumentasikan dan memasifkan ide-ide bernas yang bersifat lisan ke dalam tradisi tulisan.[]
*Penikmat buku, bergiat pada Forum Kajiam Lereng Merapi (For Kalem) Yogyakarta.
Pengarang : Denny J.A., Ph. D.
Penyunting : Agus Sudibyo
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Cetakan I : Agustus 2006
Tebal : xiv-387 hlm (termasuk indeks)
Yusriandi Pagarah*
Banyak pihak yang pesimis terhadap proses demokratisasi politik di Indonesia. Apalagi menjelang pelaksanaan pemilihan presiden lansung untuk pertama kalinya digelar pada tahun 2004 silam. Keraguan tersebut bukannya tak beralasan. Banyaknya persoalan politik masa lalu yang belum tuntas dan bahkan belum tersentuh sama sekali, tantangan hari ini dan prediksi masa depan yang kian suram dan rumit, membuat berbagai kalangan semakin apatis. Kentalnya politik aliran, proses politik dan pendidikan politik yang belum dewasa, mengandalkan modal politik kharismatik, dan pemilih yang belum mandiri, merupakan sisi-sisi negatif lain dan bom waktu yang siap meledakan wajah Indonesia.
Tapi rakyat Indonesia menjawab semua keraguan tersebut dengan penyelenggaraan pemilu yang demokratis dan nyaris sempurna. Tak banyak insiden yang meminta korban berdarah dan tak banyak peristiwa pilu yang mencederai proses demokrasi. Semua elemen bangsa dan dunia internasional berdecak kagum. Mereka yang pernah pesimis pun ikut bergembira. Singkat kata, Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Yusuf Kalla dikukuhkan sebagai presiden dan wakil presiden RI pertama dalam pemilihan presiden langsung.
Denny J.A., pemegang 7 rekor MURI di bidang akademis, jurnalisme dan konsultan politik, serta doktor comparatic politics dari Ohio State University Amerika Serikat ini, dengan amat baiknya mencoba merekam perjalanan berliku menjelang pemilihan presiden lansung di Indonesia tahun 2004 silam. Sekali pun kumpulan tulisan ini merupakan transkrip dialog interaktif setiap Rabu pagi di Radio Delta F.M., namun dengan kapasitas Denny J.A. sebagai host dalam talkshow tersebut mampu memperkaya persfektif kita dalam membaca dan menganalisa berbagai fenomena politik mutakhir negeri ini. Menghadirkan narasumber yang berkompeten di bidangnya.
Buku ini menyuguhkan banyak hal kepada kita perihal jalan-jalan berliku menjelang pemilihan presiden lansung, yang barangkali belum seutuhnya terakomodasi dalam televisi dan media cetak. Buku yang terdiri dari enam bab ini dibuka dengan topik “Mahkamah Konstitusi: Sebuah Monster Baru”. Menghadirkan narasumber Sultoni dari Konsorsium Reformasi Hukum Nasional tersebut sangat cemas dengan wewenangan MK yang begitu luas. Sebagai lembaga yang lahir dari spirit reformasi untuk melakukan check and balance roda pemerintahan, namun dengan kekuasaan MK yang begitu luas berpotensi menyulut konflik bersambung. MK dapat membatalkan undang-undang, membubarkan partai politik, membatalkan hasil pemilu dan menurunkan presiden dan wakil presiden terpilih. Hingga tepat sekali mengukuhkan MK sebagai “monster baru” dalam perpolitikan Indonesia (hlm.5).
Di tempat lain dicatat bahwa momentum reformasi berhasrat membatasi kewenangan DPR dan sekaligus berhasrat mengoptimalkan fungsinya sebagai lembaga eksekutif. Sebagai lembaga eksekutif yang bertugas mengontrol kinerja pemerintah dan melakukan legislasi undang-undang. Namun siapakah yang berhak mengawasi kinerja eksekutif? Telah jadi rahasia umum bahwa lembaga DPR bersama lembaga kepresidenan merupakan lahan gambut bagi persemaian berbagai tumpangan kepentingan. Para anggota dewan pun terkenal suka imbas-imbis, seperti sering bolos rapat, calo anggaran dan santernya isu KKN. Untuk meminimalisir hal tersebut maka dibuatlah undang-undang tentang susunan dan kedudukan DPR atau UU Susduk DPR. Bahkan ada pihak yang mengusulkan pembentukan lembaga recalling—suatu mekanisme yang memberikan hak untuk memecat anggota DPR sebelum berakhir masa jabatannya. Recalling bisa saja berasal dari internal parpol sendiri dan bisa juga oleh Badan Kehormatan DPR (hlm. 19 dan 23).
Persoalan darah biru politik juga disorot secara menarik dalam buku ini. Yaitu mengenai pertarungan tiga putri Bung Karno jelang pemilu tahun 2004 lalu—Megawati dengan PDIP, Rahmawati dengan Partai Pelopor dan Sukmawati dengan PNI Marhaen. Menurut diskusi dan hasil polling SMS, ketiga putri Bung Karno tersebut lebih mengedepankan nama besar Bung Karno ketimbang mewakili anasir pikiran prisma Bung Karno sendiri (hlm. 67).
Calon presiden dari kalangan militer, konversi calon presiden dari partai Golkar, presiden versi SMS, good governance, dan kembalinya politikus hitam. Konflik internal partai politik jelang pemilu, konflik internal partai calon anggota DPR, konflik internal partai politik dalam penyaringan kepala daerah, serta potensi konflik kerusuhan dalam pemilu juga didedah secara kritis dan dari berbagai perspektif. Persoalan disintegrasi dan rekonsiliasi bangsa di Aceh, Poso, Papua serta konflik horizontal pada pelbagai daerah juga disorot dengan amat baiknya. Isu terorisme dan konflik global juga tak luput disorot (hlm. 159-204).
Bila selama ini intelektual kita diramaikan dengan terbitnya catatan harian seperti catatan harian Ahmad Wahib dan catatan harian Soe Hok Gie yang fenomenal. Bahkan yang disebut terakhir telah pula diangkat ke layar lebar. Kemudian diiringi dengan penerbitan surat-surat pribadi, semisal surat-surat politik Cak Nur dengan Mohammad Roem. Diikuti penerbitan ceramah-ceramah di kampus Jalaluddin Rachmat dan komentar-komentar Cak Nur mengenai berbagai persoalan aktual bangsa setelah shalat Jumat di Paramadina. Denny J.A. telah mempublikasikan dua buku hasil thalkshow-nya di Metro TV yang diterbitkan Pustaka Sinar Harapan Jakarta, masing-masing berlabel Election Wacth dan Parliament Wacth.
Penulis produktif ini kembali mempublikasikan dua buku sekaligus hasil dialog interaktif yang dipandunya di Radio Delta F.M. dan diterbitkan oleh LKiS Yogyakarta. Ditilik dari sisi mana saja, terobosan ini layak diapresiasi. Disamping sebagai bentuk penyatuan beragam gagasan berharga yang berserak, penerbitan dialog-dialog interaktif di radio ini juga merupakan ikhtiyar untuk mendokumentasikan dan memasifkan ide-ide bernas yang bersifat lisan ke dalam tradisi tulisan.[]
*Penikmat buku, bergiat pada Forum Kajiam Lereng Merapi (For Kalem) Yogyakarta.
Pak Koes, Buku Yang Selalu Terbuka…
Judul : Menebar Budi Menuai Sahabat: Mozaik Obituari Prof. Dr.
Koesnadi Hardjasoemantri, S.H., M.L.
Penulis : Emil Salim, dkk.
Editor : M. Nasruddin Anshory Ch & Ana Nadya Abrar
Penerbit : Yayasan Koesnadi Hardjasoemantri (YKH), Jakarta
Cetakan : I, Juli 2007
Tebal : xxxiv + 301 hlm.
Yusriandi Pagarah*
Pada pagi Rabu yang cerah tanggal 7 Maret 2007 silam, masyarakat Yogyakarta dan Indonesia dikejutkan dengan berita jatuhnya pesawat terbang Garuda, Boeing 737/400 dengan nomor penerbangan GA-200 rute Jakarta-Yogyakarta pada pukul 06.57 WIB. Peristiwa tersebut terjadi di kebun kacang, 300 meter di sisi timur landasan pacu Bandara Adisucipto Yogyakarta. Pesawat naas tersebut memuat 140 penumpang dengan rincian 133 penumpang, 5 awak kabin, ditambah seorang pilot dan seorang kopilot. Sebanyak 21 penumpang dipastikan tewas dalam musibah itu. Prof. Koesnadi Hardjasoemantri atau akrab dipanggil Pak Koes, dipastikan salah satu dari 21 korban yang hangus terbakar. Kepastian tersebut didapat sekitar pukul 23.30 WIB jelang tengah malam oleh Tim Forensik Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta melalui gigi yang dicocokkan dengan dokter gigi yang biasa merawatnya.
Pak Koes adalah pahlawan sejati. Kiprahnya dimulai sejak masa kolonial. Pak Koes muda telah mengangkat senjata dan bergerilya keluar-masuk hutan di sejumlah tempat di pedalaman Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah. Karena yakin dengan jalur pendidikan, pasca kemerdekaan Pak Koes muda meninggalkan barak tentara dan memilih melanjutkan studi hukum ke UGM. Sebagai orang yang berpikiran maju, ia tak malu menuntut ilmu ke Universitas Leiden Belanda, negeri penjajah yang pernah membuyarkan mimpi masa kecilnya. Di negeri Robin van Persie, bintang muda Arsenal FC itu, Pak Koes menyelesaikan magister dan doktor spesialisasi hukum lingkungan.
Di Kota Revolusi Yogyakarta, Pak Koes muda melahirkan ide cemerlang dan terorobosan alternatif untuk masa depan bangsa, akibat dicabik-cabik bangsa kolonial. Pada tahun 1951, Pak Koes muda mencetuskan ide tentang Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) sebagai duta perguruan tinggi. Proyek PTM ini kemudian hari berganti nama menjadi Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diadopsi seluruh perguruan tinggi di Indonesia, dan pernah dipimpinnya sampai tahun 1962. Karena kian surutnya jumlah mahasiswa daerah yang kuliah di PTN pulau Jawa, baik karena kalah bersaing, tidak punya biaya atau akses, Pak Koes mencetuskan program Penelusuran Bibit Unggul Daerah (PBUD). Hal ini mencerminkan bahwa pemerataan pendidikan itu perlu. Lebih dari itu, sesungguhnya Pak Koes ingin mengatakan bahwa “orang daerah” itu juga cerdas.
Pak Koes adalah humanis par exellent. Di manapun ia ditempatkan, tak pernah ia memangkas harapan siapapun, apalagi sampai meremehkan potensi seseorang. Sewaktu menjabat Kepala Direktorat Pendidikan Tinggi, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI di Den Haag, atau Sekretaris Menteri Lingkungan Hidup, banyak pihak yang terbantu karena kebaikan hatinya. Kala menjadi Rektor UGM, ia tak malu kampus yang megah itu dijejali pedagang kaki lima. Ia tak segan menemani mahasiswa berdemo, apalagi di zaman di mana orang pelat merah tabu turun ke jalan. Kantor dan juga rumahnya, selalu terbuka bagi siapa saja, asalkan lampu terasnya masih menyala. Ia bukan tipe birokrat berkomitmen aneh, selagi bisa dipersulit mengapa dipermudah. Ia jadi rebutan mahasiswa sebagai pembimbing skripsi, tesis, dan disertasi.
Benar, Pak Koes adalah sebuah buku yang selalu terbuka. Bahkan lebih dari itu, ia adalah sebuah diskursus. Selalu terbuka untuk ditafsir ulang dan dikembangkan. Prisma pemikiran cemerlangnya yang merentang dalam berbagai aspek dan dalam berbagai forum, perlu diimplementasikan. Betul, Akang Uus kebanggaan keluarga. Betul Prof. Koes kepunyaan UGM. Tapi sebagai buku yang selalu terbuka atau sebagai diskursus, Pak Koes adalah kepunyaan dan kebanggaan siapa saja. Disaat sentimen antar perguruan tinggi memuncak, sebagai orang UGM, ia tak “malu” mengelola magister hukum UI atau membimbing disertasi di UIN Yogyakarta. Ia pun bersedia mengelola Universitas Pancasila dan Institut Sains dan Teknologi Nasional Ckini Jakarta. Baginya membangun perguruan tinggi di daerah tandus dan miskin, seperti Universitas Gunung Kidul, tak jadi soal dan malahan perlu.
Kini, kenangan bersama “sang lumrah” bagi sesiapa saja yang bersimpati pada “dia” yang lahir pada tanggal 9 Desember 1929 di Manonjaya Tasikmalaya Jawa Barat ini, akan disimpan rapi dalam etalase memori. Mungkin usia 80 tahun serasa singkat bagi seorang Pak Koes. Karena itu sepanjang hidupnya tak ada celah yang terbuang sia-sia, apalagi jadi aib diri. Sebagai sebuah diskursus, meski telah berkubur di Sawitsari, prisma pemikiran Pak Koes layak dipertimbangkan dan dikutip. Sebagai sebuah buku yang selalu terbuka, penerbitan obituari dari kerabat, kolega, dan mantan mahasiswa untuk mengenang pencetak “sang diktator” ini, patut disyukuri. Karena sosoknya adalah teladan yang jarang dijumpai, apalagi sekat-sekat arogansi intelektual, sentimen kelompok, dan tekanan spesialisasi sedang memuncak. Dan, akan lebih baik lagi bila prisma pemikirannya diterapkan demi masa depan bangsa ini.
*Kulturalis, bergiat pada Forum Kajian Lereng Merapi (For KaLeM) Jogjakarta
Koesnadi Hardjasoemantri, S.H., M.L.
Penulis : Emil Salim, dkk.
Editor : M. Nasruddin Anshory Ch & Ana Nadya Abrar
Penerbit : Yayasan Koesnadi Hardjasoemantri (YKH), Jakarta
Cetakan : I, Juli 2007
Tebal : xxxiv + 301 hlm.
Yusriandi Pagarah*
Pada pagi Rabu yang cerah tanggal 7 Maret 2007 silam, masyarakat Yogyakarta dan Indonesia dikejutkan dengan berita jatuhnya pesawat terbang Garuda, Boeing 737/400 dengan nomor penerbangan GA-200 rute Jakarta-Yogyakarta pada pukul 06.57 WIB. Peristiwa tersebut terjadi di kebun kacang, 300 meter di sisi timur landasan pacu Bandara Adisucipto Yogyakarta. Pesawat naas tersebut memuat 140 penumpang dengan rincian 133 penumpang, 5 awak kabin, ditambah seorang pilot dan seorang kopilot. Sebanyak 21 penumpang dipastikan tewas dalam musibah itu. Prof. Koesnadi Hardjasoemantri atau akrab dipanggil Pak Koes, dipastikan salah satu dari 21 korban yang hangus terbakar. Kepastian tersebut didapat sekitar pukul 23.30 WIB jelang tengah malam oleh Tim Forensik Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta melalui gigi yang dicocokkan dengan dokter gigi yang biasa merawatnya.
Pak Koes adalah pahlawan sejati. Kiprahnya dimulai sejak masa kolonial. Pak Koes muda telah mengangkat senjata dan bergerilya keluar-masuk hutan di sejumlah tempat di pedalaman Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah. Karena yakin dengan jalur pendidikan, pasca kemerdekaan Pak Koes muda meninggalkan barak tentara dan memilih melanjutkan studi hukum ke UGM. Sebagai orang yang berpikiran maju, ia tak malu menuntut ilmu ke Universitas Leiden Belanda, negeri penjajah yang pernah membuyarkan mimpi masa kecilnya. Di negeri Robin van Persie, bintang muda Arsenal FC itu, Pak Koes menyelesaikan magister dan doktor spesialisasi hukum lingkungan.
Di Kota Revolusi Yogyakarta, Pak Koes muda melahirkan ide cemerlang dan terorobosan alternatif untuk masa depan bangsa, akibat dicabik-cabik bangsa kolonial. Pada tahun 1951, Pak Koes muda mencetuskan ide tentang Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) sebagai duta perguruan tinggi. Proyek PTM ini kemudian hari berganti nama menjadi Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diadopsi seluruh perguruan tinggi di Indonesia, dan pernah dipimpinnya sampai tahun 1962. Karena kian surutnya jumlah mahasiswa daerah yang kuliah di PTN pulau Jawa, baik karena kalah bersaing, tidak punya biaya atau akses, Pak Koes mencetuskan program Penelusuran Bibit Unggul Daerah (PBUD). Hal ini mencerminkan bahwa pemerataan pendidikan itu perlu. Lebih dari itu, sesungguhnya Pak Koes ingin mengatakan bahwa “orang daerah” itu juga cerdas.
Pak Koes adalah humanis par exellent. Di manapun ia ditempatkan, tak pernah ia memangkas harapan siapapun, apalagi sampai meremehkan potensi seseorang. Sewaktu menjabat Kepala Direktorat Pendidikan Tinggi, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI di Den Haag, atau Sekretaris Menteri Lingkungan Hidup, banyak pihak yang terbantu karena kebaikan hatinya. Kala menjadi Rektor UGM, ia tak malu kampus yang megah itu dijejali pedagang kaki lima. Ia tak segan menemani mahasiswa berdemo, apalagi di zaman di mana orang pelat merah tabu turun ke jalan. Kantor dan juga rumahnya, selalu terbuka bagi siapa saja, asalkan lampu terasnya masih menyala. Ia bukan tipe birokrat berkomitmen aneh, selagi bisa dipersulit mengapa dipermudah. Ia jadi rebutan mahasiswa sebagai pembimbing skripsi, tesis, dan disertasi.
Benar, Pak Koes adalah sebuah buku yang selalu terbuka. Bahkan lebih dari itu, ia adalah sebuah diskursus. Selalu terbuka untuk ditafsir ulang dan dikembangkan. Prisma pemikiran cemerlangnya yang merentang dalam berbagai aspek dan dalam berbagai forum, perlu diimplementasikan. Betul, Akang Uus kebanggaan keluarga. Betul Prof. Koes kepunyaan UGM. Tapi sebagai buku yang selalu terbuka atau sebagai diskursus, Pak Koes adalah kepunyaan dan kebanggaan siapa saja. Disaat sentimen antar perguruan tinggi memuncak, sebagai orang UGM, ia tak “malu” mengelola magister hukum UI atau membimbing disertasi di UIN Yogyakarta. Ia pun bersedia mengelola Universitas Pancasila dan Institut Sains dan Teknologi Nasional Ckini Jakarta. Baginya membangun perguruan tinggi di daerah tandus dan miskin, seperti Universitas Gunung Kidul, tak jadi soal dan malahan perlu.
Kini, kenangan bersama “sang lumrah” bagi sesiapa saja yang bersimpati pada “dia” yang lahir pada tanggal 9 Desember 1929 di Manonjaya Tasikmalaya Jawa Barat ini, akan disimpan rapi dalam etalase memori. Mungkin usia 80 tahun serasa singkat bagi seorang Pak Koes. Karena itu sepanjang hidupnya tak ada celah yang terbuang sia-sia, apalagi jadi aib diri. Sebagai sebuah diskursus, meski telah berkubur di Sawitsari, prisma pemikiran Pak Koes layak dipertimbangkan dan dikutip. Sebagai sebuah buku yang selalu terbuka, penerbitan obituari dari kerabat, kolega, dan mantan mahasiswa untuk mengenang pencetak “sang diktator” ini, patut disyukuri. Karena sosoknya adalah teladan yang jarang dijumpai, apalagi sekat-sekat arogansi intelektual, sentimen kelompok, dan tekanan spesialisasi sedang memuncak. Dan, akan lebih baik lagi bila prisma pemikirannya diterapkan demi masa depan bangsa ini.
*Kulturalis, bergiat pada Forum Kajian Lereng Merapi (For KaLeM) Jogjakarta
Gagasan Masyarakat Kitab
Yusriandi Pagarah*
Belakangan ini kita “dimanjakan” oleh berbagai tindak kekerasan dan praktik anarkisme di berbagai lini dengan beraneka motif dan modus operandi. Seakan-akan berbagai laku kriminalitas di negeri ini ada berkarung-karung dan berlapis-lapis.
Pengamalan agama atau tafsiran kitab suci yang bias diklaim sebagai pemicu beragam komplik itu. Agama dijadikan “tersangka”, dan dalam hitungan menit sebagai “terdakwa” akibat ulah pembelanya yang berwawasan sempit dan ingin benar sendiri.
Pluralisme sebagai Keniscayaan
Adalah suatu kenyataan historis yang tidak dapat disangkal bahwa bumi manusia hanya satu, sementara penghuninya terkotakan dalam berbagai suku, agama, ras, bangsa, profesi, golongan dan budaya. Membayangkan agar dalam kehidupan ini hanya terdapat satu agama, tampaknya hanya ilusi semata. Yang dibutuhkan manusia bukanlah menjadi satu dan sama dalam hal agama, tapi bagaimana menyikapi pluralitas agama dan keyakinan secara dewasa dan cerdas. Mengakui pluralisme berbanding lurus dengan sikap inklusivisme. Memandang penganut agama lain sebagai teman atau tetangga, bahkan sebagai saudara. Dari sini akan tampil interaksi sosial antaragama, keyakinan dan ideologi yang harmonis. (Ruslani, 2000: 20-21)
Dialog sangat dibutuhkan di tengah pluralisme. Dalam konteks pluralisme agama, pluralisme berkait-kelindan dengan keragaman kebertuhanan dan keyakinan, dengan menampilkan pluralisme budaya sebagai latar belakang yang menjadi basis pemahaman. (M.W. Nafis, 1998: 92). Dialog yang dialogis akan meumbuhlkan sikap terbuka dalam beragama, ramah dalam perbedaan. Juga akan mengikis mentalitas ingin benar sendiri dan bersigegas menghakimi orang lain.
Menarik sesungguhnya metafor “pintu-pintu menuju Tuhan” yang digagas almarhum Cak Nur. Sesungguhnya kita berasal dan menuju tempat yang sama, yaitu Tuhan. Jalan dan cara ke sana yang membedakan kita. Dalam persfektif filsafat ilmu Imrẻ Lakatos, Tuhan adalah hard care yang sama, sedangkan jalan dan cara mencari Tuhan yang berbeda-beda sebagai protective belt-nya.
Menuju Masyarakat Kitab
Definisi kawan dan lawan tampaknya ada dalam tradisi setiap agama, dan biasanya ditentukan secara etis, bahkan politis. Dalam agama Islam misalnya, banyak istilah teknis yang dipakai untuk mengidentifikasi diri dan orang lain dalam oposisi biner yang harus dievaluasi, seperti islam-kafir, iman-murtad, ahl al-zimmi-ahl al-harb. Dalam konteks dialog antaragama, istilah Ahl Al-Kitab sering dijadikan titik berangkat sekaligus titik fokus.
Ada beberapa masalah dalam membahas Ahl Al-Kitab sebagai kelompok agama kontemporer yang dianggap sama dengan yang dimaksud al-Qur’an. Posisi al-Qur’an terhadap Ahl Al-Kitab, bahkan pengertian siapa yang dimaksud dengan term tersebut, berkembang dalam beberapa fase. Memang ada kesepakatan bahwa istilah ini selalu ditujukan kepada kaum Yahudi dan Nasrani yang ditemui Nabi selama misi kenabiannya. Al-Qur’an pada dasarnya hanya menyinggung keyakinan dan prilaku kaum Ahl Al-Kitab yang benar-benar mengalami kontak sosial dengan Muslim awal. Sementara itu, menyamakan begitu saja kategori al-Qur’an tentang Ahl Al-Kitab dengan kaum Yahudi dan Nasrani dalam masyarakat kontemporer berarti mengabaikan realitas historis masyarakat Madinah, serta perbedaan teologis antara kaum Yahudi dan Nasrani dulu dan sekarang. (F. Esack, 2000: 198)
Namun pada dasarnya, bila ditelusuri lebih jauh lagi, pembicaraan al-Qur’an tentang Ahl Al-Kitab sangat apresiatif. Bahkan peringatan dan kecaman kepada mereka masih mengindikasikan adanya uluran tangan. Permusuhan bukan karena faktor agama, tapi lebih pada sikap eksklusif, gugusan ekonomi, dan kepentingan politik praktis. (M. Ghalib, 1998: 188-9)
Sementara itu, Mohammed Arkoun—pemikir Islam terkemuka kelahiran Aljazair yang menjadi guru besar di Universitas Sarbone Prancis—memberi pemaknaan yang lebih segar tentang term Ahl Al-Kitab, yaitu Masyarakat Kitab. Arkoun (1994) ingin keluar dari polemis dan belitan teologis yang bias. Juga ingin melampaui, passing over, pembacaan konvensional untuk mengintegrasikan berbagai aspek tradisi, tingkat realitas, metode analisis, dan cakrawala pengetahuan yang dipengaruhi paham positivisme dan terkurung oleh nalar modern yang rasis.
Ketika membicarakan Masyarakat Kitab, Arkoun menggunakan metode historis dan antropologis mengenai wahyu yang memunculkan tiga tradisi agama Semit atau Abrahamic Religions, Yahudi, Kristen dan Islam. Kedua metode itu melahirkan pemahaman baru tentang setting sejarah munculnya kitab suci dalam agama-agama wahyu. Bagi Arkoun, agama berada di tengah masyarakat dan dalam sejarah manusia, bukan di atasnya. (Ruslani, 2000: 121) Lebih jauh pembacaan Arkoun tentang Ahl Al-Kitab berimplikasi untuk mengakui komunitas agama non-Semitik Suatu tawaran yang tidak hanya bernas dan relevan dengan perkembangan zaman, tapi juga harus dikembangkan dalam tataran praksis. Agar pesan damai dan fungsi agama untuk menenangkan hati dan pikiran manusia benar-benar hadir di tengah-tengah realitas sosial masyarakat.
*Kulturalis, bergiat pada Komunitas Perairan Wacana Jogjakarta.
Opini, Bali Pos, Desember 2005
Belakangan ini kita “dimanjakan” oleh berbagai tindak kekerasan dan praktik anarkisme di berbagai lini dengan beraneka motif dan modus operandi. Seakan-akan berbagai laku kriminalitas di negeri ini ada berkarung-karung dan berlapis-lapis.
Pengamalan agama atau tafsiran kitab suci yang bias diklaim sebagai pemicu beragam komplik itu. Agama dijadikan “tersangka”, dan dalam hitungan menit sebagai “terdakwa” akibat ulah pembelanya yang berwawasan sempit dan ingin benar sendiri.
Pluralisme sebagai Keniscayaan
Adalah suatu kenyataan historis yang tidak dapat disangkal bahwa bumi manusia hanya satu, sementara penghuninya terkotakan dalam berbagai suku, agama, ras, bangsa, profesi, golongan dan budaya. Membayangkan agar dalam kehidupan ini hanya terdapat satu agama, tampaknya hanya ilusi semata. Yang dibutuhkan manusia bukanlah menjadi satu dan sama dalam hal agama, tapi bagaimana menyikapi pluralitas agama dan keyakinan secara dewasa dan cerdas. Mengakui pluralisme berbanding lurus dengan sikap inklusivisme. Memandang penganut agama lain sebagai teman atau tetangga, bahkan sebagai saudara. Dari sini akan tampil interaksi sosial antaragama, keyakinan dan ideologi yang harmonis. (Ruslani, 2000: 20-21)
Dialog sangat dibutuhkan di tengah pluralisme. Dalam konteks pluralisme agama, pluralisme berkait-kelindan dengan keragaman kebertuhanan dan keyakinan, dengan menampilkan pluralisme budaya sebagai latar belakang yang menjadi basis pemahaman. (M.W. Nafis, 1998: 92). Dialog yang dialogis akan meumbuhlkan sikap terbuka dalam beragama, ramah dalam perbedaan. Juga akan mengikis mentalitas ingin benar sendiri dan bersigegas menghakimi orang lain.
Menarik sesungguhnya metafor “pintu-pintu menuju Tuhan” yang digagas almarhum Cak Nur. Sesungguhnya kita berasal dan menuju tempat yang sama, yaitu Tuhan. Jalan dan cara ke sana yang membedakan kita. Dalam persfektif filsafat ilmu Imrẻ Lakatos, Tuhan adalah hard care yang sama, sedangkan jalan dan cara mencari Tuhan yang berbeda-beda sebagai protective belt-nya.
Menuju Masyarakat Kitab
Definisi kawan dan lawan tampaknya ada dalam tradisi setiap agama, dan biasanya ditentukan secara etis, bahkan politis. Dalam agama Islam misalnya, banyak istilah teknis yang dipakai untuk mengidentifikasi diri dan orang lain dalam oposisi biner yang harus dievaluasi, seperti islam-kafir, iman-murtad, ahl al-zimmi-ahl al-harb. Dalam konteks dialog antaragama, istilah Ahl Al-Kitab sering dijadikan titik berangkat sekaligus titik fokus.
Ada beberapa masalah dalam membahas Ahl Al-Kitab sebagai kelompok agama kontemporer yang dianggap sama dengan yang dimaksud al-Qur’an. Posisi al-Qur’an terhadap Ahl Al-Kitab, bahkan pengertian siapa yang dimaksud dengan term tersebut, berkembang dalam beberapa fase. Memang ada kesepakatan bahwa istilah ini selalu ditujukan kepada kaum Yahudi dan Nasrani yang ditemui Nabi selama misi kenabiannya. Al-Qur’an pada dasarnya hanya menyinggung keyakinan dan prilaku kaum Ahl Al-Kitab yang benar-benar mengalami kontak sosial dengan Muslim awal. Sementara itu, menyamakan begitu saja kategori al-Qur’an tentang Ahl Al-Kitab dengan kaum Yahudi dan Nasrani dalam masyarakat kontemporer berarti mengabaikan realitas historis masyarakat Madinah, serta perbedaan teologis antara kaum Yahudi dan Nasrani dulu dan sekarang. (F. Esack, 2000: 198)
Namun pada dasarnya, bila ditelusuri lebih jauh lagi, pembicaraan al-Qur’an tentang Ahl Al-Kitab sangat apresiatif. Bahkan peringatan dan kecaman kepada mereka masih mengindikasikan adanya uluran tangan. Permusuhan bukan karena faktor agama, tapi lebih pada sikap eksklusif, gugusan ekonomi, dan kepentingan politik praktis. (M. Ghalib, 1998: 188-9)
Sementara itu, Mohammed Arkoun—pemikir Islam terkemuka kelahiran Aljazair yang menjadi guru besar di Universitas Sarbone Prancis—memberi pemaknaan yang lebih segar tentang term Ahl Al-Kitab, yaitu Masyarakat Kitab. Arkoun (1994) ingin keluar dari polemis dan belitan teologis yang bias. Juga ingin melampaui, passing over, pembacaan konvensional untuk mengintegrasikan berbagai aspek tradisi, tingkat realitas, metode analisis, dan cakrawala pengetahuan yang dipengaruhi paham positivisme dan terkurung oleh nalar modern yang rasis.
Ketika membicarakan Masyarakat Kitab, Arkoun menggunakan metode historis dan antropologis mengenai wahyu yang memunculkan tiga tradisi agama Semit atau Abrahamic Religions, Yahudi, Kristen dan Islam. Kedua metode itu melahirkan pemahaman baru tentang setting sejarah munculnya kitab suci dalam agama-agama wahyu. Bagi Arkoun, agama berada di tengah masyarakat dan dalam sejarah manusia, bukan di atasnya. (Ruslani, 2000: 121) Lebih jauh pembacaan Arkoun tentang Ahl Al-Kitab berimplikasi untuk mengakui komunitas agama non-Semitik Suatu tawaran yang tidak hanya bernas dan relevan dengan perkembangan zaman, tapi juga harus dikembangkan dalam tataran praksis. Agar pesan damai dan fungsi agama untuk menenangkan hati dan pikiran manusia benar-benar hadir di tengah-tengah realitas sosial masyarakat.
*Kulturalis, bergiat pada Komunitas Perairan Wacana Jogjakarta.
Opini, Bali Pos, Desember 2005
Langganan:
Postingan (Atom)
